SEPEKAN SINETRON REMAJA DENGAN SINETRON TERBAIK PILIHAN PEMBACA

KARYA, KERJA. Sepekan Sinetron Remaja (SSR) kembali digelar TVRI. Tahun 1993 ini, untuk ketiga kalinya tradisi ini dilangsungkan. Semual tradisi ber-Sepekan Sinetron memang bisa jadi andalan TVRI. Dalam acara sepekan itu biasanya muncul sinetron yang menyisakan gema panjang. Tapi belakangan, sepekan sinetron TVRI, baik yang remaja, ulang tahun maupun yang digelar akhir tahun, kualitasnya terus menurun. Terlebih lagi SSR tahun 1992 lalu.

Ikut sertanya produksi stasiun TVRI daerah juga tak membuat SSR menjadi semakin penuh warna. Tapi semua itu tampaknya tak membuat semangat TVRI untuk ber-sepekan ria dan menjadikan sinetron sebagai tontonan primadona, menendor. Bendera sepekan sinetron terus dikibarkan. Di samping dianggap sebagai acara andalan, tradisi seperti ini memang (waktu itu) baru milik TVRI.

Stasiun teve swasta (RCTI, SCTV, TPI, ANTV-red) – sampai saat itu – belum berani (atau tidak mau) melakukannya. Masalahnya bukan sekadar soal dana, tapi juga tenaga kreatifnya. Ini barangkali yang membuat stasiun teve swasta tak berminat melakukan hal yang sama. Mereka lebih suka membeli film/acara impor (kecuali TPI yang lebih banyak program dalam negeri-red), yang bukan saja lebih murah, tapi juga praktis, dan tak terlalu berisiko (diemohi pemasang iklan, misalnya).

Kalau TVRI terus asyik ber-sepekan sinetron, bukan berarti mereka tak punya maslaah dengan makhluk yang namanya dana itu. Malah kadang soal dana ini sering diteriakkan kalau sinetron yang ditayangkan kurang mendapat pujian pemirsa. Pengkambinghitaman macam ini tampaknya memang perlu dimaklumi. Betapapun juga, tak ada sutradara, penulis skenario, pemain dan kru TVRI yang dengan sengaja membuat sinetron yang buruk, dan kemudian dicaci maki penonton.

Dan kita agaknya mesti memberi penghargaan yang tinggi pada TVRI, untuk semangatnya mengerahkan segenap kemampuan, tenaga, pikiran, dana dan waktu untuk tetap menghadirkan paket sepekan sinetron. Kalaupun ada yang perlu dituding, bukan kemandekan, kenaifan, kemalasan, dan kekurangkreatifan para pekerjanya.

Tapi, barangkali memang diperlukan suatu proses panjang dan jam terbang yang memadai untuk menunjukkan diri sebagai pekerja kreatif, dan menghasilkan tontonan yang punya kelas. Tanpa proses, hanya seorang jenius yang bisa membuat sinetron berkualitas. Dalam setiap kali menggelar sepekan sinetron, TVRI juga memberi kesempatan pada muka-muka baru dan orang luar utnuk berkreasi.

 

PENDATANG. Medali Buat Adi, garapan Machfud Ramli, salah satu dari tiga sutradara pendatang baru (ketika itu) dalam sepekan sinetron remaja

Seperti pada SSR tahun 1993 ini, nama-nama sutradara baru (era itu) yang muncul kali ini adaalh Machfud Ramli (Medali Buat Adi), Alfiradi Alinur (Belenggu Masa Lalu), dan Rina Adityawati (Payung). Sisanya digarap muka-muka lama, Deddy Lazuardi (Nyanyian Sekuntum Bunga), Oscar Anwar (Parno), Husein Kusuma (Tabir), dan Encep Masduki (Bimo dan Abimanyu).

Garapan sutradara kawakan memang (waktu itu) belum jaminan. Dan besutan sutradara baru (ketiak itu) juga tak selalu jelek. Tapi dari 7 nama yang muncul itu, Encep Masduki bisa disebut sebagai salah satu sutradara TVRI yang sadar betul akan artinya sebuah proses.

Karya-karyanya terus menunjukkan perkembangan bersamaan dengan bertambahnya pengalaman. Semangatnya yang tak pernah padam, ketekunannya, pencariannya yang tak pernah berhenti, dan kegelisahannya yang terus memuncak, membuat karya-karyanya semakin matang. Untuk saat itu, Chep Masduki bisa disebut sebagai salah satu sutradara TVRI yang masa depannya cukup menjanjikan.

Kalau TVRI punya tradisi sepekan sinetron, tabloid Bintang Indonesia juga ingin melakukan hal yang sama. Tujuannya sama: selain turut berpartisipasi dalam memberikan hiburan yang sehat, pihak Bintang juga punya keinginan untuk ikut merangsang pemirsa TVRI menjadi penonton yang apresiatif. Seperti biasa, pihak Bintang meminta pemirsa untuk memilih satu yang terbak dari tujuh sinetron yang ditayangkan.

Tentu saja, sebagai ucapan terima kasih atas kesediaan pemirsa untuk memilih dan mengirimkan jawabannya, pihak Bintang menyediakan hadiah yang lumayan menarik. Pilihan sinetron mana yang terbaik, sepenuhnya tergantung individu. Jadi, pemirsa tak perlu ragu menentukan pilihan. Kalau (waktu itu) sudah yakin dan merasa pasti bahwa judul inilah yang terbaik menurut Anda, (waktu itu) segera tulis di kartu pos dan kirim redaksi Bintang Indonesia.

Yang diperlukan agar pilihan pembaca tidak meleset, hanya kesediaan untuk menonton dengan seksama. PIhak Bintang percaya pemirsa adalah juri yang paling jujur. Dan tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang sutradara, pemain dan semua kru yang terlibat, selain sinetron garapannya ditonton dan kemudian dikomentari. Bagi pihak Bintang, pengelola tabloid Bintang Indonesia, kiriman jawaban pembaca sangatlah besar artinya.

Ditulis oleh: M. Yamin Azhari

Dok. Bintang – No. 117/Th. III/minggu ketiga Mei 1993, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer