PROFIL UTAMA - ADAM JORDAN, JEREMY THOMAS, RAYNOLD SURBAKTI, & DICKY WAHYUDI
JUJUR saja, banyak dari kita yang sinis melihat wajah-wajah
indah bertebaran di sinetron. Meski diam-diam menikmati, kita sibuk mengejek
jalan hidup mereka. Terutama bila sebelumnya pernah mengikuti pemilihan ‘coverboy’,
‘covergirl’ atau kontes-kontes yang mengutamakan penampilan fisik.
Kita sinis, karena menganggap mereka begitu gampang mendapat kesempatan tanpa perlu kerja keras. Apalagi dengan mudahnya mereka kemudian merambah ke bidang-bidang lain: jadi penyanyi, MC, ‘host’ acara kuis, dan seterusnya. Tuduhan “modal tampang doang” atau “aji mumpung” bisa dengan gampang kita berikan. Kita pun makin sinis membayangkan honor mereka yang setinggi langit, “cuma” dengan berakting sebagai bintang sinetron.
Kita juga seperti lupa, kalau dunia sinetron bukanlah tempat “numpang lewat” semata sebelum para bintang ini mendapat pekerjaan yang lebih “serius”. Salah besar! Raynold Surbakti (saat itu 23 tahun) contohnya, lulusan ‘London Business School’ ini, pernah berkarier di sebuah perusahaan asuransi. Raynold rela melepas kemapanan sebagai pegawai kantoran, dan menjajal bidang baru (kala itu) yang serba tidak pasti.
Sedang Jeremy Thomas (saat itu 27 tahun), lulusan FISIP Universitas Atmajaya yang menyelesaikan kuliah dalam waktu 4 tahun, tidak pernah ikut kontes apa-apa. Jimmy – begitu ia biasa disapa – sadar betul sinetron adalah industri (kata ini disebutnya berkali-kali sepanjang wawancara). “Sudah bukan zamannya lagi saya ketawa-tawa sewaktu syuting! Sinetron itu industri, tempat saya cari makan!,” katanya tegas.
Dicky Wahyudi (saat itu 27 tahun), alumnus BPLP Bandung, merintis karier di bisnis hiburan sejak 10 tahun sebelum bacaan ini dimuat Bintang (1987-red). Jelas, ia tidak “aji mumpung” dan hanya mengisi waktu luang.
Lain dengan Adam Jordan (saat itu 26 tahun) yang pernah terpilih sebagai juara III pria terseksi versi majalah Vista. Mahasiswa fakultas hukum Universitas Pancasila (era itu) ini, pernah pada satu hari pulang syuting iklan jam 7 pagi, ikut ujian di kampus jam 1 siang, lalu kembali lagi ke lokasi syuting.
Memang, hingga 1997, masih banyak yang memanfaatkan sinetron sebagai batu loncatan belaka, tapi tak kalah banyaknya yang serius. Yang serius ini mencurahkan waktu dan energi mereka tanpa kenal lelah untuk sinetron yang mereka bintangi. Dan mereka, para pemain yang menurut anggapan kita cuma bermodal tampang, bekerja lebih keras, berangkat pagi sekali, pulang larut sekali.
Apalagi bila sinetron yang mereka mainkan harus kejar tayang. Padahal, pula tidak seperti pegawai kantoran, mereka tak kenal uang lembur, asuransi kesehatan. “Mau kredit apa-apa juga susah, perusahaan tidak mungkin memberikan surat jaminan,” keluh Jimmy. Pada BI (Bintang Indonesia), keempat bintang sinetron laris (era 90an-red) ini memaparkan pengalaman mereka.
Ditulis oleh: Mayawati Halim, Funnywati Sucipto, Sandra Kartika
DICKY WAHYUDI: “TIDAK INGIN TERLALU KAYA”
(Bujangan – era itu – berbintang Libra ini, populer sejak iklan minyak rambut yang dibintanginya – Brisk, red – diprotes. Selain sebagai model sejak 1988, belakangan itu – 1997, red – ia jadi pembawa acara Kuis Brisk Smes (RCTI). Perannya di sinetron membentang dari Beno yang jahat di Abad 21, anak kaya tak bertanggung jawab di Pondok Songka (RCTI), sampai polisi baik hati di Anakku Terlahir Kembali – diputar RCTI, red).
“KEBERHASILAN saya di dunia hiburan sekarang (1997-red) ini, bukan karena faktor kebetulan. Sudah lama saya merintisnya. Bukan setahun dua tahun. Mungkin kelihatannya saya baru muncul, lalu mendadak terkenal. Banyak rekan yang muncul belakangan, tapi lebih cepat dikenal. Mungkin karena mereka bergabung dengan rumah produksi yang merajai ‘prime time’.
Meski banyak bidang yang saya terjuni, saya lebih senang dikenal sebagai bintang sinetron, sebab tantangannya lebih besar. Kalau saya berhasil mengembangkan karakter yang saya bawakan, wah… puas sekali rasanya. Sebaliknya, kalau gagal, kecewa sekali. Tapi saya nggak akan meninggalkan bidang-bidang lain. Bahkan saya punya rencnaa rekaman. Saya juga khan bisa nyanyi.
Saat ini (1997-red), saya sedang menyiapkan bekal untuk hari tua nanti. Yah, kalau sudah nggak dipakai di sinetron lagi. Usaha kecil-kecilan bareng teman-teman. Jadi kontraktor, ‘supplier’. Tapi, ya siapa tahu di tengah jalan, saya malah terkenal sebagai penyanyi atau pembawa acara? Nah, khan bisa sampai tua, tuh.
Setiap kali main, saya coba selektif. Sebisa mungkin, menghindari peran yang sama atau mirip. Misalnya, karena saya dianggap berhasil memerankan peran antagonis, lalu saya terus-teursan main seperti itu. Wah, nggak enak buat saya, dong! Saya bisa steril dan akting saya nggak berkembang.
Waktu main sebagai Beno di Abad 21 (Indosiar), asya bayangkan bakal asyik. Sebab, si Beno ini mirip peran Robert De Niro di film Heat, yaitu penjahat dengan sisi manusiawi yang tinggi. De Niro khan idola saya. Jadi, senang sekali dapat peran seperti dia. Tapi sayang, lama-lama tokoh Beno dibangun menjadi penjahat yang licik dan manipulatif, sisi baiknya nyaris tidak terlihat.
Saya ingin main komedi. Tapi maunya yang berjenis komedi situasi seperti Friends (di Indonesia diputar RCTI-red). Pernah saya main di sinetron yang hampir komedi situasi, Opera Nasi Bungkus (belakangan tayang di Indosiar-red). Sayang, sampai sekarang (Juli 1997-red) belum ditayangkan. Peran saya tidak terlalu besar, tapi seru sekali saat menjalani syutingnya.
Saya kira saya masih betah main sinetron sampai 5-10 tahun lagi (2002 hingga 2007-red). Mudah-mudahan masih ada yang ngajak. Nggak boleh takabur khan? Di setiap kesempatn, target saya cuma satu: bisa bermain lebih bagus dibanding sebelumnya. Cara mengukrunya, bisa dari opini masyarakat dan teman-teman. Pengamat setia saya, ya teman-teman. Wah, kadang kritiknya tajam-tajam.
Saya ingin/pengen sukses secara materi, itu pasti. Apalagi khan saya bukan anak orang kaya. Pokoknya yang sudah saya dapat sekarang (1997-red) ini pun, sudah sangat saya syukuri. Tapi saya nggak mau sampai berlebihan. Kalau terlalu kaya, susah memenej uangnya. Nanti malah untuk yang nggak-nggak. Yang penting bisa membahagiakan ibu dan keluarga.
ADAM JORDAN: “MEMBAWAKAN PERAN PROTAGONIS DEMI PENGGEMAR”
(Nama lengkapnya Awab Adam Jordan. Jordan diambil dari kampung halaman kakeknya yang asal Yordania. Wajahnya yang mirip Thomas “Michael Mancini” Calabro (Melrose Place), makin akrab di mata pemirsa TV setelah membintangi iklan Pepsodent “sensasional” Baking Soda. Adam yang bangga dengan lesung pipitnya ini, - waktu itu - tengah membintangi Bunga Sutra – diputar RCTI, red).
“SAYA baru sadar tampang saya mirip pemeran Michael Mancini di Melrose Place (di Indonesia diputar SCTV-red) setelah dapat surat dari banyak penggemar. Selama ini saya jarang nonton teve, sibuk syuting. Karena penasaran, saya nonton juga. Saya tungguin penampilan Michael Mancini. Setelah lihat, benar juga. Hanya hdiung dia lebih mancung, tapi saya tidak bangga, saya adalah saya.
Saya akui, pertama, tampang yang membuat saya jadi top. Kedua, sauha saya supaya bisa mencapai titik keseimbangan dalam akting. Faktor iklan, juga berpengaruh menaikkan karier saya. Saya nggak bisa jawab, kalau disuruh pilih siapa yang paling ganteng di antara kami berempat. Itu relatif. Masing-masing punya ciri khas. Kayak Dicky, dia keren dengan wajah Indonesia-nya. Tergantung penggemar suka yang bagaimana. Yang jelas, saya nggak merasa paling ganteng.
Percaya diri perlu, tapi jangan kelewat, bahaya buat diri sendiri. Soal seksi? Semuanya seksi. Tapi, beda-beda di mana seksinya. Kaum wanita yang lebih pas menilai. Jimmy yang badannya paling tegap dan kekar. Tapi kalau buat pinggul, ya saya, ‘bo’. Hahaha. Soalnya, saya pakai celana nomor 33. Perasaan kok gede banget? Bicara pinggul yang besar, ini keturunan dari ibu. Rata-rata saudara saya juga pinggulnya gede. Gara-gara pinggul gede ini, saya sering digodain teman di kampus.
Selama ini, saya lebih banyak dapat peran protagonis. Peran antagonis hanya di Angin Tak Dapat Membaca (RCTI). Cukup satu itu dulu peran antagonis. Bukan saya pemilih, tapi sekadar mengiktui keinginan masyarakat. Banyak yang protes melihat saya berperan jahat. Saya sih senang bisa mengembangkan akting, biar tidak monoton.
Tapi, kata masyarakat, wajah saya tidak cocok main jadi orang jahat. Saya ikuti saja. Tanpa penggemar, saya tidak berarti apa-apa. Tapi suatu saat kalau ada peran antagonis yang kuat, kemungkinan besar saya menerimanya. Tapi kalau idola dalam hidup, saya pilih almarhum papa. Saya ingin meneladani sikapnya. Sampai akhir hayatnya ia tetap berdua dengan mama, memanjakan mama.
Andai sudah tua nanti, saya mau berbisnis, sekarang (1997-red) ngumpulin duit dulu, mungkin nanti buka rumah produksi sendiri, atau bisnis apalah yang sedang laris. Cita-citanya, bisnis itu nanti yang ngejalanin anak-anak saya. Saya tinggal kasih perintah, terima laporan, ngawasin. Target saya, ini semua bisa dicapai saat usia 50-an. Saya ingin memulai bisnis tahun depan (1998-red). Abang saya yang ajak kerjasama. Dia sudah bisnis sejak usia 14 tahun.
Senang kerja keras, sampai sering kurang memperhatikan kesehatan. Sekarang (1997-red) ini saya sekaligus syuting 3 sinetron. Pernah masuk RS 2 kali gara-gara kecapekan. Saya sedang mempersiapkan ujian skripsi. Saya takut sekali kalau sampai gagal!”
JEREMY THOMAS: “KALAU SUDAH TANDA TANGAN, HARUS KONSEKUEN”
“TIDAK terasa 3 tahun sudah (1994 hingga 1997-red) saya jadi pemain sinetron. Selama itu sudah 8 judul saya bintangi. Kebanyakan berjenis drama seperti Hati Seluas Samudera dan Bella Vista (keduanya di RCTI-red). Ada juga yang komedi, Pin Pin Bo (Indosiar).
Di tengah-tengah kesibukan syuting, saya masih sempat menyelesaikan kuliah di FISIP Universitas Atmajaya. Masuk tahun 1990, saya jadi sarjana awal 1995. Pada hari ujian skripsi, saya baru saja selesai syuting. Setengah 4 pagi pulang, jam 9 saya berangkat ujian.
Kalau sampai sekarang (1997-red) belum memanfaatkan titel sarjana, saya punya alasan kuat. Kelihatannya memang saya keasyikan main sinetron, lebih gampang dan cepat cari uang. Padahal tidak. Kerja di sinetron itu berat, pendapatan juga tidak tetap, kadang punya uang banyak sekali, kadang 3 bulan tidak ada pemasukan. Orang sih lihatnya yang enak-enak saja. Terkenal honor besar, pesta sana-sini, padahal khan artis itu cari nafkah.
Pokoknya, saya sadar betul kalau saya ini kerja di industri. Karena itu, saya berusaha selalu main baik. Kalau tidak, mana mungkin masih dikontrak sampai sekarang (1997-red)? Pendatang baru banyak sekali.
Coba saja hitung berapa banyak pemenang ‘coverboy’ dari berbagai majalah remaja setiap tahunnya? Wah, kalau cuma tampang yang dilihat, mungkin saya malah nggak bakal terpilih. Tapi munafik kalau saya bilang saya jadi bintang sinetron bukan karena tampang. Kombinasi tampang dan kemampuan deh!
Untuk bertahan dalam persaingan, saya punya kiat: kenali berlebihan diri sendiri. Saya juga selalu cari yang perannya berbeda-beda. Kalau nggak begitu, patsi bosan. Sebab, sinetron Indonesia banyak yang ceritanya sama. Sejauh ini saya lihat, sinetron Indonesia masih pakai sistem kebut. Cepat bikin, cepat jual, cepat untung, cepat bikin kembali.
Saya juga lihat produser masih terlalu berpihak pada pemain wanita. Nggak seperti di Hollywood, yang bayaran pemain prianya jauh lebih besar. Ya, mungkin itulah konsep ‘marketing’ yang diyakini produser Indonesia sampai saat ini (1997-red). Harapan saya, bisa lebih berimbanglah.
Meski tahu betul dunia sinetron masih banyak kelemahan, saya optimis akan membaik. Saya berprinsip, sekali sudah tanda tangan kontrak, harus konsekuen, jangan sudah menyanggupi tawaran dan sudah terima bayaran, eh… mainnya sembarangan, disiplinnya juga parah!
Kalau diminta membanding-bandingkan diri dengan teman-teman lain, saya cuma bisa bilang, kami semua punya kelebihan masing-masing yang susah dijabarkan. Coba saja bandingkan Robert De Niro dan Al Pacino. Kalau disuruh pilih mana yang lebih hebat, kita pasti bingung. Yang pasti semua orang harus punya ‘something’ agar bisa dapat respek.”
RAYNOLD SURBAKTI: “SEKARANG (1997) NGEJAR SETORAN DULU”
(Pria kelahiran Medan ini mencuat namanya sejak berperan sebagai Reynald Kasidi di Shangrilla (RCTI, 1996). Belakangan itu ia juga menjajal kemampuan sebagai penyanyi lewat lagu Janjimu, yang klipnya mulai muncul akhir-akhir itu. Penampilannya seperti orang tegang di situ. “Saat itu wajah saya sedang lumpuh sebelah,” ungkapnya.
Kelumpuhan itu akibat kelelahan, kena angin (helm yang dipakainya bocor di sebelah kanan), dan kena virus. “Untuk kedip pun susah, mata juga berair terus, telinga kanan jadi terlalu peka,” katanya. Tapi, Juli 1997, ia sudah sembuh total, tinggal melatih otot wajah sebelah kanan.
KALAU ditanya apa yang membuat saya laris di sinetron belakangan ini, pertama, tentu karena kemampuan akting. Selain itu, saya tak menyangkal adanya faktor keberuntungan. Yang pasti bukan karena tampang atau postur tubuh. Badan saya nggak bagus kok. Jimmy yang paling bagus dan seksi, juga menurut saya, dia yang paling ganteng di antara kita berempat.
Saat ini (1997-red), saya syuting 3 judul sinetron, masing-masing 52 episode. Dalam seminggu paling hanya satu hari ‘off’. Selebihnya syuting terus, dari pagi sampai tengah malam. Saya memang total di dunia sinetron. Cari duit, cari masa dpean, juga untuk aktualisasi diri. Terus terang saja, saya memang masih ngejar setoran. Saya cari eksistensi dulu. Memang, risikonya nggak bisa konsentrasi. Hasilnya pun kurang optimal.
Suatu hari nanti kalau tarif honor saya sudah cukup, saya ingin main satu sinetron saja dalam satu masa syuting. Dengan begitu, saya benar-benar bisa total. Waktu main di Shangrilla saya sangat berharap dapat nominasi. Paling tidak, terpilih jadi artis pendatang baru terbaik. Nggak tahunya sinetronnya nggak masuk nominasi sama sekali. Saya kecewa, tapi nggak sampai bikin ‘down’. Saya terus berusaha mengeluarkan kemampuan akting.
Untuk kegiatan lain, seperti nyanyi, belum terlalu saya seriusi. Lagu Janjimu yang direkam satu kaset dengan lagu-lagu yang dinyanyikan penyanyi lain, itu baru tahap percobaan, rekamannya juga mendadak. Saya rata-rata dapat peran orang yang berkecukupan materi. Belum pernah dapat peran jadi orang susah. Pengen sih dapat peran yang lain. Cuma semetnara ini jalani dulu yang ada.
Saya menunggu sampai bisa memilih. Sementara belum bisa memilih, saya jalani dulu sambil memikirkan, kira-kira karakter apa yang cocok dan mampu saya mainkan. Biarpun peran-peran yang saya mainkan selama ini hampir sama, saya nggak bosan. Karena selalu ada hal baru yang bisa digali untuk setiap peran. Karakternya juga tidak 100% sama.
Kelihatannya saya gila kerja, ya? Saya memang berprinsip selagi muda bekerja, mengumpulkan materi, menumpuk pengetahuan, mencari pengalaman. Nanti pada saat merasa sudah cukup, saya akan lepaskan semua. Saya ingin saat tua nanti tinggal menikmati hidup. Target say aitu, semoga tercapai kira-kira sekitar umur 50-60 tahun.”
Dok. Bintang – Edisi 330/Th. VII/minggu kedua Juli 1997, dengan sedikit perubahan




.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)



Komentar
Posting Komentar