PROFIL BARAT - HELENE ROLLES: "SI HELEN YANG JADI TEMPAT BERKELUH KESAH"

 


JALAN hidup setiap orang dalam mencapai sukses, berbeda. Ada yang mesti berjuang dengan jalan berkelok-kelok. Banyak juga yang jalannya begitu mulus, tak banyak rintangan berarti. Begitulah pengalaman karier Helene Rolles, pemeran Helen dalam serial Helen and The Boys alias Helen dkk, yang setiap sore dari Senin-Jumat diputar ANteve (Andalas Televisi).

“Saya yakin sekali, saya lahir di bawah bintang keberuntungan,” ujarnya. Betapa tidak, dalam usia 12 tahun, Helen terpilih dari 4.000 gadis kecil (era itu) untuk bermain dalam film besar bersama aktor Perancis terkenal, Jacques Dutronc.

Helen yang “dituakan”, dianggap lebih dewasa, dan karenanya selalu menjadi tempat keluhan teman-temannya dalam serial Helen dkk, itu memang seusai dengan usianya. Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Narc Rolles-Nireille Rolles, itu (waktu itu) telah memasuki usia yang ke-30. Usia yang matang.

Lahir di sebuah kota bernama Le Mans, Perancis, 20 Desember 1966, Helen merasa amat beruntung. Keberuntungan itu berupa kebebasan yang diberikan orangtuanya dalam memilih jalan hidupnya. “Ibu tak pernah melarang saya memtusukan apa yang harus saya lakukan,” ujarnya.

Wajar bila kemudian Helen menempatkan ibunya sebagai orang pertama yang harus diberi ucapan terima kasih untuk sukses yang diraihnya. “Baru kemudian saya berterima kasih pada Dorothee. Dialah yang memberi kesempatan pada saya,” akunya. Buat Helen, Dorothee memang menempati posisi sangat Istimewa setelah ibunya.

 


Dua bulan setelah perannya sebagai gadis kecil bersama Jacques Dutronc, Dorothee (seorang penyanyi Perancis terkenal) mengadakan konser di kotanya, Le Mans. “Ibu saya kebetulan bertugas sebagai organisator pertunjukan,” ujarnya. Sebab itu, mudah bagi Helen berhubungan dengan Dorothee. Dorothee yang tahu Helen ingin sekali menjadi penyanyi, memberi kesempatan menyanyi bersama. “Sebuah kesempatan emas dalam hidup saya,” katanya dengan bangga.

Sejak konser di Le Mans itu, semua hal dirasakan Helen terjadi begitu cepat. “Saya lantas ke Paris meninggalkan Le Mans dan mulai bekerja di AB Productions bersama Dorothee,” ujarnya. “Di sanalah album pertama saya lahir. Saya kemudian ditawari main dalam Premiers Baisers, sinetron komedi pertama saya,” tambahnya. “Baru beberapa bulan kemudian, saya ditawarkan untuk main dalam Helene et les Garcons,” lanjutnya.

Segera saja, Helen menjadi terkenal di Perancis. Konser solo Helen sebagai penyanyi dibanjiri para ABG Perancis. Serial Helene et les Garcons, bahkan menjadi serial yang selalu ditunggu remaja Perancis (era itu). Jam tayangnya, yang mengisi slot ‘prime-time’ seusai sekolah, terasa pas untuk mereka. Wajar bila serial yang ditayangkan TF1 Perancis itu mampu menyedot rating tinggi.

Tak mengherankan bila AB Productions tak keberatan membuat serial itu dalam bentuk komik, sama persis dengan yang diputar di ANteve. Padahal seperti pengakuannya, ketika masih sekolah (‘school of sociology’) Helen tak pernah tertarik dengan yang namanya dunia ‘showbiz’.

“Dari hari ke hari saya hidup tanpa rencana jelas. Sampai akhirnya saya bertemu Dorothee. Mimpi saya sebagai penyanyi terwujud,” ujarnya haru. Tapi, sukses tanpa kerja keras, rasanya cuma mimpi. Itulah sebabnya, setiap hari Helen harus mau bangun pukul 06.00 pagi, bekerja di studio hingga pukul 20.00. “Pulang ke rumah, saya masih harus mempelajari skrip,” ujarnya. “Kadang-kadang saya merasa letih juga,” lanjutnya.

Wajar bila kemudian ketenaran itu menyisakan obsesi dan kerinduan yang tak pernah bisa terobati sebelum semuanya terwujud. Obsesinya yang hingga 1997 belum tercapai menrutu Helen cuma satu: “saya ingin mendapat peran berarti di layar lebar, mudah-mudahan saja ada tawaran dalma waktu dekat ini,” harapnya (kala tiu). Soal kerinduan?

“Saya kangen berat dengan lingkungan di mana saya dibesarkan, kagnen dengan lingkungan damai yang jauh dari kebisingan kota, kangen dengan anjing dan dua ekor kucing saya. Saya ingin segera pulang kampung!,” ujarnya antusias. Yang lain? “Oh ya, saya benci dengan kehidupan masyarakat saat ini (1997-red),” ujarnya (waktu itu) tanpa memerinci lebih jauh.

“Saya orangnya nggak peduli dengan gosip. Jangan pernah Anda mengira saya punya hubungan istimewa dengan Patrick Puydebat (pemeran Nicholas – pacar Helen dalam serial Helen and The Boys). Nggak ada apa-apa antara kami. Dan maaf, saya lebih suka menjaga rahasia kehidupan pribadi saya, “ujarnya menutup pembicaraan. Masih penasaran dengan Helen dkk? (Waktu itu) tunggu berita berikutnya.

Ditulis oleh: Lukmanoelhakim

Dok. Bintang – Edisi 305/Th. VI/minggu kedua Januari 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer