SIARAN BERITA BERBAHASA INGGRIS DI TV BELUM BANYAK DILIRIK

TAHUN 1997 ini, program siaran berita dalam bahasa Inggris, telah ditayangkan oleh 3 stasiun TV. TVRI, sebagai pelopor program ini, menayangkan English News Service (ENS) setiap hari pukul 18.30 WIB, sedang pada hari libur/Minggu, ENS disiarkan pukul 10.00 WIB.

RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), stasiun TV swasta pertama, menayangkan Indonesia Today dari hari Senin sampai Jumat pada pukul 7.30 WIB. Sedang SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia), sejak bulan April 1997 lalu mulai menayangkan program siaran berita berbahasa Inggris dengan tajuk Newswatch setiap hari kerja (Senin-Sabtu) pada pukul 07.00 WIB.

Program ini lebih ditujukan bagi para pekerja asing di Indonesia yang membutuhkan informasi aktual tentang Indonesia dari sudut pandang Indonesia. Kendati tentu saja berita-berita aktual mancanegara tetap mendapat porsi pemberitaan.

Namun nyatanya program ini tak dipirsa hanya oleh pada para ‘expatriate’. Pemirsa Indonesia dari golongan menengah ada pula yang turut menikmati siaran tersebut, baik sebagai ajang melatih keterampilan berbahasa Inggris, maupun sebagai pemenuhan kebutuhan akan informasi dalam bentuk yang lain.

Membuat program berita berbahasa Inggris bukan hal mudah. Seringkali, narasumber yang diwawancarai tidak menguasai bahasa Inggris. Belum lagi penterjemahan berita dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, yang tidak mudah dan cukup memakan waktu. Pemilihan jam tayang jadi salah satu faktor ditonton atau tidaknya program tersebut.

Jangan dulu bicara soal rating. Sebab, populasi sasaran pemirsa yang minim memang membuat program berita berbahasa Inggris lebih bersifat pelayanan publik ketimbang komersial. Namun, justru dari program inilah, sisi jurnalistik stasiun TV dibuktikan. Berikut ini sedikit gambaran dari kteiga program siaran berita berbahasa Inggris tersebut. Ditambah pandangan dan komentar beberapa pekerja asing di Jakarta.

Ditulis oleh: Dicky Lopulalan/Teguh Yuswanto

Baruno Sudirman (kepala sub. direktorat pemberitaan TVRI): “English News Service Menarik dan Aman”

“ENGLISH News Service (ENS) mulai disiarkan bulan April 1983 (melalui TVRI saluran 8, saluran TVRI yang daya jangkaunya terbatas di Jakarta, sejak April 1989 berubah menjadi TVRI Programa 2-red), dengan target ‘audience’ orang-orang asing yang berada di Jakarta dan sekitarnya.

Di samping itu, memang ada permintaan-permintaan dari kedutaan untuk menambah informasi mereka tentang Indonesia. Pihak kedutaan juga berkepentingan meliput tentang Indonesia. Pernah juga, tahun 1985, ENS direlay di Bali (lewat TVRI Stasiun Denpasar-red) melalui jalan darat (teresterial-red), tidak melewati satelit.

Pemirsa di sana memang sangat memerlukan. Sebab, seperti kita ketahui, di Bali sangat banyak orang asing. Permintaan-permintaan untuk menasionalkan siaran ENS dari provinsi-provinsi di lain pulau pun sangat banyak, seperti Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan Irian. Di luar Jawa, pekerja-pekerja asing itu sangat pelru informasi tentang Indonesia. Sedang berita luar negeri sudah mereka dapatkan dari parabola. Untuk menjawab kebutuhan itu, maka ENS dinasionalkan.

 Dalam divisi pemberitaan tidak ada pembagian siaran antara siarna bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Seluruh kru harus mampu menyiarkan berita dalam bahasa Inggris ataupun Indonesia. Jadi tidak ada pembagian divisi. Jam tayang 18.30 WIB dipilih karena saat itu (tahun 1983) jalanan belum macet. Orang pulang kerja pukul 17.00 WIB. Jadi diperhitungkan pukul 18.30 WIB itu mereka sudah berada di rumah.

Pencetusan ENS Ishadi SK, saat masih menjabat di TVRI (waktu itu kepala bagian pemberitaan TVRI Stasiun Pusat Jakarta, sebelum menjadi kepala TVRI Stasiun Yogyakarta-red). Pembuatan program tersebut juga berdasarkan pertimbangan banyak pihak. Sedang pemilihan berita berdasarkan nilai kepentingan, aktualitas, dan nilai berita. Dalam 30 menit, rata-rata memuat 13 berita. Bisa dikuragni atau ditambah, tergantung keadaan.

Dibanding siaran berita berbahasa Inggris stasiun TV lain, ENS sering melakukan siaran ‘on the spot’ (langsung-red). Keunggulan lainnya, setiap reporter TVRI bernagkat meliput dengan target memasukkannya dalam berita berbahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Jadi seringkali, walu semula niatnya meliput untuk Berita Nasional, tapi karena menarik, akan dimasukkan juga ke dalam ENS.

Di TVRI memang ada sumber daya yang bertugas sebagai ‘translator’ dan ‘corrector’. Mekanismenya, berita masuk ke dalam bahasa Indonesia, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris setelah dikoreksi oleh ‘corrector’. Dan berita yang siap ditayangkan itu sudah melalui beberapa meja redaksi. Hingga menarik dan aman. Sebab, bagaimanapun, ENS jendela Indonesia untuk pemberitaan asing.”

Helmi Johannes (produser/pembaca berita Indonesia Today – RCTI): “Menyajikan Berita Nasional Bervisi Regional”

(Pria kelahiran Yogyakarta, 23 Maret 1961 ini, bersama Dessy Anwar bisa dibilang bidan kelahiran program berita berbahasa Inggris di RCTI. Ide awal muncul ketika mulai menangani Buletin Malam – acara RCTI juga, mulanya juga direlay SCTV, juga acara yang idenya lahir dari Peter Gontha, red – tahun 1991.

Bahkan sempat satu edisi Buletin Malam diantarkan dalam bahasa Inggris. Karena berbagai kendala, program berita ini baru terealisasi tahun 1995, lewat kehadiran Indonesia This Week, yang ditayangkan setiap Minggu. Baru sejak 14 Oktober 1996, program tersebut ditayangkan setiap hari, pukul 07.30 WIB. Namanya berubah jadi Indonesia Today).

“BANYAK kendala, hingga kami tidak bisa langsung merancang program dalam bahasa Inggris ketika ide muncul di tahun 1991. Bagaimanapun, stasiun TV, tetap harus memikirkan aspek komersial. Program berbahasa inggris, sudah pasti tidak memiliki ‘market segment’ yang besar. Akan lebih baik membuat program berita berbahasa Indonesia dengan cakupan segmentasi yang luas, dibandingkan membuat program berbahasa Inggris yang belum tentu laku.

Tahun 1995 barulah program berita berbahasa Inggris dinilai layak hadir di RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), lewat program mingguan Indonesia This Week. Dalam setiap edisi, kami mengumpulkan berita-berita yang ada dan mengantarkannya dalam bahasa Inggris. Baru pada bulan Oktober tahun lalu (1996-red), program itu dirasakan semakin penting dan dihadirkan dalam bentuk Harian dengan nama Indonsia Today.

Jadi, bisa dibilang Indonesia This Week ajang pemanasan dan latihan sebelum masuk ke berita harian. Prorgam berita berbahasa Inggris ini pun kami maksudkan sebagai servis bagi ‘expatriate’ di Indonesia dan masyarakat Indonesia yang meminati bahasa Inggris, sebagai ajang latihan dan pendidikan.

Dari awal, kami sengaja hanya menampilkan berita-berita dalam negeri. Kami pikir, untuk berita-berita internasional, pemirsa bisa mendapatkannya dari stasiun TV internasional seperti CNN (‘Cable News Network’), dengan penyajian yang lebih baik.

Tapi, di stasiun TV internasional itu, mereka tidak akan mendapatkan berita-berita tentang Indonesia dengan sudut pandang Indonesia yang lengkap. Itu mungkin yang membedakan kami dengan stasiun TV lain yang memadukan berita lokal dan internasionald dalam program berita berbahasa Inggris mereka.

Secara jelas bisa dikatakan berita-berita yang kami tampilkan adalah berita nasional tapi memiliki visi regional. Karena RCTI bisa ditangkap di beberapa negara di ASEAN (namun hanya melalui parabola-red), maka berita berbahasa Inggris itu pun bisa dibilang sebagai servis untuk pemirsa RCTI di luar Indonesia. Jadi, ada semacma target untuk menservis secara regional.

Sampai saat ini (1997-red), Indonesia Today memang masih memiliki ketergantungan cukup besar pada ‘news gathering’, divisi khusus pemasok berita untuk Nuansa Pagi, Buletin Siang, Seputar Indonesia (ketiganya juga pernah direlay SCTV, hampir semua dari judul-judul ini ide acaranya lahir dari Peter Gontha pula-red). Hanya beberapa saja yang kami produksi sendiri. Seperti laporan utama atau kegiatan diplomatik.

Tapi kami berharap dan berusaha, Indoneisa Today mampu lebih mandiri dan memiliki tim peliputan yang mampu memasok berita sendiri. Sedangkan hambatan lain, relatif tidak banyak. Kalaupun ada, paling-paling bersumber dari tidak semua sumber berita fasih atau mau mengeluarkan keterangan dalam bahasa Inggris. Yah, kalau mentok, biasanya kami akan men-‘dubbing’.

Belum sampai setahun, program ini bisa dibilang cukup diterima pemirsa. Itu bisa dilihat dari berbagai komentar atau permintaan liputan kegiatan diplomatik atau perusahaan asing yang ada di Indonesia. Juga dari rating, terbilang lumayan.

Kami mendapat rating 2 dengan ‘share’ sampai 25% (25% dari penonton TV di pagi hari menyaksikan satu program acara-red). Itu yang membuat kami yakin, program berita berbahasa Inggris harus terus dikembangkan. Dan pada akhirnya ini menjadi satu kebutuhan yang tak kalah penting dengan program berita berbahasa Indonesia.”

Sumita Tobing, Ph. D. (‘general manager dews department’ SCTV): “Konsentrasi Lebih Pada Berita-Berita Lokal”

(Tangan dingin dan pengalaman kerjanya selama puluhan tahun di TVRI, terutama saat menangani ENS TVRI antara tahun 1983-1987, telah mmbuahkan liputan-liputan bernilai jurnalistik. Pernah tinggal selama 9 tahun di AS dan memiliki gelar Ph. D. dalam bidang komunikasi. Mulai terlibat di ‘news department’ SCTV sejak 1994)

“IDE dasar pembuatan Newswatch SCTV adalah karena pihak manajemen merasa sudah tiba saatnya SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) membuat program berita berbahasa Inggris. Dengan bekal pengalaman di ENS TVRI dulu, saya mulai membuat konsep awal berita berbahasa Inggris di SCTV. Sasaran kami tentu saja para pekerja asing di Indonesia. Karena tinggal di Indonesia, mereka tentu membutuhkan berita-berita tentang Indonesia dengan visi Indonesia.

Berita tentang Indonesia yang ditampilkan di CNN atau stasiun TV asing lain, akan lain nuansanya dengan berita tentang Indonesia yang ditayangkan oleh stasiun TV Indonesia. Itu sebabnya, konsentrasi berita dalam Newswatch, lebih banyak berita-berita lokal. ‘Features’ yang kami tampilkan juga selalu tentang daerah-daerah di Indonesia. Agar orang asing di Indonesia mendapat gambaran tentang Indonesia. Meski demikian, berita internasional pun tak dilupakan. Untuk itu, Newswatch SCTV berlangganan pada beberapa kantor siaran AFP.

Berita yang diambil tentu saja yang diperkirakan menarik bagi pemirsa di Indonesia. Dari pengalaman saat berada di Tokyo, saya bingung setengah mati, karena tak satu pun berita disiarkan dalam bahasa Inggris. Sementara sebagai orang asing di negara itu, saya ingin tahu apa yang sedang terjadi di situ (Jepang).

Pemilihan jam tayang diberikan oleh bagian ‘programming’. Tentu saja berdasarkan pertimbangan bahwa pada jam tersebut, para pekerja asing masih berada di rumah dan belum bernagkat ke kantor. Bila jam tersebut dirasa kurang ‘convenient’ bagi pemirsa, bisa saja jam tayang diubah. Untuk 2 tahun ke depan (1999-red), jam tayang Newswatch tidak direncanakan ditambah. Berita berbahasa Inggris selama 30 menit dirasa sudah cukup memenuhi kebutuhan para ‘expatriate’ tersebut.

Berita dipasok dari beberapa sumber. Misalnya, dari reportase para reporter ‘news department’ SCTV sendiri. Karena itu, para reporter diharap mampu menyiapkan laporan dalam dua bahasa. Karena Newswatch dan Liputan 6 berada dalam satu wadah, maka reporter Liputan 6 pun ikut memasok berita untuk Newswatch. Ada sinergi antara para personil Newswatch dan Liputan 6. Untuk itu, kami punya beberapa tenaga penterjemah dan korektor bahasa.

Meski siaran berita berbahasa Inggris dianggap lebih bergengsi daripada siaran berita berbahas Indonesia, tetap saja di kemudian hari Liputan 6 akan lebih dituamakan oleh ‘news department’ STV. Karena Liputan 6 adalah pemberi informasi untuk rakyat Indonesia. Semntara pemirsa Newswatch yang mayoritas ‘expatriates’ lebih sedikit dibandingkan Liputan 6.

Ben Giles (waktu itu 28 tahun): “Perbanyak ‘Features’ Tentang Pariwisata dan Bisnis”

(Pria berkebangsaan Australia ini – sampai saat itu – sudah 4 tahun – 1993 hingga 1997-red – tinggal di Indonesia. Saat itu bekerja di sebuah firma hukum terkenal di Jakarta)

“SAYA berlangganan koran berbahasa Inggris. Tapi sering pula nonton siaran berita di TV, karena saya butuh informasi aktual, selain dari koran. Sebab, kadang-kadang, menonton siaran langsung atau mendapat informasi secara visual, lebih menarik, dan lebih jelas.

Saya senang menonton siaran TV Australia dari parabola. Karena saya orang Australia, saya butuh juga berita tentang negeri saya. Tapi sekarang (1997-red) saya sedang rutin menonton siaran berita berbahasa Inggris yang disiarkan pagi hari di SCTV.

Untuk mendapat informasi lokal, saya menonton siaran itu. Pembaca beritanya cantik lagi. Tadinya saya pikir itu siaran TV Filipina, karena pembaca beritanya punya aksen Amerika yang kental. Untuk informasi luar negeri, saya lebih memilih menonton siaran CNN (‘Cable News Network’) atau ABC.

Tadinya sebelum punya parabola, saya sering juga menonton ENS TVRI yang ditayangkan sore hari. Tapi menurut saya berita internasionalnya kurang banyak. Lagipula konsentrasi berita lokal seringkali lebih banyak berita tentang duta besar ini sedang ke mana, misalnya, ketimbang berita yang benar-benar menampilkan Indonesia.

Waktu tayang selama 30 menit, saya rasa cukup. Siaran berita berbahasa Inggris di stasiun-stasiun TV Indonesia, saya rasa cukup bagus. Dan pasti akan bertambah bagus seiring berjalannya waktu. Saya harap ‘features’ tentang daerah-daerah di Indonesia dan tempat-tempat pariwisata diperbanyak. ‘features’ tentang bisnis di Indonesia juga saya rasa, akan amat menarik dipirsa.”

David Skari, Ph. D. (waktu itu 37 tahun): “Lebih Sering Nonton TV Luar Negeri”

(Skari – sampai saat itu – sudah tinggal di Indonesia selama dua tahun – 1995 hingga 1997-red. Meski begitu, ini ketiga kalinya ia tinggal di Jakarta. Pertama datang ke Indonesia tahun 1982. Tahun 1986 datang untuk kedua kalinya hngnga tahun 1991. Kedatangannya yagn ketiga pada 1995. Saat itu – 1997, red – bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta)

“UNTUK tahu informasi aktual tentang Indonesia, saya biasanya baca koran berbahasa Inggris. Itu sumber utama saya. Sekali-sekali saya nonton juga siaran berita berbahasa Inggris dari staisun TV Indonesia. Terutama kalau sedang terjadi suatu peristiwa besar. Kadang-kadang juga dengar dari teman-teman di kantor bahwa sedang terjadi ini-itu.

Barangkali karena saya sering bekerja hingga larut, belum lagi jarak rumah dan kantor yang cukup jauh, hingga kesempatan saya untuk menonton siaran berita berbahasa Inggris hilang. Saya lebih sering nonton siaran dari stasiun TV luar negeri, terutama CNN atau ABN. Karena saya tak perlu menunggu waktu tertentu hanya untuk mendapatkan inormasi aktual.

Siaran berita berbahasa Inggris dari stasiun TV di Indonesia saya harap tetap mempertahankan konsentrasinya pada berita-berita dari dalam negeri. Tapi berita dari mancanegara sebaiknya jangan dilupakan. Dibanding tahun 1989 lalu, saat saya terakhir ada di Indonesia, program TV Indonesia semakin baik dan bervariasi.”

Thomas Kamm, Dipl. Ing (waktu itu 39 tahun): “Lebih Memilih Membaca Koran”

(Berkebangsaan Jerman dan – sampai saat itu – sudah tinggal di Indonesia selama 1 tahun – 1996 hingga 1997-red. Saat itu, bekerja di sebuah perusahaan asing di Jakarta)

“INFORMASI tentang Indonesia biasanya saya peroleh dari koran berbahasa Inggris. Saya berlangganan salah satu koran Indonesia berbahasa Inggris. Sering juga saya nonton TV untuk bisa memperoleh informasi, sebagai alternatif sumber berita selain dari koran.

Ini saya lakukan karena saya perlu tahu apa yang sedang terjadi di negeri ini. Walau biasanya saya menonton siaran berita dari stasiun TV asing macam CNN (‘Cable News Network’), saya juga nonton siaran stasiun TV Indonesia. Tapi untuk berita, saya memang lebih memilih membaca koran. Sebab, membaca koran tak perlu jadwal. Bila sempat, baru saya baca. Biasanya saya baca dalam perjalanan menuju kantor.

Sayangnya, saya tidak bisa menonton siaran berita berbahasa Inggris dari stasiun-stasiun TV Indonesia secara reguler. Karena saya berangkat dari rumah menuju kantor sekitar pukul 6.30 pagi, dan kembali ke rumah sekitar pukul 7 atau 8 malam. Jadi, saat saya “siap” untuk menonton TV, program berita berbahasa Inggris sudah habis.

Makanya, saya lebih sering menonton siaran dari TV luar negeri seperti ABC atau CNN yang khusus berita. Untuk siaran berita berbahasa Inggris dari stasiun TV Indonesia, saya harap lebih banyak berita mancanegaranya. Tentu saja, berita tentang Indonesia jangan ditinggalkan.”

Dok. Bintang – Edisi 321/Th. VII/minggu pertama Mei 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer