PROFIL MANDARIN - WAWANCARA KHUSUS DENGAN LOUIS "YOKO" KOO: "SAYA INGIN SEGERA MENIKAH!"

MINGGU malam (15/6/97) pukul 21.00 waktu Hongkong, BI (Bintang Indonesia) harus berkali-kali meyakinkan diri tatkala berhadapan dengan Louis Koo yang kondang di Indonesia lewat perannya sebagai Yoko dalam serial Return of The Condor Heroes (RoTCH) versi 1995 (kemudian diputar di Indonesia oleh Indosiar-red) versi 1995. Bukan karena tampang aslinya yang jauh lebih cakep, melainkan postur tubuh plus warna kulitnya.

Ku Thien Le – nama lengkapnya dalam bahasa Mandarin – yang malam itu tengah syuting serial terbarunya (kala itu), Independent Committee Anti Corruption (CAC) tampak makin berisi, atletis, dan berkulit sedikit gelap. Kedua pipinya tembem.

Sungguh berbeda dengan penampilannya sebagai Yoko. Model rambutnya yang rada cepak dan dibasahi ‘gel’ menambah pesona dirinya. Louis yang akrab disapa Koo Cai ini terlihat cengar cengir. I amenarik BI duduk di sebuah rumah makan di kawasan Wanchai, Hongkong.

Hari itu sikap tidak simpatik terhadap para wartawan yang selama itu melekat pada diri Louis, terhapus oleh senyuman hangatnya. Louis mengakui itu tidak lepas dari usaha kerasnya sejak beberapa waktu untuk mengubah imej. Selama itu dirinya dicap sebagai aktor yang dingin, tidak bersahabat. Sehingga banyak kuli tinta segan berhadapan dengannya.

“Saya tahu banyak yang sebal. Padahal, saya bukan orang yang dingin atau tidak bersahabat. Sejak kecil, saya agak tertutup, tidak suka bicara. Ya, seperti Yoko. Lantas masa lalu yang kelam yang menghantui (pernah dipenjara di lembaga pemasyarakatan anak-anak akibat kenakalan remaja-red), menambah sesal sehingga saya makin tertutup,” katanya. Pikiran Louis mulai terbuka tatkala ia selesai syuting serial silatnya yang pertama, RoTCH.

Berbagai protes yang muncul atas sikapnya yang tidak bersahabat sebagai pendatang baru, berhasil membuka mata hatinya. Ia mengaku mulai berpikir positif. “Saya menganggap semua masa lalu saya yang buruk sebagai pelajaran berharga buat melangkah hari esok. Sudah ah, saya ogah bicara masa lalu,” kata pria yang berselera sama dengan Yoko dalam hal wanita.

Di mata Louis, bibi Liong wanita yang berkharisma. Karena itu, wajar ia berharap bisa seperti Yoko, beristrikan wanita seperti bibi Liong. “Sayangnya, sampai detik ini belum saya temukan perempuan sepertinya,” papar cowok kelahiran Hongkong, 21 Oktober 1970 ini (waktu itu). Bukannya enggan, namun kata Louis, tuntutan hidup di Hongkong yang tinggi, membuatnya terpaksa menomorduakan hasrat mencari pendamping hidup.

“Uang adalah hal yang sangat penting di Hongkong. Nah, buat saya yang hidupnya pas-pasan (?), bagaimana mungkin pacaran? Di sini semua serba mahal. Tak ada uang, bagaimana memikat cewek? Apalagi menikahinya. Mau tinggal di mana? Sampai saat ini (1997-red), saya masih menumpang di rumah ortu!,” tukas pria bertinggi/berat (waktu itu) 181 cm/79 kg.

Padahal, kata Louis yang hobi pesiar ini, satu hal yang teramat ingin diwujudkannya saat itu justru menikah. “Ya, saya ingin sekali segera menikah. Saya suka dengan bocah-bocah kecil. Gemas melihat tampang mereka yang lugu. Saya berharap bisa segera menimang anak. Selama ini di rumah saya hanya berdua dengan satu adik perempuan. Sudah gede pula. Ruamh jadi terasa sepi. Kalau ada anak kecil, rumah terasa lebih hidup, ya,” cetusnya.

Louis tersenyum ketika BI mencandainya, supaya menikahi wanita berduit agar impian itu terwujud. “Nggak ah, apalagi kalau tampangnya ‘ugly’,” candanya sambil memperagakan gayanya dengan lucu. Sedang mengenai usul adopsi anak, ditanggapinya dengan enteng.

“Saya masih berharap bisa menimang anak kandung sendiri,” cetus cowok yang mengawali karier pertamanya sebagai model laser karaoke tahun 1991-1993. (“Saya pernah menjadi model laser karaoke Andy Lau dan Jacky Cheung. Judulnya Happy Birthday, My Lover, dan Only Want To Walk With U Forever,” selanya).

Hal terpenting (saat itu), menruut Louis yang dikenal sebagai salah satu dari “lima macan baru” TVB – waktu itu – (lainnya, Leo Koo, Carlo Ng, Hawick Lau, Keith Ho), mencari uang sebanyaknya. “Setelah punya banyak uang, saya bercita-cita membeli apartemen seluas 1000 meter persegi. Kalau bisa, letaknya di Shenzhen. Tapi, bingung juga. Biar harganya murah, dekat Hongkong, tidak cocok buat investasi. Susah khan?

Itu bakal jadi bekal saya setelah tidak jadi pemain. Saya sudah berencana hanya akan bertahan di dunia hiburan beberapa tahun lagi. Mungkin seusai kontrak saya dengan TVB tahun 1999. Untuk masa depan, saya lebih suka berbisnis,” katanya. Buka ‘coffee shop’ di pinggir pantai serta usaha butiknya di masa (yang saat itu akan) datang. Louis beralasan usaha butik sebagai pelampiasan atas kegaglaannya menjadi desainer.

“Jadi, desainer adalah cita-cita saya semasa kecil. Tapi, akhirnya amblas sejak saya jadi pemain film, karena itu, tidak jadi desainer, buka butik lumayanlah. Setiap ke luar negeri, terutama Jepang dan Paris, pastilah saya mampir ke butik-butik. Saya suka ‘shopping’. Beli busana yang modis. Kebetulan bentuk tubuh saya sekarang (1997-red) ya, nggak malu-maluin seperti dulu (jauh sebelum 1997-red),” sambung anak sulung dari 2 bersaudara ini memamerkan ototnya (waktu itu).

Malu-maluin? Ya, menurut Louis yang (saa titu) timbangan badannya naik 9 kilo, dulu (jauh sebelum 1997-red) ia kerap tidak percaya diri gara-gara tubuhnya yang kurus.

“Semasa sekolah dulu, tiap kali saya jatuh cinta dengan seorang cewek, pastilah ia akan menyebar ke teman-temannya. Bilang saya kurus, jadi ogah pacarana. Saya jadi kurang percaya diri. Tapi, sulit sekali menggemukkan badan. Saya termasuk pemalas, lebih suka tidur,” aku Louis yang (saat itu) sudah lama berhenti merokok.  

Toh, bila akhirnya ia berhasil memiliki tubuh berisi, semua berkat TVB yang belum lama (ketika itu) ini menyodorkan naskah serial ICAC yang bercerita tentang suka-duka angota Komisi Independen Anti Korupsi. Tuntutan peran membuat Louis terpaksa berlatih keras membentuk tubuhnya.

“Saya puas dengan bentuk tubuh seperti sekarang (1997-red). Tapi, kalau bisa, saya ingin warna kulit lebih gelap lagi. Biar makin kelihatan gagah. Sekalian, sambil berjemur, saya bisa tidur lebih lama. Kamu tahu, gara-gara kebut syuting, saya sudah tidak tidur tiga malam. Ngantuk sekali. Tapi apa boleh buat,” ucap pria yang mengaku nama baratnya, Louis, hasil pemberian gurunya semasa duduk di sekolah menengah.

Ditulis oleh: Funnywati Sucipto

Alamat Louis Koo (waktu itu):

TVB (Talent Department)

Clearwater Bay, TV City

Kowloon, Hongkong

Dok. Bintang – Edisi 330/Th. VII/minggu kedua Juli 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer