PROFIL SINGKAT: INTAN SAVILLA

 
WAJAHNYA dan namanya memang (waktu itu) belum begitu akrab bagi kita. Padahal, kalau menilik kariernya di dunia sinetron, Intan, cewek kelahiran 10 November 1972 ini, pernah main dalam berbagai sinetron yang cukup punya nama. Ia pun pernah ditangani sutradara berkarakter, seprti Putu Wijaya, yang men-‘direct’-nya ketika memerankan tokoh anak saudagar pada sinetron Warteg Dangdut (TPI).

Setelah itu, Intan juga ikut berperan dalam sinetron Bella Vista I (RCTI), memerankan tokoh sekretaris mafia. Kemudian pada sinetron Akal-Akalan (Indosiar), di bawah arahan sutradara Sena Utoyo, Intan mendapat peran utama.

Pada drama komedi Basho (RCTI), bersama Miing, Didin, dan Unang, lulusan ‘public relation’ Interstudi Sahid tahun 1995 ini, terlibat sebanyak 22 episode. Bisa dibilang di Basho, anak pasangan Maria dan Peter Schuberschorne ini meniti karier bersama Rheina “Ipeh” Mariyana, cewek Gugun Gondrong.

Namun, siapa sangka di balik kecantikan wajahnya dan kariernya di dunia yang penuh gemerlap, Intan menyimpan masa lalu yang cukup pahit. Umur 8 tahun, Intan sudah berani menentukan hidup sendiri. Ia pergi dari rumah dan mengembara. Untung saja ada orang yang baik padanya, hingga memungut Intan dan menyekolahkan hingga lulus SD. Setelah lulus, Intan pergi lagi dari rumah orangtua angkat yang pertama. Ia kemudian bekerja pada sebuah butik.

Dari hasil itu, Intan mengontrak rumah dan membiayai sekolah hingga akhirnya lulus dari Interstudi Sahid. 1997, Intan bekerja pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang asuransi. Ibu Intan dan adiknya, (waktu itu) ada di Jerman, sedang ayahnya (kala itu) sudah meninggal. Hingga Februari 1997, Intan tidak pernah bertemu lagi dengan ibunya. Dan di Jerman pun Intan (sampai saat itu) tidak tahu di mana alamatnya.

“Sebenarnya saya punya pengalaman pahit yang lain. Tapi saya tidak mau cerita dulu. Saya ingin membuat buku, seperti novel. Siapa tahu ada produser yang tertarik,” ungkapnya mengakhiri kisah.

Ditulis oleh: Teguh Yuswanto

Dok. Bintang – Edisi 311/Th. VI/minggu keempat Februari 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer