OPINI: BEBERAPA KIAT MEMBUAT SINETRON

SUDAH banyak dilakukan rumah produksi, mengangkat karya sastra sebagai bahan pembuatan sinetron. Yang terakhir (waktu itu), usaha Slamet Raharjo membuat Suro Buldog (SCTV), bahkan sebelumnya Ami Priyono dengan Sitti Nurbaya (TVRI Programa 1). Rencananya (waktu itu), karya Emha Ainun Najib, Perahu Retak – (waktu itu) segera divisualisasikan.

 








Sebagai karya sinetron, jelas usaha itu diharapkan (waktu itu) mampu menghasilkan karya sinematografi yang baik dan menarik. Tetapi, menurut perhitungan komersial, seringkali hasilnya tidak terlalu menggembirakan. Sitti Nurbaya, misalnya, kalah bersaing dengan sinetron Si Doel Anak Sekolahan (RCTI). Suro Buldog, juga tidak terlalu salah – untuk dikatakan berhasil menjaring penonton.

 










Pertanyaannya, apa pasal karya-karya “bermutu” itu tidak sukses secara komersial? Pertama, kemungkinan, sinetron berdasarkan karya sastra, memang berhasil sebagai karya sastra bermutu. Namun, belum tentu populer di tengah-tengah masyarakat. Kedua, sinetron berdasarkan karya sastra itu, kerap kurang memenuhi aspek aktualisasi serta memenuhi kehendak publik pemirsa.

 











Berdasarkan kenyataan tadi, langkah apa yang harus diambil oleh rumah produksi sinetron? Tulisan ini, menawarkan kiat atau upaya praktis. Sehingga penonton memiliki kepentingan untuk menyaksikan sinetron berdasarkan karya sastra. Atau, bagaimana kalangan pembuat sinetron, menentukan pilihan yang tepat, agar aspek produksi mampu memenuhi target komersial dan target apresiasi.

Pilihan

YANG patut diperhatikan dalam membuat sinetron berdasarkan karya sastra, utamanya adalah, menentukan pilihan berdasarkan karya sastra populer dan dikenal publik secara luas. Kedua, apakah karya sastra yang (waktu itu) akan dipublisir melalui sinetron, memang, dibutuhkan pada tingkat audiovisual?

Dua aspek tadi, menurut pemikiran penulis (Nor Pud BInarto T, adalah kepala Studi Semiotika “Berempat” Jakarta), hendaknya perlu digaris bawahi. Mengingat tidak semua karya sastra diketahui atau dikehendaki publik dalam bentuk audiovisual. Kenapa hal itu bisa terjadi? Mudahnya, tidak semua karya imajinatif mampu tervisualisasi atau memenuhi keinginan pembaca karya sastra.

Selain itu, sebelum membuat karya sinetron berdasarkan produk sastra, yang patut dikerjakan oleh rumah produksi adalah, membuat kajian keinginan khalayak. Terutama karya sastra macam apa yang diangankan untuk divisualisasi? Apakah karya-karya sastra pop, seperti yang dihasilkan La Rose, Gola Gong, Lupus, atau karya sastra pada level Suro Buldog, Rongeng Dukuh Paruknya Ahmad Tohari, dan novel Burung-Burung Manyarnya Romo Mangunwijaya?

Memilih sesuai selera pemirsa, dapat dilakukan melalui survey atau melihat berbagai hasil kajian sosial. Aspek kajian sosial, seringkali dilupakan. Padahal, dengan cara itu, mampu menghasilkan data, apa yang diangan-angankan masyarakat (‘expection of life’)? Bahkan data tersebut, sangat membantu, terutama bila dikaitkan dengan tujuan pemasaran (‘ratting of commercial’).

Langkah-langkah survei tadi, penulis (Nor Pud Binarto T) tidak tahu pasti, apakah (waktu itu) sudah dilakukan. Tetapi bila (waktu itu) belum dikerjakan, dapat dijadikan bahan pemikiran atau dijadikan modal dasar, guna mendekati stasiun TV. Terutama dalam rangka meyakinkan pihak divisi ‘marketing’ dan divisi program, menurut acuan data sosial yang otentik.

Penggarapan

DALAM pembuatan sinetron, terdapat dua orang yang cukup menentukan, berhasil tidaknya sebuah karya. Pertama, sikap pengolah data sastra, khususnya yang mengalihkan karya sastra dalam bentuk sinopsis. Kedua, sutradara yang tepat, untuk menjabarkan karya sastra yang telah berubah menjadi sinopsis, ke dalam mekanisme audiovisual.

Dua manusia tersebut, dari sisi lain, juga harus memperhitungkan, bagaimana hasil karya sinetorn sesuai dengan kebutuhan data komersial (harapan pemirsa). Mereka betapapun memiliki kebebasan kreatif, namun harus pula mempertimbangkan, akan dikemanakan karya itu disajikan?

Mengingat tidak semua karya berbobot, identik dengan kehendak publik pemirsa. Pertimbangan-pertimbangan tingkat apresiasi masyarakat, tidak boleh diremehkan sekaligus tidak boleh diperhitungkan terlalu tinggi. Artinya, para pembuat sinetron boleh-boleh saja menampilkan segi detail filmis, namun harus pula memahami, detail macam apa yang relevan dengan publiknya.

Logika tersebut, sesungguhnya tidak terlalu rumit. Jika para pemilik rumah produksi, mampu merencanakan sebuah produksi dengan tepat. Upaya penelitian, dalam hal ini dapat dilakukan, misalnya membuat kerjasama dengan media massa, yang sering menyoroti secara khusus produk layar kaca. Misalnya, dalam bentuk sisipan pertanyaan (kuesioner) menurut pembaca tabloid Citra. Kenapa tidak?

Promosi

DALAM aspek (promosi) – 1995 ini sudah banyak dilakuukan berbagai bentuk kerjasama. Tetapi, kerap kali bentuk promosi yang sudah dilakukan (waktu itu), kurang mengarah pada upaya pengembangannya. Khusus dalam pembuatan karya sastra dengan bentuk sinetron, promosi tidak cukup hanya dilakukan dengan memasang hadiah atau membangun citra, melalui iklan saja. Promosi, juga harus mengarah, pada upaya-upaya pengembangan tingkat apresiasi penonton.

 








Sebagai contoh, apa yang dilakukan oleh sinetron Kesaksian (SCTV) – dengan menghadirkan kritik karya berdasarkan pengamatan wartawan TV, sungguh sangat menolong visi apresiasi publik. Bahkan, jika perlu, ada baiknya membuat parade promosi keliling, ke beberapa kampus serta sekolahan, berbagai karya yang (waktu itu) akan segera disajikan melalui layar TV.

Bentuk-bentuk promosi dengan membentuk citra, intinya untuk mempersiapkan kalangan penonton TV. Boleh jadi, cara ini (sampai saat itu) belum banyak dikerjakan khalayak pengelola stasiun TV (TVRI, RCTI, SCTV, TPI, ANTV, Indosiar-red) maupun pemilik rumah produksi. Padahal, di situ seusngguhnya ujung tombaknya, berhasil-tidaknya sebuah produksi digelar.

Masalahnya, kenapa aspek-aspek teknis tersebut, kerap kurang diperhatikan? Boleh jadi, karena ketidaksiapan orang-orang TV dalam menghadapi era perkembangan dan pertumbuhan industri media elektronika. Kenapa kiat ini (waktu itu) tidak dicoba? Siapa tahu berguna.

Dok. Citra – No. 265/VI/24-30 April 1995, dengan sedikit perubahan


Komentar

Postingan Populer