SEKUNTUM RINDU SARAH, SEGUMPAL SINIS DOEL (SI DOEL ANAK SEKOLAHAN, RCTI - SETIAP JUMAT Pk: 20.00 WIB)

 SIKAP. Kehadiran Sarah di tengah keluarga si Doel, membuat Doel bersikap sinis.

KANGEN, ASEM. Gaya dan lagak kocak Mandra, mas Karyo (Basuki), babe Sabeni (Benyamin S), sebentar lagi (dari kala bacaan ini diturunkan Bintang-red) – waktu itu – akan menghilang. Si Doel Anak Sekolahan harus undur diri. Tapi pemirsa (waktu itu) tak usah kecewa, Rano Karno sebagai pemilik Karno’s Film telah menandatangani kontrak perpanjangan.

Si Doel Anak Sekolahan (waktu itu) akan kembali muncul ke layar RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). Cuma, kapan pastinya (sampai saat itu) belum jelas. “Sebagai penggantinya, Karno’s Film meluncurkan serial Betawi lainnya, Erte Erwe yang tak kalah serunya, sebelum si Doel nongol lagi,” ujar Rano.

Kehadiran Sarah (Cornelia Agatha) membuat suasana rumah Doel jadi ceria. Atun (Suti Karno) dan Mandra tak bosan-bosan mengenakan baju, celana, topi dan kacamata pemberian Sarah. Tapi sayang, Doel (Rano Karno) tak bisa menikmati. Doel malu dan kecewa. Akibatnya, Doel seringkali berbuat dan berkata yang nadanya sinis, kecewa dan putus asa. Sarah benar-benar kangen dengan suasana keluarga Betawi.

 








































Kangen dengan tingkah Atun dan Mandra, kangen akan nikmatnya sayur asem yang tak pernah dirasakannya di Belanda. Dan yang terpenting kangen dengan Doel, yang selalu terbayang di kepalanya. “Kangen sama gue,” ujar Doel keheranan ketika ngobrol berdua dengan Sarah.

 

“Iya, kenapa? Nggak boleh?,” ujar Sarah. Doel kaget dan terdiam. Lantas, kenapa Doel bersikap sinis? Apakah Doel tidak suka dengan kehadiran Sarah, dan lebih menerima kehadiran Zaenab (Maudy Kusnaedy)? Dalam dua episode terakhir (pada ‘season’ 2-red), jawaban dari sikap sinis Doel terhadap Sarah tidak ada. Demikian juga soal Zaenab. Tokoh Zaenab memang muncul dalam episode Sekuntum Rindu ini. Tapi tak lebih dari 5 menit. Bisa jadi, Doel tidak bertutur secara sinis.

 


























Doel lebih berbicara kenyataan pahit yang dialaminya. Doel sadar, keberadaan dirinya, keluarganya dan masyarakat Betawi, sebentar lagi mesti tergusur. Tidak oleh siapa-siapa, tapi oleh perkembangan zaman. “Hari ini kita bisa ngobrol di sini di rumah ini. Tapi gue yakin hal ini sebentar lagi tinggal kenangan. Orang-orang kayak gue mau nggak mau harus ke pinggir karena perkembangan zaman,” ujar Doel sedih.

Namun di balik kesedihan itu Doel tetap optimis. Doel kembali tekun mencari kerja. Babe Sabeni mulai sadar dan menyesal melarang-larang Doel. Babe menyarankan Doel mendatangi kembali kantor minyak itu. Tapi sayang, sudah ada orang lain yang menempati. Di sisi lain, Mandra, Atun dan mas Karyo berasyik ria dengan oleh-oleh yang dibawa dari Belanda itu.

Saking asyiknya, mas Karyo yang mengalami gegar teknologi, terluka karena salah memakai alat pencukur kumis betenaga baterai. Untuk itu, mas Karyo menemui Sarah supaya ditukar dengan yang lain. Sarah setuju. Tapi Mandra yang protes. Pertengkaran pun terjadi. “Kamu itu, sopir oplet saja, pakai kacamata berenang. Memangnya mau ke pantai?,” sindir mas Karyo. Atun dan Mandra tersadar, dan meminta Sarah mengajaknya ke pantai. Sarah setuju.

Ditulis oleh: Adi Pamungkas

Dok. Bintang – No. 214/Th. V/minggu kelima Maret 1995, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer