ROCKET (RCTI/SCTV) DIUSULKAN JADI PROGRAM BERITA MALAM

ROCKET digelar RCTI, Rajawali Citra Televisi Indonesia, tiap Sabtu, 17.30 WIB. Seminggu kemudian, Sabtu, 17.00 WIB, pemirsa yang berdomisili di wilayah Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan) yang bisa menyaksikan paket yang sama lewat tayangan SCTV, Surabaya Centra Televisi (belakangan itu berubah jadi Surya Citra Televisi-red).

Di televisi swasta Indonesia – yang nantinya juga disusul di Bandung, Denpasar, Medan, Ujungpandang, dan entah mana lagi – dari sisi jam siarnya, terutama dikaitkan dengan pemasangan iklan, bisa dibagi jadi tiga. Pertama, dari Senin sampai Minggu, 11.00-20.00, kedua: Senin sampai Jumat, 17.30-20.00, dan Sabtu-Minggu, 11.00-20.00, dan ketiga: Senin hingga Jumat, 13.00-17.30, dan Sabtu, 08.00-11.00 serta 23.30 hingga usai.

Rocket diudarakan pada jam siar kelompok kedua. Rocket bukan satu-satunya paket musik di RCTI dan juga SCTV. Paket-paket yang lain, kita lupakan dulu dalam tulisan ini.

 


Dengan nama agak lain dari paket musik lain di RCTI/SCTV – seperti American Top Ten (ATT) dan Chart Attack (CA), Rocke tmemang produk lokal pertama yang digarap Rocket Entertainment Incroporation (REI) pertama kali disiarkan pada minggu pertama, Agustus 1989. Hingga Agustus 1990, Rocket sudah mencapai paket ke-60.

Dengan target siar satu jam, paket Rocket boleh dibilang jadi andalan bagi kelangsungan RCTI. “Acara ini menuntut kerja keras, kemampuan, dan bakat banyak orang,” jelas Scott, pengarah acaranya. Dua hal terakhir ini diartikannya sebagai sisi khas paket video musik ini: ada bingkai cerita.

Dengan bingkai ini, (waktu itu) akan muncul karakter tersendiri setiap kali Rocket ditayangkan lewat pembawa acara Jeffry Waworuntu dan Gladys Suwandhi. Konsekuensinya dari uasha memunculkan karakter ini, jelas, harus terus berkreasi dalam cerita. Tentu, tujuannya agar Rocket menyedot perhatian penonton.

Tidak itu saja. Sisi cerita itu sendiri jgua jadi bagian dari komentar maupun informasi tentan gmusisi, penyanyi, grup musik, atau kejadian aktual.

Membuat paket musik memang tidak bisa serampangan, karena menyangkut banyak selera berbagai golongan. Mungkin bisa dicontoh, pihak REI punya konsep yang jelas akan soal ini. Dengan perkiraan sekitar 60% penonton Indonesia berumur (ketika itu) 20 tahun ke bawah, perhitungan target usia pemirsa Rocket berkisar antara (yang waktu itu umurnya) 14 sampai 25 tahun. Memang terasa agak kaku, sebab, siapa yang bisa membatasi dengan jelas penyuka video musik?

 


Tak apa, lebih baik bermuluk-muluk daripada tidak mencoba berusaha menentukan. Materi video musik yang disajikan berasal dari segelintir perusahaan rekaman dalam negeri yang ingin mempromosikan album-album produk mereka. Karena hanya promosi, REI hanya memanggungkan  tanpa bayar – video musik yang sudah disediakan perusahaan bersangkutan. Di antaranya: Kings, Musica, dan Aquarius, WEA/EMI, Kings Records.

Yang terakhir ini menjadi penyedia terbanyak untuk REI. Dengan jatah siar satu jam, jumlah lagu yang disuguhkan berkisar antara 8 sampai 10 judul. Penyeleksian lagu-lagunay sendiri tidak macam-macam. Dalam arti, tidak ada pertimbangan lain yang menyangkut kepentingan di luar unsur musiknya sendiri. Kecuali sisipan iklan yang cuma membutuhkan durasi sekitar sembilan setengah menit.

Scott menekankan, lagu-lagu yang tampil selalu yang populer, dan ada kaitan antara satu (lagu) dengan lainnya. Hubungan dalam lagu ini diperhatikan, mengingat selera penonton di Indonesia amat beragam. Jadi, Rocket tidak bisa cuma diisi dengan Jason Donovan atau lagu-lagu berirama rap melulu, karena penonton bakalan boasn. “’Make’ campur,” tambahnya.

 


SCOTT sendiri mulanya menyangka pemirsa di Indonesia lebih berorientasi ke jenis pop. Ia cukup kaget sewaktu tahu bahwa penggemar ‘rock ‘n roll ‘dan ‘heavy metal’ lumayan digandrungi anak-anak muda (era itu) di sini. Kekagetan demikian (perkiraan waktu itu) mungkin akan muncul lagi. Siapa tahu, variasi tyaangan Rocket seperti satu paket khusus grup dan musisi bekrulit hitam, atau Inggris, atau Australia dapat menimbulkan tanggapan? Apalagi dengan mulai seringnya artis asing mengadakan ‘show’ di Indonesia.

REI pasti pasang kuda-kuda sejak jauh hari, entah dengan informasi bagi penonton, atau persiapan wawancara dengan sang bintang sendiri. Tommy Page dan Richard Marx beberapa saat sebelumnya, contohnya.

Meskipun musik menjadi inti sajian, unsur cerita atau drama pendek tetap jadi bagian dari keseluruhan paket. Secara sederhana, penonton seolah diajak masuk dan mengikuti cerita, biarpun yagn lebih banyak tampil adalah video musik.

Supaya tambah merasuk – atau malah penasaran – latar belakang cerita rata-rata berlokasi di luar studio. Beberapa yang (waktu itu) sudah dilakukan antara lain adalah restoran khas Meksiko, pulau Ayer (Kepulauan Seribu), dan Hotel Borobudur, Jakarta.

Biarpun (waktu itu) belum lumrah untuk ukuran hidup di Indonesia, ide cerita – hasil rembukan Scott dan para asistennya: Tino Saroenggalo (koordinator produksi), Maya, dan Fifi (pembantu umum) – memang disengaja dibikin agar penonton bertanya-tanya.

Misalnya, Gladys sebagai ‘senorita’ (gadis Meksiko) di tengah adegan koboi-koboian Meksiko, atau Jeffry yang terdampar di sebuah pulau dan bertemu cewek cantik, atau agen rahasia yang diperankan Sophia Latjuba sebagai bintang tamu. Dari pengalaman selama setahun, Rocket mulai dirancang untuk jangka panjang lewat cerita yang (waktu itu) akan saling berkait.

Dimulai sejak paket 15 dan 22 September 1990 yang berkisar soal penyelamatan formula rahasia, Rocket (waktu itu) akan berkeliling ke seluruh provinsi di Indonesia. Sementar aitu, untuk menyesuaikan diri dengan siaran RCTI non-dekoder, paket-paketnya semasa masih dengan dekoder sesekali (waktu itu) akan ditayangkan juga.

Tapi ini bukan berarti beban kerja berkurang. Dalam proses ‘editing’ misalnya. Sekalipun ‘editing’ dilaksanakan staf RCTI, Scott tetap turut terlibat dalam penentuan bagian-bagian penting tiap paket. “Saya bertanggung jawab penuh, setidak-tidaknya kalau ada kesalahan, itu salah saya.”

Tanggung jawab demikian kelihatannya sudah diuji sewaktu paket ini pertama kali ditayangkan. Ternyata banyak yang mengkritik, bahwa Rocket terlalu informal, tidak dewasa, pembawa acranya terlalu kolot, konyol, dan kurang canda. Malah ada yang menguuslkan agar dikemas seperti program berita saja dan disiarkan malam hari.

Dilihat dari paket yang kebanyakan diisi oleh artis dan grup aisng, risiko itu bisa saja membesar. Toh Scott yakin bahwa Indonesia dianggap terbuka untuk penampilan bintang dengan aneka warna kulit. Dan Rocket sendiri sebenarnya terbuka lebar untuk musisi, penyanyi, atau grup asli Indonesia.

Toh, dari paket-paket yang (sampai saat itu) sudah ditampilkan, penyedia video musik artis Indonesia (waktu itu) masih terlalu sedikit. Padahal, Scott sempat memuji kehebatan ‘show’ Kantata Takwa beberapa waktu yang sebelumnya.

Dok. Bintang, No. 01/24 Oktober 1990, dengan sedikit perubahan 

Komentar

Postingan Populer