SAAT DAVID KORESH MASIH BERTAHAN UNTUK TIDAK MENYERAH, KRU NBC MULAI MEMFILMKAN KISAH HIDUPNYA

 TRAGEDI. David Koresh, pimpinan sekte ranting Davidian yang membuat heboh Amerika dalam tragedi Waco (kiri) dan Tim Daly yang memerankan sosok David dalam In The Line of Duty: Ambush In Waco

TANGGAL, TRAGEDI. Minggu, tanggal 23 Mei 1993 ini, stasiun televisi NBC di Amerika (waktu itu) akan menayangkan film yang diangkat dari kisah nyata sepak terjang David Koresh, (saat itu) 33 tahun, pimpinan Ranting Davidian, sebuah sekte agama yang mengaku dirinya sebagai Yesus Kristus dan menghimpun senjata api dalam jumlah besar di markasnya.

Tayangan film yang (waktu itu) akan dimulai pukul 21.00 hingga 23.00 dan diberi judul In The Line of Duty: Ambush in Waco ini, (perkiraan waktu itu) bisa jadi sebuah fenomena menarik. Inilah contoh besutan, yang (saat itu) sudah pasti akan ditunggu pemirsa dan skealigus menguntungkan. Film dokudrama ini memenuhi syarat: (waktu itu) masih aktual dan memiliki kandungan emosi yang tinggi.

Pembuatan film ini bisa jadi merupakan momen tersendiri di mana televisi bisa membuat film dokudrama sementara peristiwanya (waktu itu) masih berlangsung. Dua kelebihan di atas makin bagus lagi, dengan ditunjang tepatnya NBC memilih hari dan jam siarnya. Seperti kita ketahui, tragedi Waco, Texas, Amerika, tidak saja menguras emosi masyarakat AS, melainkan penduduk dunia.

Setelah dikepung 51 hari oleh pihak berwajib (dari tanggal 28 Februari, setelah penyerbuan yang salah perhitungan oleh 91 orang petugas biro ATF – ‘Alcohol, Tobacco, and Firearms’ – alkohol, tembakau, dan senjata), David Koresh yang bernama asli Vemon Howell dan para pengikutnya masih mampu bertahan. Dan pada tanggal 19 April mereka ramai-ramai melakukan aksi bunuh diri massal dengan membakar diri sekaligus markas mereka.

Perhatian penduduk dunia langsung tertuju ke ‘Ranch Apocalypse’ – Rumah Perwahyuan, demikian pengikut David menyebut markas mereka. Korban yang jatuh mencapai angka 85 jiwa, 17 di antaranya diperkirakan anak-anak (era itu).

Tentang jalannya syuting film itu sendiri, banyak hal yang menarik. Pada tanggal 1 Maret 1993, yakni sehari setelah berita penyerbuan petugas ATF dinyatakan gagal, eksekutif produser Kenneth Kaufman (jawara pembesut film model dokudrama yang antara lain membuat film In The Line of Duty: The FBI Murders, menerima telepon khusus dari para petinggi NBC, yang memintanya untuk memfilmkan tragedi Waco.

NBC berambis imengemas sebuah tontonan yang menarik dan diperhitugnkan bakal memiliki rating tinggi. Dan itu berarti hanya 11 ½ minggu waktu yang dimiliki Kenneth Kaufman. Hebatnya, 24 jam sesudah telepon tersebut, seluruh kru yang dipimpin oleh sutradara Dick Lowry telah siap.

Dua hari kemudian, Wendell Rawis, wartawan yang pernah menyabet ‘Pulitzer’ (penghargaan jurnalistik bergengsi di AS) disertai desainer produksi Guy Barnes, dikirim ke Waco untuk mengamati dan melakukan riset. Kenneth menyimpulkan para awaknya bekerja bagai, “Wartawan sekaligus pembuat film pada waktu yang sama,” katanya pada majalah ‘People’.

Keakuratan data dan adegan diperhitungkan dengan matang. Sebuah set yang sangat mirip markas David Koresh sengaja dibangun di kawasan Tulsa, negara bagian Oklahoma. Pelataran sekitarnya juga diusahakan mirip. Beberapa pohon sengaja dibabat atau ditanam agar sesuai keadaan aslinya. Selama syuting, keakuratan juga tetap dijaga.

Di minggu kedua syuting, ada interupsi dari sang wartawan yang melakukan riset. Adegan penembakan pada saat penyerbuan, menurut Wendell Rawis salah arahnya. Dengan segera sang sutradara mengulang adegan sesuai yang terjadi di Waco.

Cerita In The Line of Duty: Ambush In Waco (waktu itu) akan dibuka pada waktu sekitar tahun 1991, saat David Koresh mulai merekrut pengiktunya dan ditutup dengan penyerbuan tanggal 28 Februari. Pemeran utamanya adalah Tim Daly, (waktu itu) 37 tahun, (pemeran seri Wings, yang diputar RCTI/SCTV setiap hari Minggu pukul 20.30), yang secara menakjbukan sungguh mirip David Koresh, meski belum dirias dan diberi kacamata.

Pada saat mulai syuting, menariknya, para kru dan pemain, sambil bekerja mereka mengikuti terus perkembngan drama pengepungan di Waco melalui stasiun televisi CNN. Pemilihan ‘ending’ dengan klimaks penyerbuan tanggal 28 Februari, sebenarnya sebuah pertaruhan tersendiri. Bila drama Waco berakhir dengan menyerahnya David Koresh beserta pemgnikutnya, maka pilihan tersebut sangat tepat.

Namun, yang terjadi di tanggal 19 April, dengan kejadian bunuh diri massal, adalah sesuatu yang di luar perhitungan. Artinya, film ini akan lebih menarik lagi bila ditutup dengan adegan yang terjadi di hari Senin Hitam itu. Tapi untuk merombak skenario rasanya sangat sulit, mengignat batas ‘deadline’ yang sudah diambang pintu (dijadwalkan syuting film ini usai tanggal 1 Mei 1993). Karenanya, Tim Daly jadi merasa serba salah.

“Tanggal 19 April (1993-red), Senin pagi, saya memerankan tokoh yang masih hidup. Siangnya, saat usai makan siang, saya memerankan tokoh yang sudah mati,” keluh bapak dua anak ini pada majalah ‘Entertainment Weekly’.

Dari pembuatan film ini, ada tudingan bahwa NBC mengail di air keruh, meraup keuntungan iklan dan rating penonton dari tragedi nasional. Tapi sang produser tidak kaget dengan tuduhan itu. “Kami membuat sebuah film, dan kami berharap bisa mengisahkan cerita yang menarik,” katanya, menyanggah tudingan meraup keuntungan dari air mata orang.

“Bagaimana dengan acara Prime Time Live atau 48 Hours atau acara Nightline? (acara khusus berita hangat andalan stasiun ABC yang dipandu oleh Ted Koppel). Acara-acara itu juga menyiarkan secara khusus tentang tragedi Waco. Apakah mereka juga meraup keuntungan? Apakah motivsi mereka lebih murni dari film televisi?,” sanggah Kenneth Kaufman pada majalah ‘People’.

Kenyataan seperti ini rasanya terjadi di manapun. Bukankah selama Perang Teluk berlangsung, tiras koran di sini juga naik? Ini adalah hubungan sebab-akibat. Apa yang dilakukan oleh awak NBC pernah juga dilakukan awak film kita. Ketika orang sedang hangat-hangatnya  membicarakan tragedi Arie hanggara, dengan segera pula orang bisa menonton filmnya.

“Drama yang terjadi saja sudah menarik, apalagi ditunjang emosi orang yang kuat,” ungkap Arswendo Atmowiloto yang menulis skenarionya, waktu itu. Film itu memang laku. Yang menjadi fenomena adalah, bagaimana dengan cepatnya kru NBC membuat sebuah film, yang seakan berlomba dengan kejadiannya sendiri? Ini merupakan sebuah fenomena sekaligus tantangan.

Ditulis oleh: Gunawan Wibisono – dari berbagai sumber

Dok. Bintang – No. 117/Th. III/minggu ketiga Mei 1993, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer