SOSOK - SEGUDANG HADIAH UNTUK DESSY FITRI

 
CIPTA PESONA BINTANG (RCTI/SCTV) episode ke-24 berakhir. ‘Grand-final’ pun (waktu itu) telah menghasilkan seorang juara. Dessy Fitri namanya, menyabet hadiah Rp 15 juta. Bersaing untuk menyisihkan 10 finalis bagi Dessy Fitri bukanlah hal yang berat.

Sejak awal keikutsertaannya, di episode ke-15 dan menjadi juara 1, sudah banyak yang meramal Dessy bakal menggondol hadiah utama tersebut. Dan rasanya sah saja, karena Dessy Fitri dikenal sebagai penyanyi dengan segudang pengalaman di festival.

“Saya memang maniak festival. Setiap kali ada festival nyanyi, saya harus ikut,” akunya. Ramalan penonton memang tepat. Dengan membawakan lagu milik Mariah Carey, Love Takes Time, suaranya nyaris mirip dengan kasetnya.

Lengkingan tinggi, ambitus cukup lebar, menyebabkan Dessy mampu menyanyikan lagu dengan nada rendah maupun tinggi. Di babak penyisihan ia membawakan lagu To Be Around U-nya Mariah Carey, dan menggondol juara pertama dengan TV 20 inci sebagai hadiahnya. “Saya memang getol dengan lagu-lagunya Mariah Carey,” ujar gadis (era itu) yang mengambil cuti kuliahnya ini.

Tinggi badan yang sekitar 100 cm tak membuat Dessy rendah diri. Sifat tersebut sudah ditanamkan ibunya sejak kecil. “Kelebihan suara Dessy itulah yang menjadikan saya bersemangat mendorongnya untuk maju,” jelas nyonya Ismar Ramsi Siregar.

Menurut ibu Dessy ini, cacat yang diderita Dessy bukan cacat kandungan, melainkan karena sakit yang pernah diderita di usia 5 tahun. Kondisi kakinya yang lemah kadang mengganggu penampilannya, seperti misalnya di acara Cipta Pesona Bintang, Dessy menyanyi dengan dibantu ‘mic’-standar sebagai pegangan. Dessy mengaku tidak kuat berlama-lama berdiri tanpa pegangan.

 

Karena suara bagus, Dessy Fitri tidak minder 

“SAYA pun yakin kalau saya punya kelebihan lainnya. Itu sebabnya saya tidak merasa rendah diri,” jelas penggemar ‘fried chicken’, es krim, dan asinan ini. Kondisi tubuhnya yang sering menimbulkan belas kasihan orang ternyata malah membangkitkan semangatnya untuk mandiri.

Buktinya, begitu selesai Cipta Pesona Bintang, malam itu juga Dessy menuju Bandung mengisi paket Pesona Bintang, TVRI Bandung, tanpa disertai ibunya. Soal festival-mania, Dessy pernah membuktikannya dengan menang 24 kali di berbagai festival.

Hadiah pun (belakangan itu) menumpuk. Sebut saja 15 juta rupiah tadi. Sebelumnya Festival Pioneer Laser Disc 1992 tingkat nasional. Dari sini, Dessy berangkat ke Jepang mewakili Indonesia untuk festival yang sama. Dan hasilnya, Dessy menggondol juara pertama dengan Rp 15 juta pula sebagai hadiahnya.

Bersama Khatulistiwa, ia menyabet juara kedua di Tokyo Band Explosion, dengan 5 juta rupiah sebagai hadiahnya. Belum lagi juara I Light Vocal Contest National 1990, penyanyi terbaik Band Explosion tingkat nasional 1990. Dan daftar panjang lainnya.

Di usianya yang hampir 22 tahun, 1992 (lahir 9 Desember 1970). Dessy Fitri berjanji (waktu itu) tidak akan berhenti sampai di sini saja. Masih banyak festival yang (waktu itu) harus dia ikuti. Di bawah bimbingan Elfa Secioria, bekas anak didik Anton Issoedibyo dan Geronimo ini memantapkan vokalnya.

Dan kuliahnya di Akademi Bahasa Asing (ABA) Jakarta, meskipun sempat terhenti, ternyata banyak membawa manfaat. “Dia telah mencipta beberapa lagu dalam bahasa Inggris. Dan semua dicobanya mengaransir sendiri lagunya,” jelas ibunya. Rencananya (waktu itu) disiapkan kalau sewaktu-waktu Dessy memasuki jalur rekaman.

Ditulis oleh: Aris Muda Irawan

Dok. Citra – No. 121/III/22-28 Juli 1992, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer