PROFIL BARAT - SEBELUM JADI BINTANG TENAR, MATT LEBLANC INGIN JADI TUKANG KAYU
DI teve lewat seri Friends (di Indonesia diputar RCTI-red) yang
sangat populer itu, kita bisa menikmati tampang manis Matt LeBlanc (waktu itu
30 tahun). Bermain sebagai Joey Tribbiani, pemuda keturunan Italia yang sedikit
blo’on tapi simpatik, dan berambisi jadi aktor hebat. Karena perannya yang tak
seserius tokoh Friends lainnya, LeBlanc termasuk jarang ditulis serius oleh
pers. Paling-paling, ia disebut “Tony Danza baru”.
Sedemikian minimnya ulasan mengenai aktor berzodiak Leo ini, hingga seorang penggemar beratnya, menyediakan ‘homepage ‘untuk menampung aneka informasi mengenai Matt LeBlanc. “Saya membuat ‘homepage’ ini karena saya pikir Matt LeBlanc patut memperolehnya, seperti juga bintang Friends lainnya,” begitu tulis sang pembuat ‘homepage’.
Padahal, LeBlanc punya riwayat hidup yang seru. Ia, misalnya, bukan cuma berdarah Italia – salah satu film yang pernah dibintanginya berjudul Lookin’ Italian – seperti peran-peran yang dibawakannya.
“Saya ini setengah Italia, seperempat Perancis, seperempat lagi Inggris, irlandia, dan Belanda,” kata aktor yang lahir dan dibesarkan di kawasan pemukiman kelas pekerja, Newton, Massachusetts ini. Kalaulah darah Italia yang lebih tercium dari sosoknya, itu disebabkan ia lebih dekat dengan ibunya yang imigran Italia.
LeBlanc yang anak tunggal, sudah jadi korban perceraian sejak masih sangat belia. Bersama ibunya yang berprofesi sebagai ‘supervisor’ produksi di sebuah perusahaan elektronik, ia tinggal di apartemen kecil. Sang ibu sering meninggalkan Le Blanc kecil sendirian di kediaman mereka. Baru pada usia 8 tahun, penyuka terjun payung ini bertemu dengan ayahnya.
Dengan kondisi keluarga yang seperti itu, toh LeBlanc tak henti-hentinya mencari identitas diri. Justru sejak remaja ia sudah tahu betul apa yang ingin dicapainya. “Sebelum mengenal dunia akting, saya kepingin sekali jadi tukang kayu profesional,” kenang LeBlanc. Itulah sebabnya ia masuk sekolah kejuruan dengan mengambil jurusan pertukangan.
Setelah lulus, ia sempat beberapa lama bekerja di konstruksi bangunan, sebelum akhirnya kuliah di ‘Institute of Technology’ agar cita-citanya membangun gedung pencakar langit kesampaian. “Tapi saya sudah keburu bosan setelah selesai semester pertama. Rasanya tempat saya bukan di kampus. Maklum, saya khan gila pesta,” kata LeBlanc memberi alasan. Di saat bingung itulah, LeBlanc disarankan seorang teman untuk mencoba dunia model.
Meski memulai langkah sebagai model dengan antusias, pemuda (era itu) yang senang memotret pemandangan ini, (hingga saat itu) belum beroleh keberuntungan. Lantas, ia memilih tinggal di Florida dengan ayahnya, sebelum akhirnya pindah ke New York untuk belajar akting. “Saya menyewa apartemen bersama dua orang pramugari, dengan bekal uang 3.000 dolar dari hasil penjualan truk,” cerita LeBlanc.
Pada usia yang (sampai saat itu) belum lagi mencapai 20 tahun, ia dengan naif mengira uang sebanyak itu tak akan habis sampai ia berhasil jadi bintang terkenal. Bahkan dengan sok aksi ia membual pada teman-teman seapartemennya, kalau ia punya uang yang sangaaaat banyak. Tapi baru 3 bulan, dana sebesar 3.000 dolar itu sudah tak lagi bersias di sakunya!
Apa boleh buat, LeBlanc terpaksa pindah ke seubha kamar hotel dengan kondisi yang sangat menyedihkan. “Ukurannya cuma seluas mobil sedan,” ujar LeBlanc membangkit kenangan lama. Untuk mengisi perut, ia jadi pelayan di sebuah restoran yang menjual burger. “Pukul 2 pagi saat orang masih terlelap di tempat tidur yang nyaman, saya masih harus membersihkan kompor,” tambahnya.
Diakui, LeBLanc, ia pernah ribut besar dengan penghuni sebelah kamarnya yang menyetel musik keras-keras tengah malam.
Kabarnya, ibu LeBlanc sampai menitikkan air mata melihat putra tunggalnya tinggal di kamar hotel yang sumpek itu, lalu mengajkanya pulang kampung. Tapi LeBlanc menolak. “Saya belajar banyak soal hidup di sana,” demikian pemilik anjing bernama Lady, yang sering dihiburnya dengan memainkan harmonika itu. Ia juga tak punya telepon di kamar sewaannya. Bayangkan, betapa repotnya mencari order tanpa fasilitas telepon.
Pada masa-masa sulit itulah, LeBlanc digiring memasuki gemerlap dunia panggung. Tak kurang 12 iklan teve berskala nasional dibintanginya dengan mulus. Dari Coca-Cola, Doritos, Milkyway, Levi’s, sampai Heinsz Ketchup.
Iklan terakhir itu, mendapat penghargaan ‘Gold Lion Award’ di Festival Film Cannes 1987. LeBlanc juga terlibat dalam sejumlah pementasan teater, beberapa pertunjukan teve, sebelum akhirnya dipercaya memerankan Joey Tribbiani di seri Friends yang pertama ditayang September 1994 itu. Terakhir (kala itu), LeBlanc main di film layar lebar berjenis komedi, Ed. Tawaran lain (waktu itu) menumpuk di mejanya, menanti persetujuan sang bintang.
Penggemar berat balap mobil yang getol membaca majalah otomotif ‘Road and Track’, ‘Car and Driver’ serta ‘Popular Mechanics’ ini, tentu saja sangat mensyukuri keberuntungannya itu. “Sangat menyenangkan kalau kita benar-benar mandiri secara finansial,” begitu komentarnya. Secara moral pun, sukses itu membuat LeBlanc menjadi lebih baik.
“Ketenaran justru membuat saya tak lagi gila pesta. Sudah saatnya meninggalkan pola hidup destruktif yang saya jalani di masa remaja,” katanya kalem. 1997, sehari-hari bila tak ada jadwal syuting, LeBlanc lebih senang mengahbiskan waktu dengan tidur di ranjang besar, lengkap dengan dua buah bantal dan selimut yang nyaman serta jendela terbuka.
“Saya tidur seperti batu. Bahkan gempa bumi sebesar yang terjadi di Los Angeles tahun 1994 pun tak akan membangunkan saya,“ selorohnya jenaka. Oh ya?
Ditulis oleh: Sandra Kartika (berbagai sumber)
Dok. Bintang – Edisi 320/Th. VII/minggu kelima April 1997, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar