PROFIL BARAT - SAAT HAMPIR MERAIH GELAR DOKTOR, DAVID DUCHOVNY MEMUTUSKAN JADI AKTOR

 

JUTAAN penggemar X-Files gempar setelah David Duchovny tampil seksi di salah satu episode. Di internet, mereka menggunjingkan ‘sex appeal’ David. David pun digelari ‘the hottest sci-fi sex symbol’.

David Duchovny memang menghadirkan sensasi tersendiri. Kelihatannya dalam diri blasteran Yahudi dan Skotlandia ini, bercampur dua gaya hidup Amerika, eksekutif Manhattan (kesinisan atas segala sesuatu yang berbau supranatural, seperti yang ada dalam serinya) dan kesantaian Los Angeles (vegetarian yang mempelajari yoga di trailernya).

Belum lagi, kalau melihat latar belakang pendidikan yang mencengangkan. Ketika memasuki dunia akting, David sedang berkutat untuk menyelesaikan tesis doktor di Universitas Yale.

“Ibu saya sangat kecewa. Dan saya pikir ia akan tetap kecewa, meski saya berhasil mneyelsaikannya. Soalnya, saya memang tidak pernah punya keyakinan hidup sebagai akademisi,” ujar David yang lahir pada 7 Agustus 1960 ini. Ibu David, Margaret Duchovny, pantas bila berharap banyak. Margaret tahu persis kemampuan berpikir anaknya, yang selalu mendapatkan beasiswa sedari sekolah dasar (SD) ini.

David memasuki dunia peran secara tidak sengaja, meski ia pernah belajar akting di sekolah drama Yale. Bisa dibilang ia terbujuk rayuan temannya ketika menjadi model iklan Lowenbrau, tahun 1987. Ternyata, peran itulah yang menyemangatinya untuk menerima tawaran main di New Year’s Day (1989). Setelah itu, ia tampil dengan peran “kecil” seperti dalam Julia Has Two Lovers, The Rapture, Chaplin, Beethoven dan California (main bersama Brad Pitt).

Selain itu, David juga muncul sekilas dalam beberapa tayangan teve, seperti Twin Peaks – di Indonesia diputar TVRI Programa 2, red – (dalam seri karya David Lynch ini, David Duchovny berperan sebagai detektif yang punya kelainan seksual) dan narator dalam Red Shoe Diary. Sudah tentu X-Files (di Indonesia diputar SCTV-red) yang mengangkat namanya melambung tinggi, sehingga ia dihargai 100 ribu dolar per episode.

“Kepopuleran pada akhirnya tidak punya nilai. Pada suatu titik, saya menyadari, saya dihargai atas dasar sesuatu yang tidak terlalu berguna. Itu tidak memuaskan. Kepopuleran sama dengan parfum,” ujar David mengomentari sanjungan orang.

Bila Fox Mulder meyakini dan optimis atas keberadaan makhluk angkasa luar dan kehidupan paranormal, David justru sangat pesimis. “Karakter saya tidak sama dengan Fox. Kalaupun percaya, saya tidak akan mengatakan ke semua orang. Kita selalu ingin mempercayai, ada sesuatu yang lebih pintar, lebih baik dibandingkan kita.

Sesuatu yang akan menolong sampai saat-saat terakhir. Saya tidak pernah bisa memahami secara pasti, kenapa itu menjadi titik utama dalam keyakinan kita. Bukankah itu justru menjadikan kita kelihatan tak berdaya dan lemah?,” tanya David, yang tak sempat menyelesaikan disertasi doktornya, yang berjudul ‘Magic and Technology in Contemporary Poetry and Prose’.

Memang, pada akhirnya pencinta X-Files harus mengoreksi harapan mereka pada David. Tidak saja soal keyakinan, tapi juga hubungan David dengan Gillian Anderson. Seperti halnya Gillian Anderson, David punya kehidupan pribadi yang cukup membahagiakan bersama sang kekasih (era itu), aktris Perry Reeves.

Dia memang sempat digosipkan punya hubungan khusus dengan Maggie Wheeler (berperan sebagai Janice, mantan pacar Chandler dalam Friends – di Indonesia diputar RCTI, red) dan Kristin Davies (Brooke, Melrose Place – di Indonesia diputar SCTV, red). Perkenalan di antara David dan Perry berlangsung di satu butik, tahun 1993. Pertemuan pertama itu langsung dilanjutkan dengan kencan dan hubungan cinta. Tapi David (waktu itu) belum memikirkan pernikahan.

“Barangkali perceraian (orangtuanya-red) adalah momen paling penting dalam kehidupan saya! Saya pikir, sulit bagi seseorang sembuh dari kejadian seperti itu! Kita semua dipaksa masuk dalam emosi dunia dewasa, tanpa punya persiapan untuk menghadapinya!,” kata David serius.

Entah sengaja atau tidak, ungkapan demi ungkapan David sangat bertolak belakang dengan karakter Fox Mulder. “Fox seorang anarkis,” tuding David. Ada semacam usaha menegasi agar karkaternya tidak identik dengan peran dalam seri karya Chris Porter ini. Itu juga alasan yang dikemukakan ketika menolak tawaran membintangi X-Files versi layar lebar, yang rencananya (waktu itu) akan diproduksi tahun 1997.

Ditulis oleh: Dicky Lopulalan

Dok. Bintang – No. 297/Th. VI/minggu pertama November 1996, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer