PROFIL SINGKAT - TARZAN
PERAWAKANNYA tinggi besar, dengan rambut cepak dan suara lantang. Nama aslinya Toto Muryadi, lebih dikenal dengan nama Tarzan, terdengar sangar tapi mudah diingat penggemar. Kelebihan fisiknya dimanfaatkan grup lawak Srimulat untuk memerankan tokoh bijak dalam setiap pementasan. Kenadalannya mengundang derai tawa penonton tidak perlu diragukan. Sehingga penuturannya mengenai sikap yang dijalani sehari-hari tak mudah membuat orang percaya.
“Saya seorang suami dan ayah yang serius, bahkan jarang bercanda,” kata Tarzan. Apa yang dilakukannya bukan tanpa alasan. Membuat yang cemberut jadi tertawa adalah tugasnya, tapi sebagai suami dan ayah, wibawa harus tetap dijaga. “Profesi ini tidak mengharuskan saya untuk bercanda, melucu, dan membuat orang tertawa setiap saat,” tambahnya.
Metode yang diterapkannya ternyata berhasil. Rumah tangga yang dibinanya bertahun-tahun bersama Sulistiana tetap utuh, aman, dan tenteram. “Saya selalu berusaha jadi suami dan ayah yang baik!,” tegasnya.
Karier lelaki asal Malang ini dimulai sekitar 30 tahun sebelumnya (1967-red) sebagai anggota grup sandiwara tradisional bernama Lokasari. Selanjutnya main ludruk, bahkan ketoprak, sebelum bergabung dengan Srimulat. Keyakinan dan kesetiaannya pada profesi luar biasa. 1997, di usia 52, Tarzan mulai menikmati buah kerja kerasnya. Padahal, Srimulat, grup lawak tradisional yang membesarkannya, sudah bubar tahun 1987.
“Aneh, memang. Semasa Srimulat hidup sepi tanggapan, setelah bubar malah berdatangan,” terangnya. Makin hari kegiatannya makin padat.
“Semua ini berkat Indosiar. Tanpa kebaikan mereka, belum tentu kami bisa seperti ini lagi,” tambah ayah Galuh Pujiwati ini. Kuatnya persaudaraan dan pengertian sesama mantan anggota Srimulat memudahkan Tarzan mengumpulkan teman-temannya. “Untung mereka gampang sekali dihubungi, hingga penampilan reuni kami berlangsung mulus,” jelasnya.
Munculnya grup-grup baru (kala itu) yang potensial macam Bagito dan Patrio yang (waktu itu) sedang berkibar tak sepandang sebagai ancaman oleh Tarzan. “Saya justru bangga jalan kami ternyata diikuti beberapa anak muda yang punya semangat dan bakat besar. Kenapa harus takut? Soal rejeki, Tuhan yang ngatur, mas,” kilahnya. Betul, mas.
Ditulis oleh: Masrur
Dok. Bintang – Edisi 310/Th. VI/minggu ketiga Februari 1997, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar