SETELAH LAMA TERHENTI, BULAN MEI 1992 SI UNYIL (TVRI PROGRAMA 1) MUNCUL LAGI. APA KABAR PFN?

 Drs. Suyadi (pak Raden)

PRODUKSI, PROPOSAL. Lebih dari tiga bulan (sampai Mei 1992-red), seri boneka si Unyil lenyap dari TVRI. Siaran terakhir (kala itu) 22 Januari 1992. Dan hingga Mei 1992, tak ada yang menyapa kenapa Unyil lenyap? Bisa jadi karena Unyil (saat itu) sudah “tenggelam” dalam banjirnya serial animasi kartun impor. Unyil jadi tak menarik. Atau karena (waktu itu) tak ada lagi orang yang menonton Unyil.

Lenyapnya acara ini berarti lenyap pula partisipasi Perum PFN untuk siaran TVRI. Bagaimanapun ini aneh. PFN yang dulu (jauh sebelum 90an-red) dikenal lewat serial (di TVRI-red) Keluarga Rahmat, Kontak Tani, ACI (Aku Cinta Indonesia) SMP, ACI PSPB, nampak tak berkutik justru di saat acara semacam ini bisa dijual. Dan justru pada saat ‘production house’ (PH) bisa berkembang.

Terbukti dengan menjamurnya rumah produksi yang memasok acara untuk TVRI, TPI (Televisi Pendidikan Indonesia), dan RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). Rumah produksi ini nampaknya bertingkat-tingkat pula kualitasnya. Mulai PH yang sekadar bermodal karu nama, hingga PH yang lengkap peralatannya.

Fenomena PH bermodal kartu nama ini menarik, mereka hanya bekerja dan menerima bayaran bila telah mendapatkan proyek. Tak perlu heran bila insan PH ini memegang beberapa kartu nama. Di tempat tertentu tertulis sebagai ‘general manager’, di tempat lain tertulis sebagai sekretaris, misalnya. Anehnya, gaya semacam ini justru menguatkan posisi PH ini dalam bersaing dengan lembaga resmi, misalnya PFN.

Ini diakui dirut PFN, DR. Amoroso Katamsi, “Kami setiap hari harus dibebani 300 karyawan. Baik sedang produksi ataupun tidak. Ini menjadi beban kami dalam bersaing dengan PH lain. Proposal kami cenderung lebih tinggi dibanding mereka. Sementara itu, karena mereka lebih banyak menggunakan tenaga bebasnya mereka bisa menekan biaya.” Terbukti lembaga besar tak mampu bersaing dengan yang lebih kecil.















































































“Meski lembaga pemerintah, kami diperlakukan sama dengan rumah produksi swasta lain,” tambah Amoroso ketika dianya apakah berbagai departemen pemerintah tak lebih melihat PFN dibanding rumah produksi swasta. Beban lain, PFN tak cukup punya kamera elektronik. Akibatnya harus produksi dengan kamera film. Tentu saja ini membuat biaya produksi lebih tinggi. Beberapa serial tersebut di atas pun juga menggunakan kamera film, kecuali Unyil.

Kondisi PFN yang seperti ini menampakkan pada kita bahwa PFN (waktu itu) masih “tidur”. Melihat prospek lembaga ini mestinya (waktu itu) harus segera menggeliat dan mengantisipasi bisnis acara teve. “Target saya di akhir jabatan saya, dua tahun lagi (1994-red) secara manajerial harus sudah tertata.


DR. Amoroso Katamsi 

Di mana seluruh fungsi manajemen sudah bisa jalan. Aspek pelayanan jasa sudah dipercaya produser untuk memproses filmnya. Dan segi produksi, film animasi, dokumenter dan sinetron sudah mantap bisa ‘running’. Baru-baru ini saya investasi peralatan ‘editing’ elektronik. Meski lama tak memasok acara ke TVRI bukan berarti tak memikrikan sinetron. Perosalannya, kami belum dapat naskah yang pantas dijual ke teve,” tutur Amoroso dalam mengantisipasi bisnis acara teve.

PERSEPSI, KONSEPSI. Amoroso juga mengatakan terhentinya Unyil semata-mata karena dananya sudah tuntas. Seri pesanan pak Dipo (almarhum) (G. Dipayana, dirut PFN sebelum Amroso) kepada Kurnain Suhardiman (almarhum) ini didanai dari APBN. “Seri boneka ini akan kita lanjutkan, menunggu dana APBN berikutnya,” kata Amoroso sebulan sebelum bacaan ini dimuat Bintang (April 1992-red).

Ternyata tak perlu nunggu lama-lama, seri ini sudah mulai dirpdouksi, tepatnya dua minggu sebelum bacaan ini diturunkan Bintang (minggu kedua Mei 1992-red). Drs. Suyadi (pengisi suara boneka pak Raden), penanggung jawab audio dan visualisasi seri Unyil nampak sibuk di markas seri Unyil. “Konsep seperti yang dulu (80an-red), tak ada perubahan. Prinsip yang saya pegang, sebisa mungkin disukai anak-anak, anak-anak harus seneng,” kata lulusan ITB, jurusan seni rupa (waktu itu).

Rekor seri ini adalah seri tontonan anak-anak terpanjang produksi dalam negeri. Lahirnya Unyil adalah wujud keprihatinan pak Dipo akan miskinnya acara teve bikinan negeri sendiri. Tepatnya tahun 1979 akhir.

“Pak Dipo minta acara ini diproduksi secepatnya. Tak boleh lama-lama. Maka pak Kumain menawarkan seri boneka Unyil. Dan untuk mengetahui tanggapan masyarakat, produksi pertama diputar di gedung bioskop Metropole. Saya tak ingat bagaimana tanggapan masyarakat waktu itu,” papar pak Raden.

Tentu cukup punya alasan bila waktu itu seri boneka yang terbetik di benak Kumain. Boneka merupakan khazanah kebudayaan kita, wayang golek, misalnya. Dan format boneka itu sendiri adalah bagian dari dunia anak-anak. Persoalannya tinggal bagaimana menginovasikan wayang golek itu ke media elektronik.

Tantangan yang menarik bagi para ‘broadcaster’ dan budayawan. Dan nampaknya kita mampu, coba kita perhatikan adegan wayang golek dalam sebuah iklan (Supertin-red) yang sering muncul di RCTI. Suatu bukti bahwa para pendukung perbonekaan tak kehabisan kreasi. Menarik atau tidaknya itu tergantung siapa yang menggarapnya dan tentu juga dana,” jawab pak Raden apakah seri boneka ini masih disukai anak-anak (era itu).

 









Memang dibanding pentas-pentas boneka di teve, Unyil punya beberapa kelebihan. Boncu Show (RCTI/SCTV) bisa dibilang bukan untuk anak-anak, lebih menekankan humor, kisahnya lepas-lepas. Si Komo (TPI) lebih cocok untuk balita (era itu), sekadar mengajari bagaimana sikat gigi, tak boleh ngompol. Unyil sudah mengajak anak-anak (era itu) membayang-bayangkan, meresapi yang terkisah, menilai benar atau salah.

Bahkan mendengarkan yang jadi pembicaraan orang dewasa (era itu). Ini yang mengakibatkan Unyil dihujani kritik bahwa bagi seorang anak, Unyil terlalu dewasa. Meski kala itu Unyil sarat iklan, toh punya cerita yang bis dibulatkan di benak anak-anak (era itu). Penonton yang mempermaslahkan Unyil terlalu dewasa karena bicara KB, misalnya, sebenarnya mereka tak mau tahu bagaimana potret masyarakat kita. Yakni masyarakat terbuka dengan saringan longgar.

Gambaran nyata masyarakat kita tak memilahkan antara kamar orangtua dan anak-anaknya. Sekeluarga tidur di atas ‘amben’ (tempat tidur) yang sama. Barangkali (belakangan itu) masyarakat kita sudah melemparkan ambennya, tetapi belum esensinya. Buktinya ada di media informasi. Seorang anak-anak (era itu) bisa mendengar dan melihat hal yang khusus bagi orangtuanya. Cobalah (waktu itu) pergi ke segerombolan anak-anak (era itu) yang sedang bermain.

Hal biasa mereka menirukan iklan kondom dua lima di radio, atau menirukan iklan layanan masyarakat tentang Lingkaran Biru. Nampak betapa agresivitas penerangan juga menerjang benak anak-anak (era itu). Jadi, ya jangan mencak-mencak kalau Unyil menawarkan Kondom Dua Lima. Anggaplah dia sebagai korban longgarnya saringan kita. Ada pula kritikan lucu. Menanyakan Unyil tak besar-besar.
















Kritikan yang pantas tapi lucu. Pantas karena memang (waktu itu) Unyil sudah “tua”. Diputar pertama di TVRI, 5 April 1981. Hingga 1992, sudah lima kali ganti ‘dubber’ (pengisi suara). Pengisi suara yang pertam, Bambang Utoyo (kal aitu) sudah duduk di meja mahasiswa. “Di sekolah anak-anak toh juga begitu, masalah KB diinofrmasikan sedini mungkin,” kata pak Raden.

“’Mickey Mouse’ meski lahir 1931 juga tak tua-tua. Donald Bebek juga tak renta kemudian diganti anaknya, misalnya, “ujar Fritz G. Schadt, direktur litbang PFN, terhadap para pengkritik itu. Mengulang kembali kelebihan si Unyil, dibanding Boncu Show dan si Komo. ‘Sound’ Boncu terkesan ‘noise’, sementara si Komo, karena hanya diisi satu sumber suara, kak Krisna, akibatnya ceritanya kalah meresap bila dibanding si Unyil.

Dan dari aspek harga, jelas nampak Unyil lebih mahal dibandingkan keduanya. Cukup satu alasan untuk mengatakan murah. Bahwa ‘setting’ yang dipakai keduanya sangat kering, kurang imajinatif. Ini lain dengan si Unyil, yang mencoba ‘setting’ dengan ekosistem yang jelas, suasana pedesaan. Tentu ini membantu proses konsepsi dan persepsi bagi anak-anak (era itu).

Bahwa di kampung itu ada pak lurah yang selalu pakai safari, ada jenis-jenis kepribadian seperti pak Ogah, si Melan yang manja, dan dongeng-dongeng yang tersimpan di benak kakek-nenek. Apapun yang terjadi dengan si Unyil, seri ini (waktu itu) harus segera hadir. Perum PFN sebagai pelopor penelevisian tontonan panggung boneka, semestinya pula meningkatkan format video boneka ini. Kenapa cuma si Unyil? Tapi mengingat dana, lumayanlah, si Unyil “hidup” lagi.

Suasana syuting film boneka si Unyil 

STANDARISASI, SUTRADARA. Bicara mengenai perkembangan PH, Fritz merasa prihatin. Terutama karena tiadanya standarisasi honor artis. “Standarisais ini bukan penyeragaman. Tapi penentuan harga minimal seorang artis. Dan ‘dealing’ tentu asja berdasarkan nilai tambah yang dimiliki insan sinetron atau film itu,” tutur Fritz. Ketika dikatakan sudah ada standarisasi dari Deppen, Fritz menolaknya.

“Itu hanya patokan untuk menentukan asuransi. Kalau benar itu standarisasi, berarti produser harus membayar sutradara 25 juta. Mana ada produser mengeluarkan uang segitu?” Fritz juga berpesan agar insan sinetron dan film ini taat kepada aturan itu. Sesepi apapun, untuk penghidupan lebih baik nyopir taksi daripada menurunkan nilai honor profesi sejatinya. Dan saatnya ada tawaran main, bisa minta bayaran atas dasar standar dan nilai tambah yang dimiliki.

Melongok lebih dalam, meski ini bukan penyebab langsung seri si Unyil selang, adalah sepinya laboratorium PFN. PFN sebagai penyeaw perlengkapan syuting, studio ‘dubbing’, meja ‘editing’, dan pemrosesan film pasca-produksi terkena getah oleh sepinya film nasional.

“Pengaruh miringnya dunia film nampak sekali. Yang biasanya per bulan memproses dua film di sini, sekarang (Mei 1992-red) sebulan cuma satu. Yang biasanya setahun tiga film, hingga saat ini (Mei 1992-red) belum nampak,” kata J. Surasa, kepala bagian lab. PFN (waktu itu). Padahal, selama itu pemasukan terbesar PFN dari laboratorium ini.

Meski di layar TVRI tak hadir, ternyata PFN juga sibuk. Antara lain mengerjakan Gelora Pembangunan Indonesia yang diputar di gedung-gedung bioskop menjelang film utama diputar. Pelangi Di Nusa Laut, film dokumenter hasil kerjasama dengan TNI-AL. Enam judul film dokumenter tentang suku terasing, kerjasama dengan Jepang untuk animasi kartun.

Sayang, yang terakhir bukan untuk kita. Tak peduli sesepi apapun keadaan PFN, dan tak peduli telah mengerjakan apapun yang penting Unyil jalan lagi. Dan pak Raden (waktu itu) memperkirakan pertengahan Juni 1992, Unyil kembali lagi di layar TVRI. (Pihak Bintang waktu itu mengucapkan) hidup si Unyil!

Ditulis oleh: Gatot Sukoco

Dok. Bintang – No. 65/Th. II/minggu keempat Mei 1992, dengan sedikit perubahan 

Komentar

Postingan Populer