PROFIL - YANTTI ARYANTO: "NGUMPET DI LEMARI"
Ia (waktu itu) terbilang gres dalam dunia musik pop Indonesia. Baru satu album dirilis (sampai saat itu), Dengarlah Kasih, produksi Supranada Abadi. Judul itu pula yang paling diandalkan menjual, sekaligus mempopulerkan nama penyanyinya, Yantti Octavia Aryanto. Lagu itulah yang belakangan itu sering nongol sebagai selingan di stasiun televisi swasta (RCTI, SCTV, Indosiar, ANTV, TPI-red). Dan pada April 1995 ini, muncul dalam paket baru RCTI (waktu itu) yang dipandu Denny Malik, Galaksi.
ANAK sulung dari tiga bersaudara dari pasangan Aryanto, (waktu itu) 46 tahun, dan Etty, (waktu itu) 40 tahun, ini sebetulnya (sampai saat itu) sudah lama diproyeksikan jadi penyanyi. Ayah dan ibunya, kebetulan berwiraswasta sebagai produser.
Master album perdana Yantti itu juga produksi ortunya sendiri. Ibunya malah sempat dikenal sebagai penyanyi pop Sunda, Etty Aryanto. Selain punya sanggar seni tradisional Sunda, sedikitnya pernah membuat satu album, Asmara, yang sayangnya kurang laku di pasar karena minimnya promosi.
Yantti pun acap dibujuk untuk mau menyanyikan lagu-lagu yang disiapkan dalam master kaset produksinya. Entah kenapa, Yantti tak pernah mau. “Dia memang nggak pernah ingin jadi penyanyi. Apalagi lagu Sunda. Lama-lama, sesudah dibujuk, eh mau juga. Jadi, kebetulan saja jadi penyanyi,” tutur ibunya, dalam sebuah obrolan di Bandung, Minggu (26/3/95) lalu.
Menurut Etty, Yantti sebetulnya agak alergi pada panggung musik. Entah kenapa. “Dia begitu takut pada panggung, sehingga pernah nangis dan ngumpet di dalam lemari,” tambah ibunya sambil tertawa. Ceritanya, waktu itu ada pesta ulang tahun di rumah. Pesta itu dimeriahkan pertunjukan musik yang salah satu penyanyinya bernama Yanti. Ketika protokol memanggil-manggil nama Yanti agar segera naik panggung, Yantti salah paham.
Dia mengira yang dipanggil dirinya. Yantti langsung nangis
dan bersembunyi dalam lemari. “Waktu itu saya kelas satu SMP, dulu (jauh
sebelum 90an-red) memang alergi. Apalagi lagu Sunda, dulu (jauh sebelum
90an-red) anti banget,” kenang Yantti, yang lahir di Bandung pada 14 Oktober
1974 dan (belakangan itu) terdaftar sebagai mahasiwi jurusan psikologi di
Universitas Kristen Maranatha Bandung ini.
Yantti baru bersedia menyanyi pada 1991, justru untuk jenis pop Sunda yang tak disukainya. Album itu bertajuk Karunya (Kasihan). Album yang diproduseri sendiri ini sempat sangat populer di pasaran, khususnya masyarakat Jawa Barat. Angka penjualan juga cukup meledak. Etty memperkirakan angka penjualan kaset itu mencapai 300.000 buah. “Waktu itu lagu pop Sunda tengah jaya. Dan Karunya merupakan album pop Sunda pertama yang dibawakan penyanyi remaja,” jelas Etty (saat itu).
Pada tahun berikutnya, 1992, diproduksi album kedua, masih bercorak pop Sunda, dengan judul Teu Sangka. Pemasarannya tak sebagus Karunya. Diperkirakan (waktu itu) cuma 75.000 kaset terjual. Ini pun bisa dimaklumi, pada tahun itu pasaran lagu-lagu pop Sunda memang terlihat makin menurun.
Toh, pada tahun selanjutnya masih dibikin album serupa. Yang
ini diberi judul Nganti-anti (Menunggu-nunggu), juga tak sukses. Tak begitu
bagus pula album lain, Rindu, berjenis ‘remix’ yang berirama disko. Produksi
kali ini bekerjasama dengan studio Musica. “Di Indonesia kurang laku. Tapi di
Malaysia katanya sempat disukai,” kata Yantti.
1995, setelah Dengarlah Kasih dirilis, Yantti merasa kepalang basah. Dunia musik pop yang semula dibenci itu (waktu itu) akan lebih serius dan total diterjuni. “Kalau pop Indonesia, saya mau. Apalagi vokal saya memang cocok untuk pop Indonesia. Sejak kecil secara pribadi saya juga menyukai jenis musik ini, khususnya lagu-lagunya Chrisye dan Vina Panduwinata,” kata Yantti.
Studio yang memproduksi album pop itu pun lalu mengontrak
Yantti selama lima tahun. Targetnya, setiap tahun dipasarkan satu album.
Malahan dalam waktu dkeat (setelah bacaan ini dimuat Citra-red), sebuah album
‘soundtrack’ sinetron juga (waktu itu) siap dibuat. Yantti yang dipilih untuk
menyanyikan lagu-lagu yang menghiasi sebuah serial sinetron berjudul Misteri
Pondok Songkak, tayangan stasiun swasta tertua, RCTI (Rajawali Citra Televisi
Indonesia).
Kepalang basah, di ilmu di bangku kuliah, dapur rekaman dan panggung pertunjukan adalah kegiatan pokok yang diutamakan. Dan diharapkan (waktu itu) bisa berjalan secara seimbang. Kepalang tanggung, alergi pada panggung tinggal sepotong kenangan.
Sejak Karunya dipasarkan, pada nyatanya Yantti tak bisa menolak tawaran ‘show’. Dan tawaran pertama datang dari mbak Tetty Kadi, yang mengkoordinatori tiga paket acara di TVRI Bandung. Tetty mengajaknya pentas dalam panggung terbuka di Cianjur. Pertunjukan itulah yang juga disyuting untuk mengisi paket Derap dan Nada garapan Tetty.
Menanggapi kejanggalan pada penulisan nama Yantti yang menggunakan “t” ganda, Yantti cuma tertawa. Menurut ibunya, memang begitulah yang tertera dalam akta kelahiran. Entah bagaimana. Dan ditanya (waktu itu) sudah punya pacar atau belum, Yantti juga tertawa. “Ada juga sih…,” ujarnya malu-malu. Sudah serius (waktu itu)? Jawabannya senada. “Serius juga sih!,” sambil tersipu-sipu.
Ditulis oleh: MH Giyarno
Dok. Citra – No. 262/V/3-9 April 1995, dengan sedikit perubahan






Komentar
Posting Komentar