PROFIL MANDARIN - WAWANCARA KHUSUS DENGAN STEVE MA CING THAO: "SAYA PERSEMBAHKAN TO LIONG TO UNTUK PAPA TERCINTA"
YEEESSS!!! Itu kalimat pertama yang meluncur begitu BI (Bintang Indonesia) selesai berbincang dengan Steve Ma Cing Thao, tanggal 15 dan 16 Juni 1997 lalu. Penantian selama dua malam berturut-turut di studio ATV jadi tidak sia-sia. Awalnya, Ma yang amat populer di Indonesia sepakat menyediakan waktu untuk berbincang-bincang dengan BI hari Jumat (13/6/97) petang.
Namun, berita koran Jumat pagi mengenai ketidakcocokannya dengan lawan mainnya, Chen Siu Wen, dalam serial terbaru (waktu itu), Thien Chang Ti Ciu (TCTC, Abadi Selamanya), telah mempengaruhi suasana hati Ma. Ketika wartawan setempat menyerbu meminta tanggapannya, Ma diam saja. Barulah saat BI hadir, senyum tersungging di wajahnya. Setengah berbisik ia menyatakan tetap bersedia dan diwawancara.
“Hanya saja waktu dan tempatnya kita buah, ya. Nanti malam sekitar pukul 11, kamu telepon ke ponsel saya, kita janjian waktu lagi, OK?,” katanya. Di luar dugaan, BI tak bisa mengontaknya berhubung telah janjian dengan artis lain.
Pagi harinya, Ma mengontak. Jadwal syutingnya yang padat sepanjang Sabtu membuat Ma menawarkan pertemuan di hari Minggu. Yang tak disangka, ia mengundang BI ke rumahnya di bilangan Kowloon City! Surprais! Menurut teman wartawan di Hongkong, BI termasuk hoki. “Di sini jarang artis janjian wawancara di rumahnya. Mereka tertutup untuk kehidupan pribadi. Terkadang kita malah tak tahu di mana tinggalnya,” katanya.
Minggu pukul 16.15 waktu setempat, berbaltu kaos ketat warna biru Benhur dan celana panjang hitam model ‘cigarette pipe’, Ma, kelahiran Taiwan, 14 Februari 1964, tampil segar. Ia membuka perbincangan duluan.
“Saya tahu nama saya populer di Indonesia. Soalnya, tante ibu saya Hoakiao Indonesia. Dia sering bolak-balik Indonesia-Hongkong. Katanya, “Wah, kamu kondang sekali di Indonesia. Banyak serial kamu diputar di sana, kamu bisa bahasa Indonesia pula,” candanya (maksudnya alih suara-red).
Saya ketawa terbahak. Harusnya, hari ini saya minta beliau datang ke sini. Biar bisa bercakap-cakap bahasa Indonesia dengan kalian. Sayangnya, hari ini dia ada janji lain,” kisah Ma yang bertinggi/berat (ketika itu) 181 cm/71 kg. Ketika diberitahu Penginapan Pintu Naga (PPN) baru selesai tayang dan penggantinya To Liong To (TLT) tengah diputar di Indonesia, Ma surprais.
“Wah, kalau beruntung. Di Hongkong, PPN malah belum bisa
diputar. Menurut pemegang hak serial ini, TVB baru akan memutar setengah tahun
lagi setelah kontrak saya dengan ATV selesai. Ya, tahu sendiri khan… (maksudnya
persaingan ATV dan TVB-red). Di Taiwan serial ini populer sekali lho,” kata Ma
yang (waktu itu) bakal syuting serial Chu Siu Shiang (Pendekar Harum) versi
1997 di Cina, Agustus 1997 nantinya.
Mengenai lakon Chu Liu Shiang, anak kedua dari 4 bersaudara ini mengaku di luar dugaan. “Dulu, usia 10 tahunan (1974-red), saya melihat Adam Cheng yang berperan sebagai Chu Liu Shiang dalma versi lama, rasanya sungguh gagah. Tak kira setelah dewasa saya bakal memainkan lakon ini. Saya harus bisa membawakannya lebih baik. Ini sekaligus memenuhi komitmen saya pada almarhum papa,” janjinya.
Menyebut kata papa, kata Ma berkaca-kaca. Bisa dimaklumi, peran ayah dalam kariernya sebagai artis amat penting. “Selagi semua keluarga menentang kehendak saya terjun menjadi artis dan menginginkan saya meneruskan sekolah di Amerika, papa jadi satu-satunya yang memberi dukungan penuh. Padahal dia juga sebenarnya bukan orang seni, dia pengusaha. Karena itu, saya tak mau mengecewakannya. Saya berjanji akan menunjukkan prestasi padanya,” kata Ma.
Hal ini benar-benar dibuktikan Ma. Kerja kerasnya selama itu tidak mengecewakan. Nyaris semua filmnya meledak dan terjual hingga ke luar Taiwan. Seperti serial Putri Bunga Persik (di Indonesia diputar SCTV-red). Dia satu-satunya serial pertama yang berhasil memecahkan rekor rating Judge Bao (di Indonesia diputar RCTI-red) yang sebelumnya tak tergoyahkan.
“Saya tahu, papa bangga sekali. Apalagi kemudian To Liong To juga sukses. Dia selalu menonton serial saya. Beberapa hari sebelum meninggal, ia berkata pada saya ingin menyaksikan serial To Liong To episode di mana Thio Bu Ki beranjak dewasa. Ia ingin melihat perbedaan saya membawakan tokoh Thio Chui San dengan Thio Bu Ki. Sayang, niatnya tak kesampaian.
Sewaktu episode Thio Chui San bunuh diri usai, ia meninggal mendadak. Waktu itu ia sedang duduk ngobrol di rumah temannya. Saya yang kebetulan sedang di luar negeri, langsung lemas. Hati ini serasa hancur. Orang yang paling saya hormati pergi tanpa pesan apapun,” tutur Ma mengungkap kisah 3 tahun sebelumnya (1994-red) itu dengan mata memerah dan berkaca-kaca.
Sejak peristiwa yang tak pernah lekang dari ingatannya itu, Ma jadi punya kebiasaan baru. “Setiap selesai syuting film baru, pertama yang selalu saya ingat adalah papa. Saya selalu duduk diam-diam di depan altar papa sambil berkata, “Hari ini saya telah menyelesaikan satu film yang kamu suka, film ini saya persembahkan buat kamu, papa.”
Dan semua rekaman film baru itu pasti saya taruh di bawah meja altarnya. Itu cara saya menghormatinya. Dia satu-staunya orang yang palin gsaya rindukan hingga sekarang (1997-red). Sayang, dia terlalu cepat pergi di saat saya belum bisa membahagiakannya,” ungkapnya lirih (waktu itu).
Melihat Ma yang tak kuasa menahan sedih, ya, BI mengalihkan pembicaraan. Matanya berubah berbinar menuturkan pengalaman bermain TLT (di Indonesia kemudian diputar Indosiar-red). “Saya suka sekali dengan tokoh Thio Bu Ki. Dari sekian tokoh yang pernah diperankan, dia yang paling mirip dengan saya. Baik, berhati emas, setia dan perhatian pada teman. Saya pun begitu.
Karena itu, bisa dibilang karakter ini kelebihan juga kekurangan saya. Akibatnya, saya gampang dilukai teman. Tapi, untung saya bukan pendendam,” kata pria yang sempat digigit bibirnya oleh Ye Thung sewaktu syuting TLT. (“Ye Thung (pemeran Shi Han Wen serial White Snake Legend, di Indonesia diputar SCTV-red) saking menghayati peran, tanpa sadar menggigit bibir saya sewaktu kami beradegan cium, hahaha,” cetusnya).
Soal cinta pun, selera Ma sama dengan Thio Bu Ki. ”Saya percaya setiap kehidupan manusia tidak lepas dari cinta. Saya suka wanita seperti Tio Beng. Meski bandel, cinta tetap yang terutama dalam hidupnya. Setia dan berani berkorban demi cinta. Wanita seperti itu yang saya dambakan. Sesuai dengan kepribadian saya yang setia hanya pada satu wanita, Yi Li.
Kami saling mencintai. Tapi saya tidak tahu apakah perjodohan ini bisa berlanjut hingga menjadi suami istri. Pokonya, kalau Thio Bu Ki punya Tio Beng, maka saya punya Gigi Yi Li (artis kelahiran Cina yang kondang di Hongkong sebagai artis yang cukup berani beradegan buka-bukaan-red). Hahaha…,” katanya.
Ma berterus terang sangat berharap bisa menikahi Yi Li. “Pembicaraan kami sudah sampai taraf pernikahan. Tapi belum tahu kapan waktunya. Sekarang (1997-red) saya sedang sibuk mencari apartemen baru. Ini juga sekaligus bentuk keseriusan saya mengembangkan karier di Hongkong,” ujar Ma yang mengakui adanya perbedaan antara main di Taiwan dengan Hongkong.
“Taiwan tentu saja lebih ‘friendly’. Ya, saya maklum. Di sini saya pendatang yang sudah sukses sebelumnya. Lantas cari makan di negeri orang. Jelas saja, agak sulit….,” katanya.
Tidak tercermin kekhawatiran dalam dirinya mengenai pengambilalihan (‘handover’) Hongkong ke tangan Cina, 1 Juli 1997 nantinya. “Kalau saya takut, tak mungkin saya beli apartemen, juga teken kontrak dengan ATV,” kata pria yang (waktu itu) berencana jadi penonton bersama putrinya yang sengaja diboyongnya dari Taiwan pada saat peristiwa bersejarah itu.
Ma punya alasan tersendiri tidak berpartisipasi dalam acara ‘handover’ yang diadakan selebirtis Hongkong. “Bukan saya tak mau. Namun, ingat saya khan artis Taiwan. Tapi bila diminta, saya tak keberatan. Lihat saja nanti!,” tukas pria yang mengaku (waktu itu) masih belum fasih berbahasa Kanton ini (masalah bahasa ini pula yang membuat ATV memperblehkannya tetap berbahasa Mandarin dalam serial TCTC yang berbahasa Kanton).
Ma tertawa ngakak ketika dipuji ganteng. “Hahaha… Kalau begitu, saya harus berterima kasih pada kedua orangtua. Saya mewarisi hidung papa yang mancung dan mata serta alis mama. Mereka cakep semasa muda. Papa saya gagah, lho. Terus terang, saya kalah ganteng darinya.
Tapi beruntung saya sangat percaya diri, akhirnya ya kelihatan ganteng, hahaha. Perasaan itu pula yang saya terapkan sewaktu ke Italia yang gudangnya pria ganteng. Rasa percaya diri sangat penting artinya buat saya dalam menjalani hidup,” aku pria yang semasa kecil punya dua cita-cita: jadi penyanyi atau atlet berkuda.
Alasannya sederhana. Hobi nyanyi, serta merasa gagah bisa menunggangi kuda. “Saya jago lho naik kuda. Namun ukuran tubuh saya terlalu tinggi, jadi tidak cocok. Ya, terpaksa saya lupakan cita-cita ini. Sedang jadi penyanyi, mudah-mudahan bisa terwujud tahun depan (1998-red). Sudah dua tahun ini (1995 hingga 1997-red) saya garap album. Kesibukan syuting membuat itu tertunda.
Mau tahu penyanyi kesayangan saya? Bee Gees dan Lobo. Lagu favorit saya I Started A Joke. Menyanyikan lagu itu akan membawa ingatan saya ke masa SMA dulu. Indah sekali. Tapi khusus sekarang (1997-red) ini, saya sedang asyik-asyiknya mendengar album terbaru Bee Gees (ketika itu), Alone. Lagu itu selalu menemani saya setiap menyetir,” kata Ma yang disapa akrab dengan nama Ma Cai (waktu itu).
Selain itu, Ma yang selalu berbicara pelan, persis tokoh Chou Huai An dalam PPN mengaku punya hobi lain. “Saya suka melukis, setiap ada kesempatan pasti melukis. Obyek lukisan saya biasanya manusia. Di rumah saya buat kamar khusus untuk melukis. Jadi, peran sebagai pelukis di serial Sanggar Kenangan itu memang pas betul buat saya,” kata Ma yang tak berniat pameran lukisan. Obsesinya terbesar saat itu, pesiar keliling dunia sekeluarga.
“Saya hobi jalan-jalan! Kalau bisa tiap hari, tak usah kerja! Hahaha… tante ibu saya terus mengajak saya ke Indonesia! Tapi saya sibuk melulu! Saya yakin cukup kerja keras lagi 10 tahun (1997 hingga 2007-red), obsesi ini pasti segera terwujud! Tunggu saya di Indonesia!,” tegasnya (waktu itu). Ah, pihak Bintang (waktu itu) jadi tidak sabar menunggu sepuluh tahun itu, Ma.
Ditulis oleh: Funnywati Sucipto
Alamat Steve Ma Cing Thao (waktu itu)
Asia Television Ltd (Artist Department) 81
Broadcast Drive, Kowloon, Hongkong
Dok. Bintang, Edisi 328/Th. VII/minggu keempat Juni 1997, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar