PROFIL BARAT - PHILLIPE "JOSE" VASSEUR: "SI PEMALU YANG INGIN PAMERAN LUKISAN"
WAJAHNYA, selintas seperti bukan wajah orang Perancis. Pertama mengenalnya, banyak yang menduga Phillipe Vasseur, si pemeran Jose dalam serial Helene et les Garcons (Helen and The Boys yang di Indonesia diputar ANTV-red), keturunan bule Amerika.
Padahal, kalau ditakar benar-benar, Phillipe murni 24 karat Perancis tulen. Nggak percaya? Tanya aja sendiri. ‘Wong’ kedua orangtuanya Perancis. Phillipe sendiri lahir di kota yang tak seberapa besar, beberapa km dari Paris, bernama Amiens.
Percaya atau tidak, jadi aktor ternyata bukan keingnan Phillipe. Dunia panggung adalah mimpi para pemberani, yang punya ‘self-confidence’ tinggi. Sangat sulit bagi Phillipe membayangkan dirinya jadi aktor. Berakting di depan kamera. Berbicara di hadapan publik. Sesuatu yang sangat jauh dari mimpi Phillipe. “Saya tidak pernah membayangkan bisa berdiri tegak di hadapan kamera,” ujarnya suatu ketika. “Dari kecil saya pemalu. Sampai sekarang (1997-red) pun masih,” tambahnya (waktu itu).
Kalau ada peribahasa, malu sebagian dari iman, bagi Phillipe, peribahasa itu sedikit berubah. Malu adalah keuntungan. ‘Why not’? Sebab, sifatnya yang pemalu itu membuat pacarnya, Jocelyne, sangat yakin kalau Phillipe tak pernah punya niat pergi dari sisinya. Jangankan pergi, niat saja tidak ada. Sampai-sampai Jocelyne begitu yakin, Phillipe tak akan pernah mengecewakan dirinya, tak akan mampu menyeleweng darinya. Sifat pemalu Phillipe ternyata amat dahsyat artinya bagi Jocelyne.
Seperti tersadar dari mimpi, Phillipe tak pernah punya niat mengubah sifat pemalunya. Malu adalah anugerah, dan biarkanlah malu terbang bersama dirimu. Toh, malu tak akan membuatmu menderita. Sadar dirinya begitu pemalu – dan agak susah membuka diri – Phillipe selalu membayangkan kehidupan seorang pelukis. Nalurinya mengatakan, jadi pelukis tentu mengasyikkan. “Sampai kini (1997-red) saya terus beprikri bahwa suatu ketika akan jadi seoran pelukis,” ujarnya.
Phillipe lantas menekuni studi arsitektur. Untuk orang seperti dia, dunia seni semacam arsitektur amat indah dan menggoda. Tak perlu hiruk-pikuk. Tak perlu berhadapan dengan publik. Cukup karya-karyanya saja yang dinikmati, bukan dirinya. Tapi tak ada seorang pun yang sadar dan tahu ke mana kaki akan melangkah.
Tak ada seorang cenayang tercanggih pun yang bisa mermaalkan seseoran gakan jadi A atau B kelak. Selepas studi, Phillipe diterima bekerja di AB Productions, rumah produksi yang menggarap Helene et les Garcons. Bukan sebagai aktor, melainkan sebagai desainer.
Setelah bekerja di AB Productions, Phillipe mulai merasakan sentuhan-sentuhan dunia glamor. Dunia yang hiruk-pikuk, dan penuh gelak tawa serta gempita tepuk tangan. Tapi tetap saja tak pernah terpikir dalam benaknya, kalau dirinya akan terlibat langsung dalam dunia itu dengan menjadi seorang aktor.
“Saya menyukai pekerjaan saya. Selebihnya, cuma ada dua hal yang begitu menyita perhatian saya. Pacar saya, Joceylne dan kecintaan untuk melukis,” umbarnya. Itulah sebabnya, di luar rutinitas kerja, Phillipe selalu menghabiskan waktu di sebuah ‘cottage’ mungil miliknya, bersama kekasihnya, Jocelyne dan anjing kesayangannya, Patou.
Tapi Phillipe tak bisa menolak atau juga mengiyakan, ketika tiba-tiba saja terbuka kesempatan menjadi aktor. “Suatu hari ‘casting director’ mengusulkan saya untuk main dalam serial TV, Helene et les Garcons,” kenangnya. Phillipe bukannya gembira. Dia merasa berada di antara keinginan dan keraguan. Ketakutan tiba-tiba saja mengguncangnya.
“Pasti saya nggak bisa berdiri tegak di depan kamera,” akunya. Untung, ketakutan itu hanya sesaat. Dalam tempo relatif singkat, Phillipe bisa menikmati dunia baru yang selama itu dianggapnya sangat jauh dari jangkauannya. Sebegitu jauh, peran Jose tak membuat Phillipe berubah. “Jose tak sama dengan Phillipe. Jose suka nguber-nguber cewek. Tapi, Phillipe tidak. Phillipe tetap pemalu dan tetap milik Joceylne,” katanya.
Tapi, (waktu itu) masih ada astu mimpi Phillipe yang begitu ingin diwujdukannya. Menikahi Jocelyne? Itu pasti! “Masih ada yang lain,” ledeknya. Apa dong? “Pameran lukisan Phillipe “Jose” Vasseur! Nah, itu!,” ujarnya setengah teriak. ‘So’, kita (waktu itu) tunggu saja undangannya.
Ditulis oleh: Lukmanoelhakim
Dok. Bintang – Edisi 310/Th. VI/minggu ketiga Februari 1997, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar