RADIO PESONA, KHUSUS MELAYANI WANITA

 Salah satu penyiar radio Pesona FM, Wati Hanafi

KREDIBILITAS, KOMPELKSITAS. Wanita Jakarta adalah wanita modern yang (waktu itu) tengah memasuki masa transisi. Dalam segi berbelanja, misalnya, mereka mulai menginginkan kemudahan-kemudahan seperti berbelanja di supermarket, dan mulai jarang belanja di pasar-pasar (waktu itu). Wanita Jakarta juga ingin mandiri, ingin diakui keberadannya.

Mereka ingin tampil dan memiliki keinginan untuk menjadi pemikir. Ini adalah sebagian kecil citra wanita Jakarta yang dipotret Radio Pesona. Dari situlah Radio Pesona yang dulunya bernama Aigos, memilih wanita Jakarta yang berusia (kala itu) 20 sampai 40 tahun sebagai sasaran siarannya.

“Populasi wanita cukup banyak di Jakarta. Kita lihat belum dua media elektronik, khususnya radio di jalur FM, yang melayani wanita secara khusus. Lalu kita coba memulai dan ternyata prospeknya cukup baik. Karena dari segi komersialnya, Pesona cukup punya potensi. Banyak produk-produk yang diperuntukkan untuk wanita. Dan wanita yang sudah berumahtangga itu banyak yang menntukan kalau membeli suatu produk,” jelas Sumaryono, penanggung jawab Radio Pesona.

Dari beberapa program khusus yang diberikan, Pesona ignin meningkatkan harkat wanita Jakarta melalui beberapa aspek, seperti segi hukum, seksologi, psikologi, kecantikan dan lain-lain.

“Pendidikan seks bagi yang sudah berkeluarga, merupakan problem yang penting di Jakarta saat ini (1992-red). Karena banyak orang yang mengalami kegagalan dalam keluarga, diakibatkan ketidaktahuan masalah seks. Metode yang kita pakai tidak berbentuk ceramah. Kita sengaja memanggil pakar-pakar untuk berdialog dengan pendengar, baik lewat telepon maupun lewat surat. Kita memanggil pakar untuk kredibilitas saja!,” tutur Sumaryono mantap.

Memang, mereka yang didatangkan secara rutin ini benar-benar orang yang mumpuni di bidangnya. Kartono Muhammad mengisi acara kesehatan, Naek L. Tobing mengisi acara seksologi, Yanti D. Subargo mengisi acara psikologi. Dan mulai bulan Mei 1992 ini (waktu itu) akan diadakan acara Pesona Wanita dan Prestasi dengan mendatangkan Pertiwi Bob Hasan.

Dalam acara yang (waktu itu) baru ini (ketika itu) akan diberikan kiat para wanita yang sukses di bidangnya masing-masing, sekaligus ingin menunjukkan pada wanita Jakarta, bahwa sebenarnya wanita juga memiliki peluang yang sama untuk meraih kedudukan yang tinggi.

“Yang kita inginkan dari pendengar kita adalah agar mereka menjadi wanita yang mandiri, berwawasan luas, dan berkepribadian. Bukan wanita yang gampangan dan hanya tahu hura-hura. Mereka kita berikan informasi atau pendidikan informal yang dapat meningkatkan citra mereka, dengan program-program khusus yang dibuat atas kerjasama dengan instansi atau para ahli dalam berbagai bidang,” kata Wisnu Prayudha, kepala bagian siaran Radio Pesona.

Meskipun wanita Jakarta memiliki kompelskitas dalam hal pendidikan dan latar belakang ekonomi, Pesona berusaha mencari secara terus-menerus dengan membuat suatu paket acara yang memang merupakan kebutuhan bagi sebagian besar wanita Jakarta. “Pendengar Jakarta sudah kritis, tinggal bagaimana kita membuat daya tarik untuk memikat mereka dengan membuat acara yang benar-benar mereka butuhkan.

Bagaimana pandai-pandainya kita mengetahui sekaligus memenuhi kebutuhan mereka. Kita harus bisa mengepaskan selera mereka. Psikografinya bagaimana, gaya hidupnya bagaimana, trendnya seperti apa, itu yang patut kita pertimbangkan,” kata Sumaryono. Dengan niatnya untuk meningkatkan citra wanita Jakarta, Pesona FM, yang berada di gelombang 103,7 MHz, dituntut memberikan siaran yang bermutu kepada pendengarnya.

“Pendengar kita sudah kritis. Kita harus mengembangkan potensi manusianya. Meskipun sampai sekarang (1992-red) belum ada sekolah ‘broadcast’, kita harus optimis. Dengan kerja secara profesional, ktia bisa maju. Kerja radio adalah kerja tim, bukan individu. Dan kita selalu belajar dari pengalaman-pengalaman,“ ujarnya (waktu itu).

Radio yang memilki 4 penyiar cewek dan 3 penyiar cowok (waktu itu) ini, tidak terlalu mempedulikan pendengar laki-laki. “Terserah mereka mau mendengarkan atau tidak, pendengar laki-laki nggak kita pikirin. Ini sudah konsekuensi kita,” ucap Sumaryono.

MELADENI, MEMBANTU. Pada sela-sela acaranya, Radio Pesona FM selalu menganjurkan kepada pendengarnya untuk tidak meladeni pedagang asongan, dengan cara tidak membeli sesuatu pun yang dijual oleh pedagang asongan. Menurut Ria Sambas, salah seorang penyiar Pesona lulusan IKJ, Radio Pesona hanya membantu pemerintah daerah dalam menertibkan pedagang asongan.

“Dampak negatif dari pedagang asongan itu khan timbulnya kemacetan. Cara yang paling mudah untuk menghilangkan kemacetan adalah menertibkan pedagang asongan,” kata Ria. Penyiar yang (waktu itu) baru 9 bulan bergabung ini menjelaskan, bahwa Pesona tidak bermaksud meniadakan sama sekali pedagang asongan, melainkan sekadar menghimbau pendengarnya untuk menciptakan ketertiban.

Maksud dari himbauan itu sesungguhnya untuk memindahkan pedagang asongan ke tempat yang lebih wajar, misalnya di pasar-pasar inpres. “Bukan berarti kami tidak menolong pedagang asongan, kami menolongnya dalam bentuk lain,” kata Ria tanpa menjelaskan secara nyata bentuk bantuan itu. “Ini hanya dalam rangka membantu pemerintah saja,” katanya.

Ditulis oleh: Asep Sambodja

Dok. Bintang – No. 65/Th. II/minggu keempat Mei 1992, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer