PROFIL SINGKAT: AYU SORAYA
JIKA telepon genggam Anda tercecer, jangan panik dulu. Mungkin pengalaman Ayu Soraya bisa jadi pelajaran bagi Anda. Pekan ketiga Februari 1997 lalu, Ayu pergi ke Surabaya dengan menggunakan pesawat. Tunggu punya tunggu, pesawat yang akan ditumpanginya belum datang-datang juga, akhirnya Ayu memutuskan pindah pesawat. Untuk itu, ia harus pergi ke terminal F dengan menggunakan ‘seattle bus’.
Karena sibuk dengan barang bawaannya, Ayu tidak menyadari telepon genggamnya tercecer. “Sadar ‘handphone’ sudah tidak di tangan asya lagi, saya hubungi nomor ‘handphone’ saya. Ada yang menjawab. Saya minta sama orang itu untuk mengembalikan pada saya. Untung orangnya baik, ia berjanji akan mengembalikannya sesegera mugnkin,” ujar Ayu dengan lega.
Perihal kececeran memang sering dialami Ayu. Menurut penyanyi yang merasa suarnaya lebih berwarna dangdut dibanding pop ini, benda yang paling sering tercecer adalah kacamata. Entah sudah berapa banyak yang hilang, katanya. Ayu boleh lupa akan benda-benda kecilnya. Tapi ia paling pantang melanggar janji.
“Saya paling nggak bisa meninggalkan janji. Kalau memang sudah janji datang, ya saya datang,” kata penyanyi dangdut yang sempat mengeluarkan empat album pop ini.
Komentar itu meluncur dari mulutnya, ketika panitia sibuk mencari pengganti seorang artis, yang dijadwalkan sebagai peserta Famili 100 Bintang-Bintang untuk edisi ulang tahun ANteve (Andalas Televisi). Bosan menunggu, ia mengusulkan nama Hilda RM, sambil memberi nomor teleponnya ke panitia. Untunglah, 30 menit kemudian Hilda muncul dan syuting berlangsung dengan lancar.
Ditulis oleh: Ida M. Palaloi
Dok. Bintang – Edisi 311/Th. VI/minggu keempat Februari 1997, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar