PROFIL MANDARIN - SEPASANG MATA JET LEE TAK MAMPU KOMPROMI DENGAN ADEGAN CIUMAN
JANGAN suruh aktor satu ini beradegan mesra. Bisa berabe. Kalau tidak menuntut skenario diubah, kemungkinan (perkiraan waktu itu) ia akan membatalkan kontrak kerja. Kaget? Tak perlulah. Soalnya, Jet Lee atau Lie Lien Cieh memang terkenal “rada alergi” beradegan mesra. Ia lebih suka menunjukkan keahlian ilmu wushunya yang indah atau berakting adegan yang sulit. “Misalnya, diserang oleh banyak penjahat,” ujarnya.
Untuk hal ini, Lee yang juga biasa ditulis Li Lian Jie, punya alasan tersendiri. “Susaaah betul akting ciuman. Butuh tatapan mesra yang lama dan harus berdekatan dengan lawan main. Mata saya tak bisa diajak kompromi. Lewat dari 30 detik, pastilah mengedip. Yaaaa…. Di kamera kelihatan tidak serius, gitu,” katanya setengah bercanda. “Nah, daripada susah sendiri, mending saya menolak,” ujar Lee.
Mungkin saja Anda-Anda akan sinis mengatakan cowok yang pertama kali menyabet penghargaan wushu pada usia 11 tahun ini sok suci, jual mahal, atau apalah. Tapi itu sudah haknya. Dengan popularitasnya seperti 1996, pemeran suhu Wong Fei Hung dalam Kungfu Master ini, berhak berbuat sekehendak hati. Seperti tindakannya yang (belakangan itu) banting setir dari film-film bertemakan silat ke eksyen.
Sejak tahun 1994, si jenaka Fong Sai Yuk dalam film King of Kungfu ini lebih banyak tampil dengan rambut berpotongan ‘crew cut’. Seperti film Bodyguard From Beijing, New Fist of Legend, Appointment With Death, yang (belakangan itu) ditayangkan (dalam Layar Emas-red) di RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) atau yang (waktu itu) tergres, Blackmask bersama bintang sensual Francois Yip.
Padahal, banyak yang berpendapat, Lee lebih pas dengan pakaian silat kuno dan berambut ala dinasti Ching, setengah botak dengan kepang panjang di belakang.
“Saya sekadar mengikuti selera pasar. Tak mungkin saya terus
bertahan dengan film silat yang popularitasnya kini (1996-red) memudar.
Sementara film eksyen sekarang (1996-red) lebih menguntungkan. Dan mungkin saja
setelah lelah bermain eksyen, saya tidak tertutup kemungkinan akan terima
tawaran film drama!,” ujarnya lugas (waktu itu).
“Tapi, apa mungkin ya ada produser yang berani membayar saya atau seorang Jackie Chan untuk memerankan film drama? Bisa-bisa mereka merugi,” kata cowok yang pernah imigrasi ke AS tahun 1988 ini. Selain alergi beradegan mesra, di kalangan kuli disket Hongkong, aktor ini dikenal paling pelit bicara. Apalagi yang sudah menyangkut kehidupan pribadinya. Misalkan soal kekasihnya (waktu itu), Nina Li Che, yang dikabarkan (waktu itu) sedang terlibat hutang besar.
Sewaktu seorang rekan wartawan setempat mendapat kabar BI (Bintang Indonesia) mewawancarai Jet Lee di sela syuting film High Risk tahun 1995 lalu di daerah Central, Hongkong, ia rada ‘surprise’. Dalam telepon jarak jauh, ia mengatakan BI terhitung beruntung. “Berhadapan langsung dengan Jet Lee dan ia mau ngoceh apa saja yang Anda tanyakan, itu sangat luar biasa,” komentar sobat dari mingguan hiburan ternama, ‘Oriental Sunday’ Hongkong. Ia kemudian melanjutkan ucapannya.
“Apalagi kalian bertemu dengannya di lokasi syuting. Biasanya ia tak mau diganggu. Lee lebih suka duduk memojok. Kadang ie melamun, kadang juga seperti sedang berpikir keras! Bila wartawan ingin mewawancarai, pastilah banyak alasannya! Tak ada waktulah, mau konsentrasilah atau mau berlatih kungfulah! Ngeselin!,” sambungnya lagi. Ya, namanya juga orang kondang. Bisa sekehendak hatinya. Bukan begitu, Lee?
Ditulis oleh: Funnywati Sucipto
Surat menyurat dengan Jet Lee (waktu itu) bisa dialamatkan ke d.a. Eastern Production Ltd, GA Kimberley Mansion 15, Austin Avenue, Tsim Sha Tsui, Kowloon, HONGKONG.
Dok. Bintang – No. 297/Th. VI/minggu pertama November 1996, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar