SHAFIRA PRAKASA, PILIH JADI PENYANYI ATAU PEMBACA BERITA?
PILIH mana? Jadi penyanyi atau pembaca berita? Bila
pertanyaan itu diajukan pada Shafira Prakasa, jawabannya: “Bingung.” Buat Fira,
begitu dia dipanggil, membaca berita adalah seni. “Puas rasanya kalau penonton
memahami berita yang saya sampaikan,” ujar Fira, yang (sampai saat itu) telah 5
tahun (1992 hingga 1997-red) jadi pembaca berita TVRI. Fira merasa telah
menemukan bidang yang sesuai.
Saking mencintai profesi ini, dia tak ingin berpindah karier. Bahkan, dia berani mengorbankan kuliahnya di FISIP UI jurusan hubungan internasional. Kesibukannya sebagai penyiar (waktu itu masih di TPI) membuat Fira sering mangkir kuliah. Padahal baru masuk tahun pertama.
Bahkan, ujian pun turut dikorbankan. “Dosen saya bilang saya bisa di-‘drop out’. Daripada di-DO, lebih baik keluar, apalagi jurusan itu bukan pilihan pertama saya,” tutur Fira, yang lebih berminat pada bidang arsitektur.
Kendati (waktu itu) telah selesai merekam 15 lagu, bukan berarti Fira (waktu itu) akan meninggalkan profesi yang dicintainya. Apalagi Fira (sampai saat itu) belum berani mengedarkan album ini, karena (waktu itu) belum menegosiasikannya dengan pihak TVRI. “Peredaran album ini masih terbentur peraturan TVRI. Setahu saya, penyiar tidak boleh jadi artis,” kata Fira.
Menurut Fira, aturan itu mungkin untuk menjaga imej sang penyiar. “Kalau penyiar A jadi bintang film, ia bisa saja berperan sebagai antagonis. Ini bisa membahayakan imejnya sebagai penyiar,” ujar Fira. Nah, bagaimana kalau jadi penyanyi? “Itu yang saya bingungkan. Soalnya, penyanyi khan mewakili diri sendiri. Mudah-mudahan saja TVRI melonggarkan peraturan yang satu ini,” tutur Fira berharap.
Sebenarnya, keesmpatan jadi penyanyi pernah didapatnya ketika Fira masih duduk di bangku SMP. Seorang produser memberinya beberapa materi lagu. “Tapi saya nggak suka dengan jenis musiknya. Soalnya meski usia saya saat itu masih muda, saya sudah tergila-gila dengan musik jazz dan country, cerita Fira yang mengaku tidak pernah belajar menyanyi secara khusus. Baru 1997, kesempatan merekam lagu dengan materi yang sesuai terwujud. Itu pun dengan cara yang tak disengaja.
“Waktu itu saya bertemu Ulfa Dwiyanti di acara HDX. Ulfa bilang dia mau bikin album,” tutur Fira. Iseng-iseng, Fira ke rumah Ulfa. Di sana dia bertemu Budi Bidhun, kakak Ulfa yang berprofesi pencipta lagu. Fira mengungkapkan niatnya membuat album. “Budi minta contoh vokal saya. Saya beri rekaman ketika kami para penyiar, bernyanyi untuk satu acara TVRI,” kata Fira.
Budi ternyata tertarik dengan suara Fira. Sejak akhir Maret 1997 lalu, beberapa lagu yang disodorkan padanya. “Ada yang ciptaan Aji Sutama, Andre Hehanusa, Ryan Kyoto, dan Budi sendiri. Semua lagu yang diberikan langsung saya hafal. Habis, cocok banget dengan jiwa saya,” ucap Fira.
Bagi wanita kelahiran 5 Desember 1970 ini, jadi penyanyi bukanlah untuk mencari ketenaran. Malah, Fira merasa gerakannya terbatas kalau menjadi tenar. “Saya cuma ingin keberadaan saya sebagai penyanyi diakui dan diterima. Selama ini khan, saya hanya bernyanyi untuk kalangan terbatas. Tidak semua orang tahu saya bisa bernyanyi. Lagipula khan beda rasanya menyanyikan lagu orang dengan lagu sendiri,” jelas wanita yang pernah bercita-cita jadi pramugari.
Jadi, apakah (kala itu) Fira sudah memutuskan? “Berhubung albumnya sendiri belum mencapai tahapan ‘finishing’, saya belum bicara pada pimpinan. Kalau sudah sampai keputusan kaset ini harus diedarin, saya baru bicara detilnya pada pihak TVRI. Sementara ini, beberapa teman di TVRI sudah tahu niat saya ini. Mudah-mudahan saya tidak harus memilih,” ungkap Fira.
Ditulis oleh: Ida M. Palaloi
Dok. Bintang, Edisi 328/Th. VII/minggu keempat Juni 1997, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar