PROFIL - SANDY NAYOAN, LAGI-LAGI JADI "NAPI"
“Kalau mengutip Menpen (Menteri Penerangan Harmoko, red)
bahwa kita butuh 300 sinetron setahun, berarti wartawan akan tiap hari datang
ke acara selamatan produksi sinetron,” ujar Arswendo Atmowiloto.
Ini diucapkannya Kamis, 6 April 1995 lalu, di restoran Clippers, Kyoei Prince, Jakarta Pusat, saat selamatan produksi miniseri Menghitung Hari (SCTV), sebuah sinetron yang didasarkan atas buku Arswendo, berjudul sama, berisi hikmah kebijaksanaan dalam rumah tahanan/LP, yang merupakan percik pengalamannya selama mendekam di LP.
DAN jika merujuk ke kutipan ucapan tadi, berarti di sepanjang 94-95 ini wartawan (waktu itu) akan sedemikian kerap bertemu Sandy Nayoan, yang naik daun setelah memerankan sosok Midun dalam Sengsara Membawa Nikmat. Bayangkan, di paruh 2 tahun (1993 hingga 1995-red) ini saja, Sandy main dalam seri(al), antara lain Aku Mau Hidup, Tembang Sendu, Pengantin Lari (ketiganya di SCTV-red), dan Cinta Buat Monita (rencana waktu itu diputar RCTI-red).
Lalu, 14 seri Masih Ada Kapal Ke Padang yang (sampai saat itu) masih diputar SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia), di mana ia bermain dalam 2 peran sekaligus, yakni sebagai Asril, yang sawan dan jatuh cinta pada Yunita (diperankan Marissa Haque), serta sebagai Helmi, pengajar, yang juga jatuh cinta sebelah tangan pada Yunita.
Kemudian yang – waktu itu – (akan) diproduksi adalah Rembulan Kece (ANTV). “Di mana saya akan tampil seperti jagoan silat, Chen Lung,” ujar Sandy sambil memeragakan adegan silat konyol, dan itu tadi, Menghitung Hari (SCTV), di mana Sandy memerankan sosok Atmo (Arswendo?).
Ada hal yang menarik bila kita menyimak perjalanan karier Sandy. Dalam Sengsara… (TVRI Programa 1), ia memerankan sosok Midun yang sekali waktu dipurukkan dalam penjara alias menjadi narapidana (napi). 1995, sosok Atmo yang diperankannya pun, kembali membuatnya (sementara waktu) “berstatus” napi. “Saya kembali terpuruk dalam sebuah “usus buntu”,” ujar Sandy sambil tertawa. Usus buntu adalah istilah Arswendo untuk menyebut penjara.
Karena itu pulalah, akunya, “Saya langsung menerima tawaran dari PT Tri Sabda Production ketika ditawari peran ini. Saya suka, karena sosok yang saya perankan adalah manusia yang sama sekali tidak menyangka kalau dalam perjalnaan hidupnya di dunia ini akan meraskaan menjadi orang yang dipenjarakan.” Sebuah sosok yang menurut Arswendo, “Karena saya ngawur, ya saya akhirnya berurusan dengan penjara.”
Yang menarik lagi dari perjalanan akting Sandy, adalah kemampuannya menjadi bunglon yang baik. Saat memerankan Midun, atau Asril yang berdarah Minagn, Sandy betul-betul menghayati sosok Minang itu. Ia piawai berbahasa dan beraksen Minang. Rahasianya, “Saya melakukan observasi khusus. Bergaul dengan orang-orang di Pasar Tanah Abang, yang mayoritas berasl dari tanah Minang, “ujarnya sambil tersenyum.
Dan ketika jadi napi, ia pun melakukan observasi ke dalam penjara untuk menghyaati kehidupan napi. Dan agar betul-betul bisa beraksen Jawa ala Arswendo, ia juga terus-menerus menempel Arswendo. Alhasil, Sandy yang Mnaado ini sudah piawai beraksen Jawa ala Arswendo.
Kalaupun ada yang (waktu itu) masih kurang, nilai sejumlah wartawan, itu adalah bentuk tubuh Sandy yang terlalu tegap, gemuk dan Sejahtera untuk ukuran seorang napi. “Lha, masak segini disebut gede?,” ujar Sandy sambil memperlihatkan perutnya.
Betul Sandy, napi di jaman hotel prodeo alias masih bernama penjara khan tidak sama lagi dengan napi jaman Lembaga Pemasyarakatan. Atau apa memang betul, penjara dan LP itu masih sama saja, sehingga penilaian rekan-rekan wartawan tadi muncul?
Ditulis oleh: Maman Suherman
Dok. Citra – No. 263/VI/10-16 April 1995, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar