PROFIL SINGKAT: NICKEN

 

MUSIK juga bisa digunakan sebagai pembuktian pada orang yang dicintai. Seperti yang dilakukan Nicken, pelantun lagu Haruskah Ku Menangis, yang klipnya selalu hadir pada acara Video Musik Indonesia RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia).

“Album perdana saya, saya persembahkan pada ayah saya yang telah tiada. Biar ayah di alam sana tahu, apa yang ia harapkan sekarang (1997-red) bisa dilihat. Album ini sekaligus wujud cinta saya pada ayah yang telah mendorong saya hingga jadi penyanyi,” tutur Nicken (waktu itu).

Nicken sadar memasuki dunia musik tak mudah. Banyak persyaratan yang harus dipersiapkan setelah kemampuan mengolah suara dimiliki. Masih menurut Nicken, untuk jadi penyanyi diperlukan ketabahan dalam mewujudkan cita-cita. “Saya ingin jadi penyanyi sejak kecil. Tapi perjuangannya memang cukup lama,” jelas gadis (era itu) kelahiran Malang, Jawa Timur, 11 Mei 1979.

Untuk mewujudkan cita-citanya, Nicken telah melewati ujian yang cukup berarti. Panggung-panggung festival pernah ia jamah, sebagai tiket masuk ke dunia menyanyi. “Saya terus memacu prestasi di bidang musik dengan mengikuti lomba-lomba di Jawa Timur. Seperti Bintang Radio & TV, lomba seriosa, bahkan saya pernah ke Jepang pada 1992 untuk mengikuti Youth Festival Chorus di Osaka,” kata Nicken dengan bangga.

Namun tepat di saat Nicken membuktikan prestasinya, takdir berucap lain. Nicken yang saat itu masih berusia 13 tahun, ditinggal pergi sang ayah tercinta. Tapi dari kesedihan itu lahir tekad baru (waktu itu). Nicken ingin membuktikan bahwa ia bisa menjadi penyanyi rekaman. Beruntung, meski (sampai saat itu) baru satu album, Nicken bisa dicatat dalam jajaran penyanyi Indonesia. (Pihak Bintang waktu itu mengucapkan) selamat berjuang!

Ditulis oleh: Teguh Yuswanto

Dok. Bintang – Edisi 339/Th. VII/minggu kedua September 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer