PROFIL BARAT - TORI SPELLING: "SUSAHNYA JADI ANAK MEGAPRODUSER"
MENYANDANG nama besar orangtua tidak selalu menyenangkan. Paling tidak, itulah yang dirasakan Tori Spelling (waktu itu 24 tahun), putri sulung megaproduser, Aaron Spelling. Kesuksesan dan ketenaran yang dimilikinya saat itu, dituding para kritikus sebagai imbas nama besar ayahnya. Tuduhan ini jelas membuat Tori jengah.
“Saya pikir saya harus berhenti menjadi “putri” Aaron Spelling,” kata Tori. Ia sangat senang jika ada fotografer memintanya berfoto sendiri, meski ayahnya ada di sampingnya.
Di luar keinginan Tori, anggapan bahwa ia sukses karena faktor nepotisme, wajar-wajar saja. Sejak usia 6 tahun, ia sudah disertakan ayahnya dalam film-film TV sukses seperti Vegas, The Love Boat (keduanya diputar di Indonesia lewat RCTI/SCTV-red), Fantasy Island (di Indonesia diputar TPI-red), T.J. Hooker (di Indonesia diputar RCTI-red), dan Hotel (di Indonesia diputar TPI-red). Permainannya dalam BH 90210 (di Indonesia diputar RCTI/SCTV-red) tidak dihargai para kritikus TV.
Mereka berpendapat, peran itu didapat karena ia putri keayangan tuan Spelling. Pendapat ini disangkal Tori. Untuk mendapatkan tempat dalam seri populer itu, ia harus berkompetisi dengan banyak calon. Ia juga tidak mencantumkan nama belakang ayahnya ketika mengajukan lamaran. “Saya harus bekerja keras untuk membuktikan diri,” ungkapnya. Tori memang benar. Selama syuting, Tori tidak pernah bersikap mentang-mentang.
Sebenarnya, ia bisa saja merengek pada ayahnya agar diberi peran Kelly (Tori jatuh cinta pada karakter Kelly yang seksi dan cantik itu). Tapi itu tidak dilakukannya. Tori tetap tekun memerankan tokoh Donna (yang hanya mendapatkan porsi kecil) tanpa mengeluh.
“Sejak kecil saya punya semacam ketakutan bahwa orang akan mengira saya sombong atau liar karena saya anak Spelling. Jadi saya selalu berhati-hati dan sopan,” kata Tori. “Semua orang menyukainya dan mempercayainya,” puji Brian Austin, pacarnya dalam BH 90210.
Sebagai anak produser, Tori juga pernah dicurigai sebagai mata-mata sang ayah oleh pemain-pemain lain dalam BH 90210. “Kami selalu berhati-hati bicara ketika dia ada bersama kami,” ungkap Austin. Tapi lama kelamaan mereka menyadari bahwa Tori tidaklah seburuk dugaan mereka. Bahkan Tori akhirnya menjadi teman semua orang, termasuk si pembangkang Shannen Doherty.
Tapi persahabatannya dengan Doherty harus berakhir ketika Aaron Spelling memecat Brenda dari BH 90210 pada 1993. Pasalnya, Aaron menyangkal Doherty mempengaruhi anaknya bermabuk-mabukan ketika berlibur di Meksiko.
Setelah kejadian itu, Tori tidak pernah mendengar kabar dari Doherty. “Saya tidak meneleponnya karena takut menanyakan apa yang terjadi. Tapi saya pikir jika kami bertemu kembali, keadaan akan lebih baik. Dan kami bisa berteman lagi,” harap Tori yang pernah berpacaran dengan si ringan tangan, Nick Savalas, putra almarhum Telly “Kojak” Savalas.
Tori memang selalu menjadi putri kesayangan Aaron Spelling. Sejak kecil, dia diperlakukan sebagai boneka kaca. Ke manapun pergi, pengawalnya tak pernah lepas dari sisinya. Limpahan harta dan uang bagai pelayan yang siap memenuhi segala keinginannya. Sombongkah Tori?
“Saya ingin seperti anak-anak lain. Saya ingin jalan-jalna tanpa limo dan supir,” keluh Tori. Ketika sebuah limo mengantar Tori dan keluarganya ke acara sekolah di Westlike sekolah swasta khusus putri, Tori malah gugup dan berkata, “Bisakah kita parkir di sini dan berjalan ke sekolah?,” tanya Tori pada ayahnya.
Sewaktu berusia 22 tahun, Tori tidak lagi merasa bahagia berada di rumah ayahnya yang seharga 100 juta dolar. Tori memutuskan pindah ke sebuah apartemen kecil. Selanjutnya, ia melamar berbagai peran dalam film-film non-Spelling. Tori benar-benar ingin membuktikan dia bisa berakting.
Dalam A Friend To Die For yang ditayangkan di NBC, ia bermain meyakinkan sebagai gadis pom pom yang dibunuh temannya. Pujian pun dilontarkan para kritikus. Tapi yang paling penting buat Tori, film ini berhasil masuk empat besar film TV musim 1994-95. Satu langkah bagus buat nona Spelling untuk lepas dari bayang-bayang tuan Spelling.
Ditulis oleh: Ida M. Palaloi (berbagai sumber)
Dok. Bintang – Edisi 339/Th. VII/minggu kedua September 1997, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar