SETELAH BEBERAPA KALI TERSANDUNG, NADILA MENCOBA BANGKIT KEMBALI

 

GARA-GARA bersenandung kecil di depan pamannya, seorang gadis kecil (era itu) meniti karier sebagai penyanyi. Dalam waktu singkat, namanya berkibar dan menjadi salah satu penyanyi harapan.

Nadila (nama aslinya Laela Rahmawati-red), yang biasa dipanggil Lala, 1997, berlalu-lalang di layar kaca (TVRI, RCTI, SCTV, TPI, ANTV, MTV, Indosiar-red) lewat senandung Salahkah Aku. “Oom Burhan, adik mamalah yang meyakinkan saya untuk terjun ke dunia tarik suara. Kala itu saya masih SMP,” ujar Nadila dengan suara lembutnya itu.

Berbagai festival tarik suara pun dijajaki. Sukses tak langsung diraihnya. Beberapa kali Nadila harus gigit jari saat namanya tidak disebutkan dalam urutan juara. Belum lagi, Nadila sering disoraki penonton saat dmema panggung. Tapi, Nadila terus membulatkan tekad.

“Hanya satu dalam pikiran saya: masa sih, saya nggak bisa menjuarai festival tarik suara itu? Motivasi seperti itu ternyata membantu saya. Beberapa festival di Cimahi dan Bandung berhasil saya juarai,” tutur Nadila, kelahiran Cimahi, 28 Desember 1978 ini sambil tertawa kecil. Masa-masa itu, bagi Nadila, memang kenangan yang melegakan dan penuh kemanisan.

Nadila terus merangsek maju ke depan. Dengan bantuan beberapa teman, Nadila melatih kemampuan vokalnya. Juga bergabung dengan beberapa grup musik di daerahnya. Tapi, jangan berpikir kalau Nadila menyanyikan lagu sendu seperti yang saat itu dilakukan. Saat itu dia masih memilih meneriakkan lagu-lagu Steelheart, Bon Jovi, dan lagu-lagu berirama keras lainnya. Lagu-lagu seperti itu diyakini mampu memperbaiki teknik vokalnya.”

Ketika sedang semangat-semangatnya, seorang produser menawari rekaman, tapi Nadila harus lebih dulu menelan kekecewaan. Produser itu membatalkan janji setelah bertemu langsung dengannya. “Dia mengatakan, postur dan raut wajah saya sangat nanggung, artinya belum cocok menyanyikan lagu-lagu bertema cinta,” kata Nadila. Tidak hanya sekali itu Nadila menelan kekecewaan. Beberapa produser lain membatalkan niat dengan alasan yang tidak jauh berbeda.

Nadila patah arang. Ia memutuskan untuk berhenti menyanyi, kala itu ia duduk di kelas III SMP. “Pada teman-teman saya mengaku kesulitan mengatur waktu, karena harus mempersiapkan ujian akhir. Padahal, sebenarnya saya putus asa,” ungkap Nadila jujur. Setelah berhenti menyanyi, Nadila memfokuskan konsentrais pada pelajaran sekolah, mengikuti berbagai les dan mulai belajar teater.

Bukan Nadila namanya kalau patah arang dalam waktu lama. Ia berusaha bangkit kembali ketika produser dari Musica menawari rekaman. Nadila berpikir, mungkin ini saatnya keberuntungan berpihak padanya. “Yah, paling tidak, nggak ada salahnya kembali mencoba!” Dan ternyata itu bukan pilihan yang salah. Lagu yang dinyanyikannya cukup sukses di pasaran dan menjadikan Nadila sebagai penyanyi baru penuh harapan di masa (yang saat itu akan) datang.

Tapi Nadila tidak mau berharap terlalu jauh. Ia berusaha menjalani segala seusatu dengan sederhana dan rendah hati. Tapi di baliknya, ada semacam ketegasan untuk memacu semangat. “Saya ingin menjadi diri saya sendiri! Pastinya, itu membutuhkan waktu! Tapi saya yakin bisa!,” ucap Nadila tegas.

Pengalaman demi pengalaman yang telah dijalnai terasa sangat berharga bagi Nadila. Ia sangat menyadari, kesukessan sering harus melalui proses jatuh bangun. 1997 pun Nadila tidak berani dan tidak mau mengatakan dirinya telah menggapai kesuksesan. “Masih panjang jalan yang harus saya tempuh. Apa yang sekarang (1997-red) saya raih belum teruji oleh waktu,” bijak Nadila mengucap (waktu itu).

Nadila bisa jadi telah memberikan satu gambaran tentang proses, usaha, dan semangat untuk terus mencoba. Nadila, terima kasih untuk semangat yang telah kau coba tularkan.

Ditulis oleh: Dicky Lopulalan

Dok. Bintang – Edisi 320/Th. VII/minggu kelima April 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer