PROFIL - DEWI YULL-BROERY MARANTIKA: "DUET MARIA MERCEDES-GEORGE LOUIS"
Sang “George Louis”, Broery Marantika
PERTEMUAN pertama Dewi “Ekspose” Yull dan Broery “Cooking Melody” Marantika terjadi bertahun-tahun sebelum bacaan ini dimuat Citra. “Oh, waktu itu Dewi masih kecil,” kenang Broery yang lahir di Ambon, pada 25 Juni 1944. “Umurku masih 11an tahun,” ingat Dewi yang lahir di Cirebon, pada 10 Mei 1961.
Pertemuan tersebut terjadi di TVRI, ketika keduanya main dalam sebuah operet. Dalam operet itu, Broery jadi pangeran yang bersanding dengan putri yang diperankan oleh Anna Manthovani, sementara Dewi cuma figuran.
Waktu itu, Broery dan Anna sudah populer sebagai penyanyi, sementara Dewi belum. Tahun 1995 ini, ketika telah masuk ke deretan penyanyi papan atas negeri ini seperti Broery, Dewi “dikawinkan” dengan Broery untuk lagu Jangan Ada Dusta Di Antara Kita (karya Harry Tasman-red) dalam album berjudul sama.
Bolak-Balik Rekaman
Adalah Hadi Sunyoto, produser rekaman HP Record, yang “mengawinkan” Dewi dengan Broery. Hadi mendapat lagu Jangan Ada Dusta… Lagu ciptaan Harry Tasman yang mantan penyanyi itu dinilainya pas untuk diduetkan. Ia lalu menawari Dewi dan Broery untuk menduetkan lagu tersebut. Gayung pun bersambut.
Bagi Broery, Jangan Ada Dusta… masih sewarna dnegan lagu-lagunya sebelum ini. “Saya tepta di jalur ‘ballad’, saya penyanyi ‘ballad’. Lagu-lagu yang saya nyanyikan adlaah lagu-lagu ‘ballad’, bukan pop. Pop itu enteng!,” komentar Broery.
Sementara itu, menurut Dewi, “Warna lagu ini beda dengan warna lagu-lagu ciptaan Amin Ivos (Kau Bukan Dirimu dan Kini Baru Kau Rasa). Yang saya nyanyikan sebelumnya dan jadi trend. Selera masyarakat nggak bisa diprediksi. Kita nggak bisa menduga maunya ke mana. Untuk nggak mengekor trend, kita butuh keberanian,” pendapat Dewi.
Secara terpisah, Dewi dan Broery saling menilai teman berduet mereka sudah punya jam terbang tinggi dan kaya akan pengalaman dalam bertarik suara. Namun, kendati mengaku belum sesenior Broery sebagai penyanyi (waktu itu), Dewi tidak melihat dirinya perlu merasa “lebih kecil” ketika berhadapan dengan Broery.
“Ini bukan soal perasaan. Ini masalah kerja, bagaimana aku bisa bekerjasama dengan penyanyi lain. Bagaimana vokalku dengan vokal Broery bisa “kawin”,” jelas Dewi yang meraih gelar penyanyi cilik terbaik se-Jawa Barat 1970 dan hingga saat itu (1995-red) telah menekuni dunia tarik suara tak kurang dari (sampai saat itu) 30 tahun.
“Dalam bekerjasama, yang penting bukan saya atau Dewi populer atau nggak, melainkan jam terbang dan pengalaman,” terang Broery yang mantan vokalis sekaligus pemain keyboard The Pro’s, band yang “hidup” di akhir 1960-an dan awal 1970-an.
Dalam proses rekaman lagu tersebut, Dewi dan Broery tidak selalu masuk ke studio bersama-sama. “Awalnya, beberapa kali kami rekaman bareng. Lalu, waktu memperbaiki vokal masing-masing, kami masuk sendiri-sendiri,” kisah Dewi. Demi “kawin”-nya vokal mereka, mereka pun rela bolak-balik memperbaiki vokal masing-masing. “Habis rekaman, dengar di rumah. Masih kurang enak, balik ke studio, ulang rekaman. Nggak enak lagi, balik lagi, ulang rekaman lagi. Sampai 4-5 kali,” lanjut Dewi.
Jangan Ada Dusta… merupakan satu-satunya lagu duet Broery dan Dewi dalam album berjudul sama. Lagu-lagu lainnya mereka bawakan sendiri-sendiri. “Di foto sampul dalam kasetnya, penampilan Broery keren, kayak George Louis (tokoh dalam Maria Mercedes tayangan SCTV-red), penampilanku biasa-biasa saja, kayak Maria Mercedes,” seloroh Dewi.
Pantangan Wajah Kanan
Klip video Jangan Ada Dusta…. Dikonsep dan digarap rumah produksi Broadcast Design Indonesia (BDI) dengan sutradara Richard Buntario. Syutingnya berlangsung di studio BDI, di bilangan Sunter, Jakarta Pusat, 14 Juni 1995 sore-malam. Bagi Broery, itu bukan kali pertama klipnya ditangani BDI. Klip-klip Before U Go dan Hati Yang Terluka juga bikinan BDI. “Saya tahu kualitas BDI. Jadi, saya nggak cerewet. Saya mau diapakan, terserah BDI,” katanya.
Di lain pihak, Dewi baru pertama kali dibuatkan klip oleh BDI (waktu itu). Sebelumnya, rumah produksi miliknya, GIZ Cipta Pratama, yang membuat klip-klip Kau Bukan Dirimu dan Kini Baru Kau Rasa. “Orang-orang produksinya lagi ngerjain Ekspose (‘talkshow’ di SCTV yang dipandunya),” ungkapnya.
“Klipku mau dijadikan seperti apa, aku nggak terlalu ikut campur. Aku sangat menghargai wilayah kerja orang-orang lain, sutradara, penata rias, dan yang lain. Aku percaya orang-orang yang bekerjasama denganku akan memberikan yang terbaik untukku. Itu berlaku waktu aku kerja dengan orang-orang di luar dan di dalam perusahaanku sendiri,” ungkapnya.
Namun, meskipun mereka berprinsip begitu, itu tidak berarti mereka tak punya “aturan main” yang juga harus dihormati orang-orang lain. Ketika Richard meminta Broery untuk memasang ekspresi memohon dalam syuting, ia tak mau. “’No’! Saya nggak mau jadi kelihatan cengeng! Lirik lagunya khan juga nggak cengeng, biarpun tentang cinta,” ujar suami Wanda sekaligus ayah Indonesia Pesulima Putra dan Nabila Methaya ini.
Sementara itu, Dewi meminta BDI untuk tidak mengambil gambar wajah kanannya. “Ada sesuatu yang kita sukai dan yang tidak kita sukai dari diri kita,” alasan istri Ray Sahetapy sekaligus ibu Giscka Putri Agustina, Rama Putra, dan Panji Surya ini.
“Untuk gambar-gambar yang berhubungan dengan keindahan, seperti dalam klip dan klan, aku selalu nggak mau disyut dari wajah kanan. Tapi kalau untuk karakter, seperti dalam film dan sinetron, mau disyut dari mana saja, aku nggak peduli,” tambahnya.
Selain itu, ia juga panik ketika penata rias dari BDI sempat mencabut 4 helai alisnya untuk merapikan alisnya. “Jangan, nggak mau, ‘please’. Mohon maaf seribu maaf. Waktu kawin saja, aku nggak mau alisku dicabut. Aku anti melepaskan apa yang sudah aku miliki,” ujarnya. Dalam syuting hari itu, Dewi dan Broery, yang mengenakan busana pribadi, tampil sendiri-sendiri. Dewi yang mendapat giliran duluan, sebetulnya sudah bisa pulang ketika Broery disyut.
Namun, karena Broery terus-terusan lupa pada lirik lagu Jangan Ada Dusta – yang harus “terbaca” lewat gerak bibirnya, Dewi menunda kepulangannya untuk memandu Broery dengan membaca keras-keras lirik lagu tersebut. “Itu kelemahan saya. Suka lupa lirik lagu,” aku Broery. Untung ada Maria Mercedes, eh Dewi Yull.
Ditulis oleh: Ati Kamil
Dok. Citra – No. 280/VI/7-13 Agustus 1995, dengan sedikit perubahan


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)



Komentar
Posting Komentar