PROFIL SINGKAT: JUJUR PRANANTO

 

JUJUR memang jujur. Meski dikenal sebagai penulis handal, tapi toh ia mengaku tetap manusia biasa yang bisa mengalami kesulitan. Salah satunya, membuat ‘ending’ yang menarik. “Benar, membuat ‘ending’ itu tidak gampang, lho,” tutur Jujur. Hal itu dialami Jujur dalam penulisan serial baru (era itu), Anakku Terlahir Kembali (RCTI). “Bagiaman asaya bisa membuat ‘ending’, kalau serial tersebut bakal dilanjutkan?,” tambah Jujur.

Masalah yang dihadapi Jujur bukan hanya membuat ‘ending’. Menentukan siapa yang memerankan tokoh antagonis, Christine, juga jadi kesulitan lain. “Betul, saya tidak tahu sosok seperti apa Christine itu,” urai Jujur. Makanya, ketika nama Tamara Bleszynski disebut, dia langsung setuju. “Untung orangnya pas, ya,” tambah Jujur. Jujur memerlukan waktu setahun untuk menyelesaikan naskah Anakku Terlahir Kembali (RCTI).

Satu episode diselesaikan dalam satu minggu. Yang membuat karyanya berbeda dengan yang terdahulu adalah toleransinya dengan “intervensi” orang lain, dalam hal ini pihak Multivision. “Ini memang proyek kompromi,” kata Jujur.

Maksudnya, meski ide cerita berasal darinya pihak tim kreatif Multivision Plus tetap berperan. “Ada embrio cerita yang bisa kita kompromikan bersama,” tambah Jujur. Selain itu, kompromi juga terjadi dalam menentukan struktur, isi maupun motif cerita. “Di sinilah menariknya,” Jujur terus terang.

Pria kalem kelahiran Salatiga, 36 tahun sebelum bacaan ini dimuat Bintang (1960-red) ini, mengawlai kariernya sebagai penulis cerita pendek sejak SMP. Hobi menulisnya ternyata membuahkan hasil. Dongeng Nenek, salah satu karyanya, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan beberapa tahun sebelum bacaan ini dimuat Bintang.

Puncak prestasi Jujur adalah ketika karyanya, Kado Istimewa, terpilih sebagai cerita pendek terbaik yang pernah dimuat di harian Kompas (kemudian disinetronkan di Indosiar dengan judul yang sama dan diproduksi Multivision Plus juga-red). Prestasi fenomenal dicapai ketika menyabet penghargaan Piala Vidia Utama sebagai penulis cerita lepas terbaik dalam FSI 94 lewat Parmin (SCTV).

Ditulis oleh: Masrur

Dok. Bintang – No. 297/Th. VI/minggu pertama November 1996, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer