PROFIL TOKOH TELENOVELA HATI YANG BERDURI (SCTV)

 

EDUARDO POLOMO, SI Juan dalam Hati Yang Berduri (SCTV) ini ternyata pernah dibuat patah hati oleh bintang Valerie-Valerie (RCTI). Lalu, bagaimana dia mengobati luka hatinya? Kenapa Eduardo pernah dicap sebagai aktor modal tampang doang? Tapi tampang doi memang… Di halaman 12 (Bintang No. 233/Th. V/minggu kedua Agustus 1995) juga ada catatan lirik lagu Hati Yang Berduri, lengkap terjemahan.

EDUARDO PALOMO PERNAH DIBUAT PATAH HATI OLEH BINTANG VALERIE-VALERIE

GROGI, IMPROVISASI. Orang yang belum mengenalnya sering salah menilai. Edu sering direken sebagai pria berotak kosong yang cuma mengandalkan paras ganteng. Kesan ini muncul karena ia memang enggan membuka diri, sehingga kesan takut berkomunikasi dengan orang lain, muncul. Dalam beberapa wawancara, Edu juga jarang mengeluarkan pendapat yang berbobot.

Komentar sinis datang dari media cetak di Meksiko tentang sikap Edu saat diwawancara. Kutip sebuah media, Eduardo Palomo memang untuk ditonton, bukan didengar pendapatnya. Karena hanya bisa member komentar klise. Soal kurangnya kemampuan mempresentasikan diri ini, memang menjadi poin negatif buat Edu.

Sayangnya tak banyak yang mengetahui alasannya menahan diri saat diwawancara. Edu sengaja tidak mencetuskan gagasan karena belum yakin dengan keberadaannya sebagai artis. Pendek kata, ia masih grogi di masa awal menjadi artis. “Saya memang tak mau bicara soal yang berat-berat. Selain karena takut dianggap sok, saya masih grogi,” kilahnya jujur.

Mungkin benar alasan yang ia sampaikan. Setelah groginya hilang, ia berani mengeluarkan komentar yang cukup berbobot. Perihal komentarnya yang berbobot, sebenarnya bukan muncul karena keyakinannya menjadi artis. Tapi karena memang ia cerdas, pandai bicara soal apa saja. Soal seni, ia jagonya. Maklum, ia lulus dari sekolah seni grafis di ‘Mexico University’. Politik pun ia cermati serius, bahkan ia pernah bercita-cita jadi diplomat atau ‘lawyer’.

Sejak kuliah, Eduardo sudah jadi penotlan. Menjabat sebagai kepala grup diskusi ilmiah dan seni mahasiswa ‘sak’ Meksiko. Makanya tak heran kalau ia cocok menjadi figur yang menonjol. Selain ganteng, otaknya encer. Hanya karena senang mencoba hal-hal baru, ia gagal mewujudkan cita-citanya jadi diplomat. Ceritanya, begitu lulus kuliah seni ggrafis, ia ingin mencoba menyalurkan kebisaannya di bidang seni.

Profesi desainer grafis dan komputer adalah hal pertama yang dicobanya. Kepintarannya membuat ia tak susah mencari kerja di bidang itu. Sayang, ia tak bertahan. Perhatiannya beralih pada bidang audiovisual. Tepatnya produksi teve. Di bidang ini pun ia tak awet. Meski posisi yang lumayan bagus telah diraihnya, dicobanya bidang artistik. Masih dalam lingkup kerja yang sama, di stasiun televisi.

Setahun lebih menjadi penata artistik untuk drama seri Los Sombreros, membutnya akrab dengan sutradara dan awak film. Rasa bosannya muncul, ingin mencoba bidang baru yang dilihatnya menantang. Yaitu akting dan penyutradaraan. Tak ayal, ia dihinggapi rasa penasaran ingin terjun ke dunia itu. Valentin Pimstein, disambernya tanpa basa-basi.

Debut pertamanya dalam dunia film, ternyata memberikan suasana batin yang lain pada diri anak muda (era itu) yang hobi ‘baseball’ ini. “Saat main film pertama, saya sudah merasa tak bakal pindah kerja lagi. Karena di bidang ini memungkinkan saya berimprovisasi dengan leluasa. Film adalah dunia yang paling pas buat saya, “ujar Edu.

Omongannya tadi ternyata bukan cuma sesumbar. Ia membuktikan keseriusannya dengan menerima peran-peran lain, meski sepele. Dalam film yang diangkat dari drama klasik Rusia, Inspektur Jenderal karya Nikolai Gogol, Edu berhasil mengatrol namanya tinggi-tinggi. Imbalan atas jerih payah dan keseirusannya adalah peran utama dalam telenovela La Picara Sonadora.

Dalam telenovela yang di sini dikenal dengan judul Gadis Pemimpi (di Indonesia diputar SCTV-red), Edu bermain sebagai Alfredo Rochild, anak pemilik toserba Sares Rochild yang kebelet kawin dengan gadis miskin, yang bekerja di toserba tersebut. Telenovela ini memang mengnagkat nama Edu, tapi tak cukup membuatnya diakui punya akting yahud. Masih dibilang aktor dengan modal paras. Nampaknya Edu masih membutuhkan tantangan akting (waktu itu) untuk pembuktian kelas aktingnya.

Beruntung, setelah beberapa drama ia bintangi, ai kebagian tawaran main film komedi. El Corregidor, film komedi pertama yang Edu bintangi, barangkali sama berkesannya dengan Corazon Salvaje (Hati Yang Berduri, di Indonesia juga ditayangkan SCTV-red). Pasalnya, lewat dua judul ini, Edu berhasil menembus batas internasional. Namanya mendunia. Tak satu pun yang meragukan akting maupun popularitasnya sebagai alat jual yang ampuh.

“Corazon Salvaje memang lambang sukses buat saya. Peran Juan, membuat saya terkenal. Beruntung, waktu ‘casting’ saya tidak memilih menjadi tokoh Andres. Padahal banyak yang bilang karakter Juan tidak pas dengan penampilan saya. Wajah saya katanya terlalu polos untuk peran tokoh hero seperti Juan. Nyaris sutradara memilih aktor lain untuk peran Juan,” kenang Eduardo.

Dengan memanjangkan rambutnya, Edu tampak lebih gagah. Wanita banyak yang tergila-gila dengan penampilannya. Tak sedikit yang tidak percaya bahwa pemeran Juan adalah sama dengan pemeran Alfredo Rochild. Ini mengartikan karakter Juan lebih membekas di batin penonton daripada karakter Alfredo Rochild. Yang namanya aktor, ganteng pula, pastilah dihubung-hubungkan dengan wanita. Edu, tentu juga tak lepas dari terjangan gosip.

Hubungannya dengan Mariana Levy, rekan main dalam La Picara Sonadora, konon berlanjut di luar syuting. Ketika banyak yang menggunjingkan hubungan mereka, Edu tak membantah atau membenarkan gosip itu. Nampaknya, memang Edu tak serius dengan hubungan itu. Lain halnya ketika ia berhubungan dengan aktris jelita Alba Roversi, pemeran telenovela Valerie-Valerie (di Indonesia ditayangkan RCTI-red).

Edu menilai hubungannya dengan Alba merupakan yang paling dramatis. Alba disebut-sebut sebagai wanita yang membuat Edu patah hati. Terlebih tahun 1994 lalu saat Alba menikah dengan Henrique Pereira, pemilik ‘Marte Television’. Konon, saat itu Edu menangisi pernikahan mantan kekasihnya, butuh beberapa bulan untuk mengembalikan gairah hidupnya.

Ditulis oleh: Erwin Arnada/Iman

Hati Yang Berduri 

“Como cobrarle a la vida

Cuando todo te a salido, siempre mal

Como se vat anta se vida, si la sangre

Nuave caldo de Broca

Cuand oprecio de la vives tan vivis sin pagar

Como robarme esta vestino

Cuqnado estoy a costumbrame a matar

Porque hoy tee n contrarno me te parle

De el mi labo

No me rumbe nuestro suenos

Mi se estreba Separarnos porque seguirle a la vida

Que me pague con ti go, que me senge sin tigo

Que dolor, porque ja fue suficiente en can tigo

Pero verte conocido vive cada ser por siempre

Hun men ti go del amor

Corazon salvaje, no.. no.. no’

Terjemahannya:

Seperti apa kehidupan itu?

Kalau semuanya pergi dan selalu salah

Seperti apa kehidupan itu sebenarnya, apa seperti darah?

Janganlah pernah menyesali

Kalau kehidupan itu ada harganya, tentu bisa dibeli

Bagaimana mencari ketenangan?

Saya selalu gelisah dengan kematian

Saya sekarang dapat menemukan arti kematian

Di hati saya….

Kita tidak akan bisa tidur

Karena saya akan berpisah

Apa arti kehidupan, kalau tanpa kau

Rasa sakit timbul karena ada kesalahan di dalam kehidupan

Saat memandang kehidupan itu menyenangkan

Adalah saat berasmamu kasih

Hati yang berduri.. no.. no.. no

Dok. Bintang – No. 233/Th. V/minggu kedua Agustus 1995, dengan sedikit perubahan


Komentar

Postingan Populer