PROFIL BARAT - DOUG SAVANT: "TAK SEBERUNTUNG REKAN-REKANNYA DI MELROSE PLACE" (SCTV)
DI dunia film, isu homoseksualitas termasuk komoditi yang
laku dijual. Itulah sebabnya, tak sedikit film menyorot masalah ini dengan
berbagai cara. Ada yang mengharu biru seperti Philadelphia (1993), ada pula
yang lebih ringan macam The Birdcage (1996). Secara otomatis pula, aktor yang
memerankannya mendapat perhatian publik. Tom Hanks di Philadelphia, misalnya,
sampai memenangkan Piala Oscar untuk perannya sebagai ahli hukum homoseks
penderita AIDS.
Sedang aktor Nathan Lane yang semula tenggelam di antara kharisma bintang-bintang Hollywood yang jauh lebih glamor, segera dipandang usai menjadi pria gay di The Birdcage, bersama Robin Williams. Ia bahkan masuk daftar manusia paling lucu versi majalah ‘Entertainment Weekly’ belum lama (ketika itu) ini.
Sayang seribu sayang, nasib sebaik itu tak berpihak pada aktor Doug Savant (waktu itu 33 tahun), pemeran Matt Fielding di seri Melrose Place (di Indonesia tayang di SCTV-red). Meski sekian tahun bermain jadi pria homoseks – bahkan di salah satu episode melakukan adegan cium yang panas dengan seorang pria – nyatanya Savant tak pernah sampai benar-benar populer.
Coba bandingkan dengan bintang pria Melrose Place lainnya. Wah, Savant yang bertampang manis ini rasa-rasanya tertinggal jauh. Kalau Andrew Shue (pemeran Billy Campbell) sering diobrolkan di media, Grant Shaw (pemeran Jake Hanson) bolak-balik diulas dan difoto di majalah, atau Thomas Calabro (pemeran Michael Mancini) tak henti-hentinya mengisi kolom gosip, Savant malah nyaris tak pernah diekspos.
Tak banyak media yang menyediakan waktu khusus untuk mewawancarai pemilik bibir tipis ini. Padahal kurang apa dia dibanding Andrew Shue, Grant Shaw, atau Thomas Calabro? Soal tampan, tentu tak kalah. Bahkan postur tubuhnya paling kekar dibanding rekan-rekan mainnya itu.
Atau karena Savant (kala itu) sudah beristri, sedang rekan prianya di seri yang dicukongi Aaron Spelling (waktu itu) masih lajang semua? Bisa jadi, Savant yang berzodiak Gemini ini, juga (waktu itu) sudah punya dua anakk. Karenanya, kemungkinan besa ria dianggap tak lagi terjangkau.
Apa boleh buat! Atau bisa jadi karena sosok Matt Fielding yang dibawakannya sejak tahun 1992 itu tak memberinya kesempatan untuk tampil magnetis. Bagaimana tidak? Meski dapat peran kontroversial sebagai homoseks, Savant sebenarnya lebih sering tampil kalem.
Matt Fielding bukanlah Billy Campbell yang impulsif. Bukan pula Jake Hanson yang gampang tersinggung. Dan tentu saja, sangat jauh dibanding si manipulatif Michael Mancini. Alhasil, Savant hanya harus berakting monoton dengan wajah yang diusahakan sememlas mungkin. Ya, wajarlah kalau penonton lebih mengenang para tokoh yang meledak-ledak ketimbang yang terlalu manis seperti itu.
Peran sekalem itu pun, kalau dihitung-hitung, masih jauh lebih menguntungkan ketimbang episode-episode awal dulu. “Di musim pertama Melrose Place, saya cuma jadi Matt Fielding yang senang menolong semua orang. Sahabat baik saya adalah Rhonda (Vanessa Williams). Sewaktu Williams keluar dari Melrose Place, saya sempat kehilangan kepercayaan diri. Terpikir oleh saya, apa yang bisa saya lakukan tanpa tokoh Rhonda?,” cerita Savant dengan jujur.
Tak heran kalau Savant memutuskan memburu peran yang lebih menantang. Di luar jadawl syuting Melrose Place, ia main di film teve Fight For Justice: The Nancy Conn Story, 2 tahun sebelum bacaan ini dimuat Bintang (1995-red). Di film yang ditayang NBC berdasarkan kisah nyata itu, Savant main sebagai pemerkosa dan pembunuh. Waktu itu Savant menyatakan harapannya agar penonton tak mengenalinya sebagai Doug Savant.
Dalam rangka penghayatan peran, pria yang pernah mencicipi kuliah di ‘University of California’ (tapi memutuskan ‘drop out’ dan bergabung dengan teater lokal Los Angeles) ini, sampai menurunkan berat badan sebanyak 15 pon, belajar mengubah aksen, dan mengenakan kumis dan jambang.
Kabarnya, Savant lumayan menakutkan. Jauh hari sebelum bergabung dengan Melrose Place, sebenarnya Savant pernah juga memainkan peran serupa. Di Paint It Black (1989), ia sungguh meyakinkan sebagai kriminal tak berperasaan.
Untunglah belakangan (ketika itu) ini, skenario Melrose Place memberinya kesempatan untuk lebih mengekspresikan bakat aktingnya. Bukan lagi cuma menampilkan wajah memelas atau senyum canggung. Episode Melrose Place yang terakhir (ketika itu) diputar SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) pun memperlihatkan Matt Fielding jadi pecandu obat bius, memalsukan resep dan tanda tangan Michael Mancini! Kita (waktu itu) lihat saja dari jauh, seberapa liar Doug Savant sebenarnya.
Ditulis oleh: Sandra Kartika (berbagai sumber)
Dok. Bintang – Edisi 324/Th. VII/minggu keempat Mei 1997, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar