SOSOK - TENGKU MALINDA: "MENIKAH TAK SENGAJA"
TENGKU Malinda, ibu dua anak, (waktu itu) akan berulang
tahun pas Pemilu 1992 nantinya. Penyiar TVRI, khususnya program English News
Service, yang lahir di Jakarta, 9 Juni 1961 ini memulai percakapan dengan kalimat,
“Apa sih yang menarik dari saya? Kayaknya nggak ada deh.” Namun begitu, ia
tetap bercerita tentang masa kecil yang dilewatinya di negeri jiran, Malaysia.
Tentang ayahnya yang Melayu tulen dan begitu keras mengarahkannya agar bisa hidup mandiri. Tentang perubahan sikapnya yang semula pendiam dan serius. Tentang pertemuannya dengan sang suami, dan keheranannya saat tubuhnya melar ketika pertama kali hamil. Itu yang berkaitan dengan kehidupan pribadinya.
Lalu, yang menyangkut karier dan profesi? Bagai iklan Lingkaran Biru di televisi (TPI, RCTI, SCTV-red), ia mencoba mengelak, “Jangan, ah….” Ah, Linda memang berusaha tak menonjolkan diri. Sebab, “Di sini (TVRI maksudnya-red), hal-hal seperti itu sangat sensitif. Saya paling ngeri jadi bahan gunjingan orang,” katanya.
Lahir dari hasil “kerja bareng” Tengku Umar Mahdar dan Mahani, ayah dan ibunya, Linda langsung cabut ke Malaysia ikut orangtua. Saat itu, umurnya baru 2 tahun. Balik ke Indonesia, tak terasa usianya saat itu telah 15 tahun. Ketika tahun 1981 ia tercatat sebagai mahasiswi fakultas sastra Inggris Universitas Indonesia, mulailah Linda berusaha mandiri. “Saya mulai belajar memberi les bahasa Inggris,” katanya.
Kala itu, menurutnya, ia adalah seorang gadis serius yang hampir tak pernah kenal hura-hura. Bahkan untuk kegiatan senat mahasiswa pun, ia tak pernah mau tahu. “Kehidupan saya di kampus, tak jauh dari buku dan perpustakaan.”
Tapi ketika suatu saat ia bertemu dengan Sudirman Aris, dokter jebolan UNS Solo yang tengah meneruskan S2nya di UI, Linda tak bisa mengelak untuk segera mengakhiri masa gadisnya. “Saya cuma pacaran 6 bulan, itulah makanya, saya bilang, perkawinan saya kayaknya diawali dengan ketidaksengajaan,” tuturnya.
TAHUN 1984, setahun setelah menikah, Linda mencoba melamar ke TVRI sebagai reporter. Saking asyiknya ia bekerja, kuliahnya tertinggal 1 tahun. Namun, keasyikannya bekerja, ternyata tak sia-sia. Tahun 1987, ia ditugaskan sebagai pembaca berita berbahasa Inggris (English News Service di TVRI saluran 8 Jakarta, sejak April 1989 berubah jadi TVRI Programa 2-red), sampai bacaan ini dimuat Citra (1992-red).
Menjalani tugas dan selalu mencari ‘strong poitn’ mengembangkan kemampuan, itulah prinsip Linda dalam meniti karier. Satu titik yang telah behasil ditemukannya, yakni kemampuan mencipta lirik lagu.
I’m Sorry For Everything, lagu yang dibawakan Utha Likumahuwa dalam Festival Asia Pacific Broadcasting Union (ABU) dan menyabet gelar lagu terbaik ke-3, merupakan lirik lagu ciptaannya yang pertama. Lirik lagunya yang kedua, I’m Yours Forever (versi Inggris dari Harus Kumiliki karya Youngky Suwarno/Yuke NS-red), dikumandangkan Ruth Sahanaya dan Trio Libels dalam Tokyo Music Festival, Februari 1992 lalu.
Dan Juni 1992 ini, Say You’ll Always Be Mine lirik ciptaan Linda hasil adaptasi lagu Kaulah Segalanya (karya Tito Sumarsono-red), waktu itu – kembali akan dibawakan Ruth Sahanaya pada Midnight Sun Song Festival di Finlandia. “Yang pertama saya lakukan untuk membuat lirik adalah mendengarkan melodinya,” ujar Linda. Uniknya, Linda selalu merasa kesulitan dalam memberi judul lirik yang diciptakannya itu.
Adakah suaminya ikut sumbang saran dalam proses penciptaan itu? “Nggak, suami saya sibuk ngurusin pasien. Tapi yang pertama kali hafal dengan lagu saya, tentu saja orang-orang rumah,” jawab Linda. Dan jarum jam telah menunjukkan pukul 21.30, sementara wajah Linda makin kuyu dan lesu. Itulah tanda ia perlu istirahat. (Pihak Citra waktu itu mengucapkan) selamat malam Linda, obrolan ‘stop’!
Ditulis oleh: Tubagus Udhi Mashudi
Alamat Tengku Malinda (waktu itu):
Jln. Gotong Royong no. 5
Cipete Blok A – Jakarta Selatan
Dok. Citra – No. 114/III/3-9 Juni 1992, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar