PERKAWINAN SITI ZUBAEDAH: "ISTRI HAMIL = MASA RAWAN PENYELEWENGAN" (TRILOGI JOHNS HOPKINS, TPI - SENIN, 5 MEI 1997 Pkl: 10.00 WIB & 20.00 WIB)
PERKAWINAN Siti Zubaedah (PSZ/TPI) adalah cerita rakyat dengan ‘setting’
modern. Begitu keinginan Teguh Karya, sutradaranya. Untuk urusan ‘setting’ dan properti,
Teguh sangat teliti sehingga semua yang terekam dalam kamera selalu “bicara”. ‘Setting’
ini semakin “berbunyi” dengan tata lampu yang sangat diperhitungkan.
Tata lampu tidak semata-mata terang, tapi juga memancarkan suasana hati pemerannya. Ciri khas lain yang dimiliki Teguh, adalah warna vokal. Siapapun pemain yang memperkaut sinetron/film-nya, pasti mengucapkan dialog dengan irama khas Teater Populer. Dan, tentu saja dengan dialog-dialog Teguh yang bernas.
Cuma, sejauh mana keunggulan yang dimiliki Teguh ini mampu memberi warna sinetron kita yang terlanjur stereotip? Sinetron yang selalu menampilkan cerita Impian dengan bintang yang cantik, ganteng, dan kaya raya? Meski Teguh Karya memasang Alex Komang dan Ayu Azhari sebagai pemeran utama, PSZ pasti jauh dari stereotip itu.
Nah, (pertanyaan waktu itu) akankah kehadiran sinetron karya Teguh yang sarat pesan dan petuah tanpa kesan menggurui ini (waktu itu) masih ditunggu pemirsa? Kalau ukurannya memberi alternatif lain, usaha TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) dan koleganya patut dihargai. Kalau boleh berharap, (harapan waktu itu) semoga ada kelanjutan proyek ini, sehingga “warna”-nya jadi menonjol.
PSZ mengisahkan perjalnaan hidup mang Kadjat (Alex Komang) dengan Siti Zubaedah (Ayu Azhari) istrinya. Pesta perkawinan mang Kadjat dengan Siti Zubaedah berlangsung meriah. Pasangan mang Kadjat dan Siti Zubaedah tampak serasi. Ke mana-mana berdua dan sangat mesra. Semua ini berlangsung sampai Zubaedah hamil.
Teguh Karya agaknya paham dengan teori bahwa saat istri mengandung berarti masa rawan penyelewengan. Demikian juga dengan mang Kadjat. Di saat istrinya berjuang melawan maut karena harus beroperasi ‘caesar’ untuk melahirkan bayinya, mang Kadjat justru tengah berasyik masyuk dengan wanita simpanannya.
Ditulis oleh: Adi Pamungkas
Dok. Bintang – Edisi 320/Th. VII/minggu kelima April 1997, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar