SARAH VI: "SI INEM YANG TAK MAU DIEKSPLOITASI"
“Nama saya Inem. Status saya janda beranak satu. Kata
orang-orang di kampung, saya ini wanita cantik dan seksi.”
ITULAH dialog pembuka sinetron Inem Pelayan Seksi yang ditayangkan Indosiar setiap Jumat malam. Dengan suara kenes dan manja, Sarah Vi atau lengkapnya Syarifah Helvira Djamalilleil, pemeran si Inem, mengucapkan kalimat itu. Duduk di atas dipan kayu dengan menyilangkan kaki jenjangnya, dalam lilitan kain dan busana bagian atas yang “membolehkan” kita melihat bahu mulusnya, Sarah memang nampak seksi.
Gadis (era itu) bertinggi/berat 170 cm/55 kg ini, mengaku awalnya sempat risih berpakaian seperti itu. Tapi ia mencoba berpikir positif. Pakaian seperti itu memang sesuai dengan Inem yang wanita desa. Tapi tak urung, ayahnya sempat sewot. Meski kemudian mengalah setelah diberi penjelasan. Ibunya lebih lunak. Ia cuma wanti-wanti, yang penting tidak ada adegan yang menjurus “ke sana”.
Sarah kecil sama sekali tidak pernah bermimpi jadi artis. Sebagai bungsu dari enam bersaudara yang semuanya laki-laki, Sarah tumbuh sebagai anak tomboy dan berotot. Sepakbola, layangan, pencak silat, merupakan mainan sehari-hari putri pasangan Abdul Rachman Djamalilleil dan Luthfiah Barkah Al-Gaity ini. Menginjak masa SMP, ketomboyannya sedikit berkurang.
Ia mulai suka mengenakan rok. Dia juga mulai menyadari kecantikan dan posturnya yang bagus. Ia pun mulai memberanikan diri ikut berbagai kontes kecantikan. Tak sia-sia usahanya, berbagai gela rpernah disandangnya, antara lain Putri Bunga Mirabella, Mojang Priangan 1993, Putri Citra Fotogenik Indonesia 1995, Putri Kerudung 1996.
Bahkan tahun 1996 lalu di Singapura, ia dinobatkan sebagai Ratu Pengantin ASEAN dan Ratu Pakaian Terbaik ASEAN, menyisihkan sekitar 75 kontestan dari 6 negara. Sempat pula ia dikontrak sebuah agen di Singapura untuk menjadi model iklan kartu ‘discount’ mereka.
Karier di dunia akting dibuka Sarah lewat sinetron produksi Assabellina Film, Om Bahlool (SCTV). Di situ ia hanya jadi bintang tamu. Kemudian ia dapat tawaran dari sutradara beken Ali Shahab untuk ikut memperkuat sinetron Joni Gila (SCTV). Kali ini meningkat, sebagai peran pembantu. Baru di Inem Pelayan Seksi (Indosiar), gadis (era itu) berhidung mancung ini dipercaya sebagai pemeran utama.
Awalnya, Sarah sempat ragu menerima tawaran sebagai Inem. Takut akan imej Inem di film yang genit, tidak punya sikap, dan seksi! Di asmping itu, ia juga sedikit menemui kesulitan dalam menjiwai karakter Inem. Katanya, sosok Inem sebagai janda beranak satu bertolak belakang dengan kehidupannya sehari-hari.
“Saya nikah saja belum,” kata cewek berdarah Arah-Jawa kelahiran Malaysia, 26 April 1976 (kala itu). Tapi, Sarah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Apalagi perjalanannya untuk bisa terpilih sebagai Inem, tidak mudah. Ia harus menyisihkan sekitar 100 pesaing.
Apa karena bertubuh seksi, Sarah terpilih? “Pemeran Inem pasti dipilih yang seksi. Tapi kalau kriterianya cuma itu, banyak calon lain yang lebih seksi dari saya. Saya kira, selain seksi, kepribadian dan kemampuan akting turut menentukan!,” tegas Sarah yang rajin menari dan banyak makan sayuran serta buah-buahan, untuk merawat kecantikan wajah dan keindahan tubuh. Perawatan khusus juga dilakukannya untuk bagian-bagian tubuh tertentu.
Mahasiswa Akademi Bahasa Asing tahun terakhir (era itu) ini, memang amat peduli pada penampilan fisiknya. “Itu penting, tapi bukan untuk dieksploitasi! Makanya, saya ingin mengubah imej Inem! Caranya dengan bermain sewajarnya, tidak dibuat-buat! Jangan sampai menimbulkan kesan genit dan menggoda!,” tandasnya.
Ditulis oleh: Slamet Riyadi
Dok. Bintang – Edisi 321/Th. VII/minggu pertama Mei 1997, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar