SEMYON SINULINGGA
PRESTASI. Apa jadinya kalau bahasa Jawa ‘kromo’ diucapkan
dalam logat Batak yang kental? Jawabnya: gerrr penonton sulit direm. Ini
terjadi ketika Drs. Semyon Sinulingga, kepsta TVRI Yogya yang (waktu itu) baru,
menyampaikan sambutan perkenalan di depan karyawannya, Senin, 15 Februari 1988
lalu. Dengan aksennya yang khas, dia bilang: “’Nuwun para rawuh, kulo kalih
istri kulo’…”
Studio I (Jln. Magelang-red) yang dipadati anak buah memang jadi penuh gelak. Juga tatkala lelaki jangkung itu disamperin penari untuk berjaipong. Dia berlenggok bak ‘sigale-gale’, sementara Drs. Ishadi SK, M. Sc., pejabat lama (waktu itu), tampak luwes memainkan selendang. Bekas kepal atata usaha Direktorat Televisi yang doyan kelakar ini, sesungguhnya (waktu itu) bukan orang baru untuk TVRI Yogya. Tahun 1960an dia pernah mengabdi di situ. “Cuma 15 tahun,” katanya. Cuma!?!
Karena itulah Semyon tahu persis perjalanan stasiun daerah tertua yang (kala itu) dipimpinnya itu. “Kalau dulu (sebelum 1988-red) hanya berurusan dengan soal di atas kertas, sekarang (1988-red) ke lapangan dengan setumpuk persoalan yang karakternya lain.” Karena itu pula dia merasa butuh waktu untuk mempelajari situasi. “Sekarang (1988-red) jangan dulu tanya macem-macem.”
Yang pasti, “Saya akan melanjutkan dan meningkatkan prestasi yang pernah dicapai pejabat sebelumnya.” Ketika acara unggulan warisan Ishadi – Profil Budayawan, Khazanah Dunia Pustaka, dan Tanah Merdeka, (waktu itu) tidak akan dihentikan. Malahan dia dibebani satu pe-er yang oleh Ishadi belum sempat dikerjakan, yakni laporan pemberitaan bersifat investigasi ‘reporting’. Laporan kata dan gambar tentang suatu kasus, yang diulas mendalam.
Ditulis oleh: Butet Kartaredjasa
Dok. Monitor – No. 69/II/minggu ke-4 Februari 1988/24 Februari-1 Maret 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar