SOSOK - MONICA OEMARDI: "INGIN BERTOBAT UNTUK HIDUPNYA YANG BIASA SAJA"
SEPERTINYA sudah suratan takdir. Monica Oemardi yang
berdarah Cekoslowkaia, mednapat julukan macam-macam. Gadis bule-lah, cewek
dengan kehidupan bebaslah, dan seabrek sebutan lainnya. Apalagi secara
kebetulan, gadis (era itu) bertinggi badan 170 dan berat 50 ini menyandang
predikat bintang film. Embel-embel tersebut seakan memperkuat ‘image’ itu.
“Orang sering bilang saya ini bule. Dikiranya saya ini hidup bebas. Padahal saya sendiri tidak pernah mengalami hidup seperti itu. Biasa saja seperti kebanyakan orang di sini.” Petuah ini tak bisa lepas dari perhatian Vera Grossova, ibunya yang berdarah Ceko itu. Konon, ibunya sering mengingatkan agar ia bisa berbaur dengan budaya Indonesia.
“Kamu ini hidup di Indonesia, bukan di Cekoslowakia,” tiru Moniq, panggilan akrabnya, tanpa menjelaskan gaya hidup orang sana. “Iyalah saya coba sedikit-sedikit,” jelas gadis (era itu) yang mengaku (saat itu) hanya setahun sekali ke Ceko itu. Meski hdiup di dua budaya yang berbeda, ia mengaku dua sifat dasar orangtuanya telah menyatu dengan dirinnya. Soal hidup misalnya, ia lebih banyak meniru gaya Oemardi, ayahnya yang kelahiran Blitar, Jawa Timur.
“Ayah selalu menanamkan nilai-nilai nerimo dalam hidup ini,” tutur siswi SMA kelas III (era itu) ini. Sedangkan ibunya selalu menanamkan nilai-nilai kemandirian. Makanya, Moniq tidak menolak gagasan dan tawaran untuk menjadi model dan foto kalender.
“Semua saya lakukan untuk belajar menghadapi hidup,” tutur gadis (era itu) yang bercita-cita menjadi sarjana, sambil mengatakan, hidup ini bagai gelombang lautan. Meski ia (saat itu) sudah merencanakan masa depannya, tapi finalis ‘covergirl’ MODE 1989 ini mengaku tak mau mikir soal hidup. “Hidup ini sudah susah, ngapain harus dipikirin? Bisa-bisa saya stres terus.”
WALAU gadis (era itu) kelahiran Jakarta, 16 Juni 1974, mengaku sudah menyatu dengan budaya Indonesia, tapi lihat saja peran ibu guru dalam sinetron TPI (Televisi Pendidikan Indonesia), Delima.
“Eh, ternyata menjadi guru itu susah. Saya hampir saja gagal memerankan adegan itu.” Ia bilang, “Bagaimana saya harus mampu memecahkan persoalan orang lain, sementara saya sendiri belum bisa memecahkan masalah saya sendiri? Bagaimana saya harus mendidik anak orang lain? Sementara saya sendiri belum punya anak.”
Dari peran itu, kadang Moniq membayangkan betapa mulianya jasa seorang guru. “Kok maunya dengan gaji yang pas-pasan seseorang mau memberikan ilmunya kepada anak orang lain?” Gara-gara peran itu, Moniq takut diidolakan sebagai gadis yang baik-baik saja, yang sudah dewasa (waktu itu). Lho, kenapa takut?
“Iyalah, itu khan hanya di film. Selepas itu, saya ya Moniq biasa yang masih ingusan dan ingin hidup layaknya remaja kota,” tutur gadis (era itu) yang (kala itu) dua kali sebulan pergi ke disko ini. Tapi sebenarnya, kekhawatiran itu tak perlu muncul. Khan teman-teman kamu tak ada yang tertarik dengan peran itu.
“Iya lho, teman-teman ngeledekin saya. Sekolah saja belum beres. Eh, sok jadi guru segala!” Hampir semua guru pun ikut nimbrung. “Hai bu guru, apa kabar?,” tirunya. Tapi gara-gara sinetron itu pula, Moniq bisa melihat secara langsung kehidupan orang-orang desa, “Kasihan lho mereka itu. Sudah di desa, miskin lagi!”
PENGGEMAR warna hitam, putih, dan ungu ini mengaku tak punya cita-cita jadi bintang film. Malahan dulunya (jauh sebelum 90an-red) ia sangat benci untuk masuk ke alam seni ini. “Nggak tahu. Kayaknya capek dan banyak waktu yang terbuang,” tutur gadis (era itu) yang tidak punya trah seniman ini. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa tiba-tiba memasuki dunia yang tidak disukainya.
Maklum saja, karena waktu itu, Moniq masih 15 atau 16 tahun. 1992, ia justru tidak bisa lepas dari dunia ini, dunia yang memberinya kebebasan. “Saya seneng banget, ramai-ramai kumpul sama orang yang sama-sama gilanya,” tutur peraih juara II lomba wajah Indo itu. Gila bagaimana maksudnya? “Ah, nggak tahu ah! Yang jelas di situ saya menemukan kebahagiaan dan kepuasan.”
Dari dunia ini pula, Moniq telah menemukan ari cinta. Menurutnya, cinta itu indah, suci, dan tak etis untuk dibuat mainan. Ia berangapan masa indah itu hanya sekali dalam hidup ini. Apa semua ini pernah ditemukan dan dirasakan? “Nggak tahu. Mungkin sekarang-sekarang (1992-red) ini,” tutur gadis (era itu) yang pernah membintangi film Boleh-Boleh Saja, Pendekar Cabe Rawit, Putri Kembang Dadar, dan Cinta Dalam Sepotong Roti itu (waktu itu).
Baginya, percintaan Moniq kali ini lain dari biasanya. “Rasanya bagaimana, gitu?” Bahkan menurutnya, lantaran cowok itu pula, 1992, Moniq siap mengubur gaya hidup yang gila-gilaan. “Saya tobat, saya siap mengarungi hidup yang benar-benar baru.” Lho, kata kamu, hidup biasa saja, kenapa mesti ditobati? Jangan-jangan, yang biasa saja berarti dosa, Monica.
Ditulis oleh: Abdul Halim Hasan
Alamat Monica Oemardi (waktu itu):
Jln. Damai/Petukangan Indah Blok A No. 2
Kebayoran Lama
Jakarta Selatan
Dok. Citra – No. 114/III/3-9 Juni 1992, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar