SINETRON - TAJUK YANG TAK TERLAMPAU MENUSUK (TPI - SENIN, MULAI 17 FEBRUARI 1997 Pkl: 19.30 WIB)
MULAI 17 Februari 1997, TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) – waktu itu – akan memutar sinetron seri Tajuk yang terdiri dari 6 episode. Sebagai sinetron, Tajuk sudah mulai menarik perhatian jauh sebelum ditayangkan. Tentu saja ini karena nama-nama besar yang terlibat di dalamnya. Sutradaranya Slamet Rahardjo. Ide ceritanya datang dari Ashadi Siregar, novelis, dosen, budayawan, juga pengamat media massa yang dikenal sangat kritis.
Skenarionya dikerjakan oleh tim dari LP3Y (Lembaga Penelitian, Penerbitan, dan Pelatihan Yogyakarta). Musiknya digarap Jaduk Ferianto, anak seniman Bagong Kussudiardjo yang dikenal punya bakat besar dalam mengolah bunyi. Menilik nama-nama yang terlibat, Tajuk mestinya menjanjikan tontonan menarik sekaligus bisa memberikan gambaran menyeluruh tentang wilayah yang coba disentuh. Yakni dunia wartawan dan industri pers Indonesia.
Sebagai pengamat sekaligus praktisi komunikasi, Ashadi Siregar memang sangat memahami kondisi obyektif industri pers Indonesia. Dan dia mencoba mengurai semua persoalan itu satu per satu, mulai dari sudut pandang ekonomi, sosial, politik juga budaya. Tapi bisakah sinetron seri 6 episode membahas semua persoalan yang saat itu dirasakan oleh insan pers Indonesia? Bisakah sinetron ini mewakili atau menjadi semacam medium identifikasi para jurnalis Indonesia?
Sanggupkah memberi gambaran yang memadai tentang hiruk-pikuk dinamika dunia wartawan? Harapan besar agaknya memang layak dialamatkan pada sinetron ini, setelah sebelumnya banyak sinetron yang menokohkan wartawan, gagal menghadirkan sang tokoh dalam kondisi yang mendekati kenyataan. Para wartawan mencibir dan penonton awam tak memperoleh gambaran yang lengkap.
Di episode pertama yang diberi judul Garis Diri, selain mengenalakan karakter-karakter tokohnya, konflik digerakkan lewat peristiwa meninggalnya seorang model terkenal. Koran Tajuk Massa tak melewatkan peristiwa itu. Laporan tentang kematian sang model itu ditindaklanjuti dengan liputan seputar penggunaan ‘ecstasy’ yang konon (wkatu itu) lagi ngetren. Laksita (Paquita Wijaya), wartawan muda di Tajuk Massa berambisi membuat laporan eksklusif.
Dengan berbagai cara dia menggali informasi. Di episode Spasi Kasih, tema yang dibahas seputar hubungan antara wartawan dan sumber berita. Mima, salah seorang reporter Tajuk Massa, bertemu dengan Alfonso, tokoh dari Timtim yang prointegrasi. Pertemuan itu menumbuhkan simpati di bneak Mima. Karena simpati pula, tulisan-tulisan Mima seputar Alfonso tak lagi obyektif. Tentu saja ini mencemaskan pimpinan Tajuk Massa.
Betapapun, seorang wartawan harus tetap menjaga jarak dngan sumber beritanya. Hubungan mima-Alfonso ini akhirnya kandas di tengah jalan. Bersamaan dengan perjalanan waktu, sikap politik Alfonso mulai berubah. Begitu pula dengan caranya memahami hubungannya dengan Mima. Tinggallah Mima meradang digilas kekecewaan. Di episode Titik Pijak, cerita lebih berpusat pada kondisi intern di Tajuk Massa.
Bermula dari perginya redaktur ekonomi, analisis keonomi harian Tajuk Massa mengalami kemerosotan. Sebetulnya, banyak reporter yang berambisi menempati posisi redaktur ekonomi. Tapi, tak satu pun yang dianggap memenuhi syarat. Akhirnya, pilihan jatuh pada seorang redaktur ekonomi harian Teraju, saingan berat Tajuk Massa, yang kebetulan baru saja keluar.
Di sini penulis skenario ingin menggambarkan benturan antara idealisme dan urusan perut yang dialami para jurnalis. Dalam sinopsis yang diedarkan TPI, sang redaktur ekonomi itu dilukiskan sebagai pribadi yang punya integritas. Saking hebatnya, sampai-sampai dia menolak tawaran dari sebuah tabloid hiburan, yang di matanya tak lebih dari menjual gosip dan sensasi.
Karena kalau itu dilakukan, katanya sama saja dengan keluar dari comberan dan masuk selokan. Wow, luar biasa! Di episode Edisi Kekalahan, cerita diawali dengan meninggalnya seorang pengusaha terkenal di sebuah hotel. Peristiwa ini melahirkan gosip tak sedap karena saat itu sang pengusaha ditemani seorang wanita cantik yang tengah mencalonkan diri menjadi ketua perhimpunan pengusaha wanita.
Wartawan Tajuk Massa yang dengan penuh semangat memberitakan peristiwa ini, dihajar orang-orang tak dikenal. Tak cuma itu, Tajuk Massa juga diancam akan dituntut dengan tuduhan mencemarkan nama baik. Dalam episode Kolom Pertaruhan, kisah kembali pada masalah intern Tajuk Massa.
Seorang reporter senior yang berambisi meraih jabatan redaktur pelaksana, menghasut para reporter untuk melakukan eksodus. Ancaman eksodus dari para reporternya ini membuat manajemen Tajuk Massa kalut. Akhirnya mereka terpaksa memenuhi permintaan para reporternya. Selain menghasut para reporter, reporter senior itu juga membuat janji akan bergabung dengan penerbitan lain.
Di episode Ujung Pena diwarnai dengan kasus penggusuran. Maruti (Iga Mawarni), reporter muda yang juga aktivis LSM, memberitakan peristiwa ini dengan sedikit emosional. Akibatnya, pimpinan Tajuk Massa ditelepon oleh pengembang yang berdiri di balik penggusuran itu. Maruti yang keceaw tak bisa memperjuangkan nasib rakyat kecil lewat korannya, memilih bergabung dengan orang-orang yang tergusur itu untuk melakukan perlawanan.
Semua tema yang dibahas dalam 6 episode Tajuk, meamgn sangat dekat dengan dunia wartawan Indonesia. Semuanya persoalan aktual (waktu itu) yang (kala itu) tengah menjadi bagian atau kepedulian para jurnalis. Masalahnya bagaimana penulis skenario sinetron ini menerjemahkan lewat adegan juga dialog, sehingga cerita dan informasi bisa mengalir dengan lancar dan enak ditonton.
Pilihan untuk menokohkan masalah (tokoh dalam sinetron ini tak ada yang diberi porsi dominan), terasa agak menyulitkan penonton yang terbiasa menyukai satu sinetron karena rasa simpati pada karakter tokohnya. Secara umum, sinetron kedua karya Slamet Rahardjo ini memang tidak terlalu Istimewa. Hiruk-pikuk suasana kantor redaksi koran juga kurang tergambarkan dengan maksimal.
Belum lagi dialog yang sering terdengar kurang jelas. Skenario sebagai bahan dasar, kurang memberi peluang pada sutradara, juga pemain untuk melakukan eksplorasi. Tapi setidaknya sinetron ini sudah bisa memberi gambaran industri pers Indonesia dengan segala masalahnya, sekaligus menambah pemahaman masyarakat betapa wartawan itu bukan cuma makhluk-makhluk dengan idealisme membabi-buta.
Ditulis oleh: Yanto Bhokek
Dok. Bintang – Edisi 310/Th. VI/minggu ketiga Februari 1997, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar