SEPEKAN FILM KOMEDI TVRI: "SENYUM DIKULUM DI MINGGU TENANG"
BOLEHLAH dibilang, bahwa Sepekan Film Komedi yang
ditayangkan TVRI, dan bertepatan waktunya dengan suasana minggu tenang (setelah
melakukan yel-yel kampanye) adalah sepekan film karya almarhum Nya Abbas Akub. Kendati
dari tujuh film yang diputar, 2 di antaranya karya sutradara Syamsul Fuad dan
Iksan Lahardi.
Karya Syamsul Fuad yang berjudul Koboi Insyaf termasuk produksi baru (waktu itu), 1987. Dibintangi pelawak Benyamin S, film tersebut yang dalam pemasaran untuk gedung bioskop. Justru film itu memang sengaja menonjolkan kembali sosok Benyamin S yang (sampai saat itu) lama tak muncul di layar perak.
Lantas karya Iksan Lahardi yang dicuatkan dalam sepekan ini, bertajuk CHIPS, dan merupakan kepanjangan dari Cara Hebat Ikut Penanggulangan Masalah Sosial. Tidak dipungkiri film ini dibuat (1982) karena nebeng beken film seri CHIPS (dibintangi Erik Estrada dan Larry Wilcox) yang digandrungi pemirsa TV (diputar di Indonesia oleh TVRI kala belum ada TV swasta-red) waktu itu.
CHIPS dibintangi Dono cs. Dan tidak dapat ditampik, dalam sejarah film Indonesia, Warkop DKI-lah (sebagai kelompok lawak) yang paling tangguh malang-melintang di dunia film. Keberhasilan Warkop DKI banyak dinilai sebagai perkecualian. Karena yang disodorkan Warkop DKI ialah komedi watak. Komedi watak ini segala sesuatunya bertumpu pada daya tahan improvisasi. Sehingga jika dibangun dalam cerita panjang (film), maka akan jelas bangunan plotnya berantakan.
BAGAIMANA dengan Nya Abbas Akup? Dialah orang yang mendapat julukan tukang ejek nomor wahid. Nya yang meninggal dunia 14 Februari 1991 dalam usia 59 tahun, selama berkarier (37 tahun) menggelindingkan 34 buah film. Tergolong produktif. Dan hanya 7 film almarhum Nya Abbas tidak bertindak sebagai sutradara. Berarti 27 judul yang dibesut, dan hanya 4 judul bertema non komedi.
Komedi garapan Nya betul-betul “mencubit”. Sebagai sutradara, Nya sengaja mengangkat kejadian nyata yang ditemui. Kemudian, mengemasnya dalam wujud sindiran. Sikap demikian sudah terbentuk lewat film pertamanya, berjudul Heboh (TVRI tidak memutar), yang tatkala Nya berumur 22 tahun.
Lantas Nya makin mempertegas pada Tiga Buronan (1957, yang dibintangi Bing Slamet, dan TVRI juga tak menayangkan). Dalam Inem Pelayan Sexy I (yang kemudian diikuti II dan III) serta Karminem (kedua film itu TVRI menayangkan), sangat tegas Nya melontarkan sikap. Bahwa sang sutradara yang pernah memperdalam ilmu penyutradaraan di UCLA, Amerika Serikat, tida kmenyukai kepalsuan maupun kepura-puraan.
Itulah sebabnya, ada yang menyatakan kalau serial Inem – bahkan seluruh karya Nya – selalu sarat dengan kritik sosial. Hanya kritik sosial itu tidak dicetuskan blak-blakan. Cukup melalui kelucuan yang subtil. Inem Pelayan Sexy I salah satu contoh, yang tidak ubahnya suatu sindiran menohok.
Dikisahkan kalau Inem – pembantu rumah tangga – yang sekolahnya hanya sampai kelas 2 (SD), setelah menikah dengan Brontoyudo (konglomerat), ternyata pandai berdialog. Dan Nya menggarisbawahi mengenai sosok Inem ini, kalau seorang pembantu asal diberi kesempatan bukan tidak mungkin intelektualitasnya akan sejajar dnegan nyonya besar.
Kritik model itu memang membuat penonton bakal tersipu-sipu. Penonton memang “tercubit”, tapi tak menyakitkan. Dalam Karminem pun demikian. Penduduk desa yang taat agama tak menerima kedatangan Karminem. Pasalnya, akan menjadi biang keladi kerusakan moral. Isu tersebut ditiupkan.
Nya tidak menutupi, bahwa masalah isu maupun gosip menjadi bagian dalam suatu budaya masyarakat di sini. Juga lumayan tangkas Nya menyindir masalah penggusuran tanah yang dikemukaakan di Kisah Cinta Rojali & Juleha (diputar TVRI). Sengaja Nya dalam film itu mengobrak-abirk tragedy kesohor Romeo & Juliet karya Shakespeare.
Apa yang dilakukan Nya ini menuruti zaman – yang disesuaikan dengan keadaan setempat. Kiranya, Nya pun menurut selera massa ketika membikin Cewek Badung dan Apanya Dong. Cewek Badung dibuat waktu itu penonton bioskop gandrung dengan serial Crazy Boys. Dan Apanya Dong dibikin karena lagu ciptaan Titiek Puspa yang dinyanyikan Euis Darliah (serta berduet dengan Benyamin S) melejit.
Juga sesungguhnya bukan asal jalan TVRI mengetengahkan Sepekan Film Komedi – bisa dikata sebagai sepekan film karya Nya Abbas Akub. Beberapa waktu sebelumnya – akhir April 1992 – Kine Klub Dewan Kesenian Jakarta menyelenggarakan pekan retrospeksi karya almarhum Nya Abbas. Dan TVRI dalam minggu-minggu tenang (bulan Juni 1992-red) ini hanyalah saling melengkapi. Lebih-lebih dalam suasana saat itu.
Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi
SEPEKAN FILM KOMEDI TVRI
TIGA CEWEK BADUNG: “BIRO JASA SEGALA ORDER” (TVRI PROGRAMA 1 – RABU, 3 JUNI 1992 Pkl: 21.30 WIB)
MEREKA tiga cewek penganggur. Kerjanya hanya main-main,
alias mengutak-atik mobil nyentrik berbodi antik. Pada suatu saat mobil merek
amogok di tengah jalan. Seoran gpengusaha memergoki, lalu memberikan pertolongan,
serta menawarkan pekerjaan. Tawaran pekerjaan tersebut diterima, asal kerja apa
saja. Akibatnya, apa yang mereka tangani selalu kacau balau. Ditambah lagi
mereka suka berhura-hura.
Tak disangka, mereka punya ide membuka biro jasa, memberikan pertolongan segala macam kesusahan. Dalam waktu singkat, biro jasa itu berkembang. Malah ada seorang nyonya yang minta tolong mencarikan suaminya yang hilang. Ketiga cewek itu lantas menjalankan tugas, mirip detektif. Mereka berhasil, dan kian kondang saja kiprah mereka.
Pemeran utama: Titiek Puspa, Deasy Arisandi, Enny Haryono,
mang Udel, Benny Gaok, Enny Koesrini
Sutradara, penulis cerita, penulis skenario: Nya Abbas Akup
Batas usia: 17 tahun ke atas
Tahun produksi: 1975
KISAH CINTA ROJALI DAN JULEHA: “PUPUS KARENA PERMUSUHAN ORANGTUA”
(TVRI PROGRAMA 1 – KAMIS, 4 JUNI 1992 Pkl: 21.30 WIB)
IA pemuda Batak bernama Radjaoeli. Karena dialek Jakarta,
namnya berubah menjadi Rojali. Ia pemuda jujur, lugu, rajin, dan mudah jatuh
cinta. Bersama ibunya yang janda, Rojali mengelola warung alias ‘lapo tuak’.
Rojali, jatuh cinta pada penyanyi dangdut kondang, Saloma.
Cinta yang habis-habisan itu mendadak pudar ketika Rojali
bertemu Juleha, anak orang kaya, mantan pejuang kemerdekaan. Cintanya pun sama
besar dengan Rojali. Hubungan Rojali-Juleha awalnya mulus. Hambatan terjadi
karena peristiwa yang membuat ayah Juleha berang: Rojali ketahuan memasuki
kamar anak gadisnya. Rojali dikejar-kejar ayah Juleha. Kejadian tersebut
diketahui ibu Rojali, yang akhirnya naik pitam juga. Duda dan janda pun
bertengkar.
Sesungguhnya, mereka musuh bebuyutan. Padahal, ayah Rojali
dan ayah Juleha teman seperjuangan. Hanya saja, nasib ayah Juleha di atas
angin. Ia bahkan ingin menyerobot tanah milik orangtua Rojali. Permusuhan memang
tak pernah pupus. Akibatnya, Juleha memilih putus. Ia sadar hubungannya dengan
Rojali tidak bermasa depan, cuma bermodal cinta semata.
Pemeran utama: Nanu Mulyono, Lydia Kandou, Titiek Puspa,
Aedy Moward, Elvie Sukaesih
Cerita-penulis-skenario: Nya Abbas Akup
Penata kamera: Anthony Depari
Penata musik: Gatot Sudarto
Sutradara: Nya Abbas Akup
Batas usia: segala umur
Tahun produksi: 1979
KOBOI INSYAF: “PETUALANG SIAP NAIK HAJI” (TVRI PROGRAMA 1 –
JUMAT, 5 JUNI 1992 Pkl: 21.30 WIB)
BONY adalah pemuda berjiwa petulaangan. Dengan penampilan
bak koboi, kehidupannya tak menentu. Kendati demikian, Bony suka menolong. Juga
saat menjalankan ibadah agama. Dlama petualangannya, Bony bertemu Jhontor, yang
pernah kerja di pabrik peti mati. Orangnya periang, tapi ngantukan. Tidak heran
Jhontor akhirnya dipecat dari tempat bekerja.
Bony dan Jhontor menelusuri kota metropolitan. Di salah satu bank, persis di depan mata Bony-Jhontor, terjadi perampokan. Mereka berdua turun tangan. Penjahat berhasil dibekuk. Korbannya, yang ternyata seorang konglomerat, mengucapkan terima kasih adpa Bony-Jhontor, bahkan mengajak menginap di hotel mewah. Tindak tanduk Bony-Jhontor di hotel menjadi sorotan.
Sang konglomerat, menghapai masalah lagi: diteror penjahat. Anak tunggalnya, Indri, diculik. Pak Hidayat menghubungi Bony-Jhontor. Keduanya lantas beraksi. Penjahat dilumpuhkan, Indri pun selamat. Pak Hidayat menawarkan hadiah pada kedua jagoan itu. Bony-Jhontor mau menerima hadiah itu, asal syarat Bonyd ikabulkan. Apa? Uang hadiah yang diterima Bony harap disetorkan ke sebuah bank, untuk ongkos naik haji. Ya, Bony maupun Jhontor akan menunaikan ibadah haji.
Pemeran utama: Benyamin S, WD Mochtar, Muni Cader, Panji Anom, Aminah Cendrakasih, Fauzia Aditianty, Dinna Shanty
Penata kamera: Soleh Ruslani
Penata musik: Franky Raden
Cerita-skenario: Benyamin S
Sutradara: Samsul Fuad
Tahun produksi: 1986
Batas usia: segala umur
KARMINEM: “GURU NYANYI YANG DIMAKI-MAKI” (TVRI PROGRAMA 1 – MINGGU, 7 JUNI 1992 Pkl: 21.30 WIB)
KARMINEM yang malang melintang di kota, ahirnya balik ke desa. Pneduduk desa langsung menyoroti kehadirannya. Di desa yang tenteram serta penduduknya taat beragama itu, Karminem tinggal bersama neneknya. Ia membuka kursus menyanyi, hal yang tak lazim di desa. Padahal, bagi Jalal maupun Herry Koko, hadirnya Karminem merupakan kebahagiaan tersendiri.
Kedua tokoh itu – sama-sama tauke – memang terpandang di desa. Herry mencoba merebut Karminem dengan memamerkan kekayaannnya. Tidak demikian Jalal yang kolektor sepeda motor pun sok modern.
Mereka berdua yang berlaga, tapi justru Naryo yang memetik keuntungan. Naryo, pembantu Karminem, selalu memanfaatkan kesempatan, menggerogoti uang Jalal maupun Herry. Watak Naryo tak beda dengan Prapto – anak Karminem – yang sering bikin kericuhan. Sementara teror terhadap Karminem berlanjut terus. Anak-anak yang dididik Karminem dicibir. Warga desa berpendapat, lebih baik anaknya dididik mengaji daripada menyanyi.
Pemeran utama: Doris Callebaut, Titiek Puspa, Nuke Effendy, Herry Koko, Jalal
Penulis cerita-skenario-sutradara: Nya Abbas Akup
Batas usia: 13 tahun ke atas
Tahun produksi: 1977
APANYA DONG: “GADIS GAGU KARENA TERTEKAN” (TVRI PROGRAMA 1 –
SENIN, 8 JUNI 1992 Pkl: 21.30 WIB)
ENGKO Lian, duda beranak satu (namanya Tie Lian Nio yang berparas cantik), sering ribut dengan tetangganya. Biasanya berawal dari persoalan kecil. Maklum, engko Lian memang cerewet. Kecerewetan itulah yang membuat Tie Lian Nio merasa tertekan, sehingga jarang berbicara. Ia bagai gagu, sukar mengungkapkan isi hati.
Kendati cerewet, engko Lian termehek-mehek sam Pei-Pei, tetangganya. Sementara Sastro, bandot tua yang punya koleksi burung perkutut, jatuh hati pada Nio. Si Sastro selalu menatap Nio jika lagi menjemur cucian. Apalagi Nio jarang pakai kutang, hanya mengenakan kaos oblong transparan. Sementara itu, kang Ibing terlutna-lunta mencari Eti. Ia meminta bantuan Kusman untuk mencari Eti. Dan suatu ketika, kang Ibing menemukan dompet milik engko Lian di jok becak Kusman.
Kang Ibing-Kusman lalu mengembalikan dompet engko Lian. Di rumah engko Lian ,mereka menanyakan alamat Eti, yang ternyata anak engko Lian. Engko Lian marah. Mereka diusir. Ternyata, Eti punya nama lengkap Tie Lian Nio.
Diaturlah siasat untuk bisa ketemu Nio alias Eti. Seblaiknaya, engko Lian merencnaakan menjodohkan Nio dengan anak babah Gemuk (sahabat engko Lian) yang bernama Jangkung. Tapi, Nio dilarikan kang Ibing. Engko Lian mengejarnya dan akan memukul kang Ibing. Tiba-tiba Nio menjerit. Engko Lian kaget. Ternyata, anak gadisnya bisa bicara.
Pemeran utama: Titiek Puspa, Suryana Fattah, Mama Henky, Indra Widiati, Ibing Kusmayatna, Jack John
Penata kamera: Anthony Depari
Penata musik: Ruslan Basrie
Cerita-skenario-sutradara: Nya Abbas Akup
Batas usia: segala umur
Tahun produksi: 1983
CHIPS: “KEKONYOLAN PEKERJA SOSIAL” (TVRI PROGRAMA 1 –
SELASA, 9 JUNI 1992 Pkl: 21.30 WIB)
CHIPS adalah suatu yayasan sosial, kepanjangan dari Cara
Hebat Ikut Penanggulangan Masalah Sosial. Yayasan itu beranggota Dono, Indro,
Kasino, ditambah Lita dan Dece – waria – dengan bos om Juned. Tugas mereka
mengatasi masalah rumit yang dihadapi masyarakat.
Meski begitu, yang ditampilkan film ini justru kekonyolan. Ketika Kasino menolong anak-anak yang sedang mengalami kesulitan mengambil bola, ia justru terjatuh ke sungai. Juga kekonyolan Dono yang perayu. Saat bertugas melihat- cewek-cewek menunggu bus kota, ia segera membelokkan mobilnya ke arah cewek yang menanti angkutan umum.
Mobil Dono nyaris menabrak kendaraan lain. Atau pacaran di mobil yang akhirnya diderek. Juga rangkaian banyolan sewaktu Dono antre bensin. Tangki mobilnya diisi meleibhi kapasitas, 125 liter. Ia marah-marah bhakan melarikan diri. Petugas pompa bensin kalnagkabut.
Itulah film satire gaya Dono cs. Pekerja sosial akhirnya tak profesional. Organisasi CHIPS dibubarkan oleh om Juned sendiri. Dono, Indro, dan Kasino keceaw. Mereka pergi ke rumah Lita yang ulang tahun. Tapi yang terjadi bukannya Lita ulang tahun, tapi pesta perkawinan. Lita menikah dengan om Juned.
Pemeran utama: Indro, Dono, Kasino, Bokir, Sherly malinton, Bokir
Cerita: Warkop
Skenario: Deddy Armand
Sutradara: Iksan Lahardi
Batas usia: segala umur
Tahun produksi: 1983
INEM PELAYAN SEXY I: “PEMBANTU JADI NYONYA BESAR” (TVRI PROGRAMA 1 – RABU, 10 JUNI 1992 Pkl: 21.30 WIB)
ADEGAN dimulai dengan gambar pantat yang megol-megol.
Rupanya, seoran gpembnatu yagn sedang mengepel lantai. Lantas, ia berbalik.
Secara demonstratif, (tak sengaja) kain yang dikenakannya tersingkap. Paha pun
kelihatan. Lalu terdengar dialog: namanya Inem, pekerjaan babu, lalu ‘stopmotion’.
Dikisahkan, rumah tangga tuan Cokro kacau balau karena ditinggal pembantu.
Akibatnya, Cokro selalu kerja terlambat, dan sang nyonya tidak sempat berdandan – apalagi ke salon jika arisan. Anak-anak terkapsak numpang mandi di rumah teman. Hadirlah si pembantu bernama Inem. Tapi, tuan Cokro justru tertarik pada Inem yang bertubuh syur. Jelas, nyonya Cokro sangat cemburu. Tuan Cokro bekerja pada perusahaan milik tuan Brontoyudo. Karena ia tangan kanan tuan Brontoyudo, urusan pribadi direktur juga urusan nyonya Cokro.
Gayung telah bersambut. Tuan Brontoyudo naksir Inem. Nyonya Cokro jelas tidak menghalang-halangi. Daripada cemburu terus menerus, Inem diserahkan pada tuan Brotoyudo. Singkatnya, Inem dilamar, kemudian dinikahi tuan Brontoyudo. Inem akhirnya menjadi nyonya besar – tanpa harus ganti nama.
Pemeran utama: Doris Callebaut, Titiek Puspa, Jalal, Aedy Moward
Cerita-skenario, sutradara: Nya Abbas Akup
Batas usia: 18 tahun
Tahun produksi: 1976
Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi
Dok. Citra – No. 114/III/3-9 Juni 1992, dengan sedikit perubahan

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)




.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar