PULANG: "PAHLAWAN YANG TERSIKSA DI DESA SENDIRI" (TPI - RABU, 19 AGUSTUS 1992 Pkl: 09.30 WIB)
PULANG, sebuah ‘teleplay’ garapan Ali Shahab (dari roman karya Toha Mohtar), diangkat ke layar TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) tanggal 18, 19, dan 20 Agustus 1992 ini. Sekalipun ber-‘setting’ zaman perjuangan, Pulang sebetulnya lebih bercerita tentang manusia.
Pilihan Ali Shahab untuk mengangkat karya sastra terbitan Pustaka Jaya ini, selain untuk menyambut HUT RI (ke-47, red), juga untuk mengenang Toha Mohtar yang (waktu itu) baru meninggal, 17 Mei 1992 lalu, dalam usia 60 tahun.
HB Yassin, lewat harian Kompas pernah mengatakan, “Kisah Pulang sangat sederhana, tetapi bercerita tentang manusia biasa dengan segala keinginannya yang universal dan melampaui batas-batas negara.” Cerita diawali ketika Tamin pulang dari Burma (belakangan itu Myanmar) sebagai Heiho. Tujuh tahun Tamin pergi. Ketika pulang, ia mendapatkan kenyataan yang pahit. Tanah milik keluarganya yang dulu berhektar-hektar, kini ludas tak bersisa.
Tamin jadi merasa berdosa. Ia telah melalaikan pesan sang ayah agar menjaga tanah pusaka itu sekalipun barang sejengkal. Ketika warga desa bersepakat memperbaiki makam Pardan dan Gamik sebagai makam pahlawan, Tamin diminta bercerita tentang pengalamannya selama menjadi Heiho. “Saya meninggalkan Burma bersama rombongan Heiho yang paling akhir. Kapal yang saya tumpangi berlabuh di Tanjung Priok.
Saya hanya dapat menggabungkan diri bersama beberapa bekas Heiho ke dalam Laskar Rakyat. Dan bersumpah tak hendak pulang ke kampung sebelum perjuangan berakhir….” Cerita singkat itu mendapat protes. Tamin yang kepepet dan bingung hendak bercerita apa, akhirnya berceita bohong tentang Gunung Putri dan Gunung Cupu di pinggir Tasik.
Sejak itulah, Tamin jadi muram. Cerita bohong itu ternyata telah berbalik memukul dirinya sendiri. Tamin merasa gelisah telah menipu banyak orang kampung. Cerita itu sendiri akhirnya merambah ke mana-mana serta menjadi omongan semua orang. Tamin justru tersiksa di desanya sendiri.
Tamin pergi ke Surabaya. Di perantauan itu ia malah semakin tersiksa. Kabar terakhir (kala itu) menyebutkan, ayahnya meninggal setelah kepergian Tamin. Tamin, satu sisi adalah mitos pahlawan desanya yang diagungkan. Sisi lain, ia tak lebih sebagai manusia dengan segala kekurangannya.
Ditulis oleh: Jodhi Yudono
Pemeran: Piet Pagau, Charlie S., Andi Anzi
Cerita: Toha Mohtar
Skenario: Ali Shahab
Sutradara: Ali Shahab
Ditulis oleh: Jodhi Yudono
Almarhum Toha Mohtar meninggal akibat gangguan pernapasan setelah terbaring lama di rumah sakit Mitra, Jakarta Timur. Meninggalkan seorang istri, Tjitjih Sudarsih, 7 orang anak dan 3 cucu, laki-laki kelahiran Ngadiluwih, Kediri, 17 September 1926 ini, masih sempat menyelesaikan karya terkahirnya, Pelarian. Karya tersebut baru selesai 100 halaman dari 120 halaman yang direncanakan.
Toha Mohtar juga mengalami gangguan penglihatan, setelah pendarahan retina tahun 1983. Itu sebabnya, Toha selalu dibantu anak-anaknya dalam pengetikan naskah.
Novel Pulang karya almarhum Toha Mohtar, tahun 1960 sempat memperoleh penghargana hadiah sastra nasional dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN). Kemudian dicetak ulang tahun 1971 (cetakan kedua dan ketiga) oleh Pustaka Jaya.
Keluwesan bahasa dan gaya penuturan Toha yang sederhana menjadikan karyanya banyak dipuji. Masa-masa penindasan Jepang yang sempat dialami, seakan kembali terbangkitkan lewat Pulang ini. Dilema sang tokoh merupakan cermin pemahaman Toha akan situasi saat itu.
Kepahlawanan, pengkhianatan, dan perjuangan hidup menjadi dasar pemikiran yang menarik untuk ditelaah. 1992, Ali Shahab mengemasnya dalam bentuk drama TV. (Pertanyaan waktu itu) akankah lebih bagus dan disuka? (Waktu itu) saksikan saja sajian tiga hari layar TPI (Televisi Pendidikan Indonesia).
Ditulis oleh: Aris Muda Irawan
Dok. Citra – No. 125/III/19-25 Agustus 1992, dengan sedikit
perubahan



Komentar
Posting Komentar