CATATAN KEHIDUPAN - KASINO WARKOP (BAGIAN 1): "TUHAN, JANGAN CABUT NYAWA SAYA, SEBELUM SAYA MENGAWINKAN ANAK-ANAK"
Pengantar: “JADI komedian itu anugerah, tidak bisa dipelajari,” begitu ujar Kasino, ketika pada suatu ketika Dedi “Miing” Gumelar minta diajari melawak.
Dengan keyakinan itu, pria bernama lengkap Kasino Hadiwibowo ini melaju bersama Dono dan Indro, mengibarkan bendera Warkop DKI (dulu – jauh sebelum 90an, bersama mendiang Nanu, mereka terkenal sebagai kwartet Warkop Prambors-red), satu dari sedikit sekali grup komedi modern Indonesia yang mampu berkarier selama 3 dekade (hingga saat itu).
Bahkan, ada yang menyebut Warkop sebagai “benteng terakhir perfilman nasional”. Lantaran di tengah kelesuan bisnis film Indonesia, hanya film-film Warkop-lah yang mampu menembus dominasi film-film bertema seks. Kesuksean juga diraih, ketika mereka merambah dunia sinetron.
Tanpa mengesampingkan peran Dono dan Indro, sementara kalangan beranggapan bahwa Kasino-lah “otak” di balik strategi bisnis yang dijalankan Warkop. Dan di tengah ‘comeback’ mereka, pada akhir tahun 1996, publik dikejutkan berita mengenai sakit tumor otak yang diderita Kasino, yang nyaris merenggut nyawanya (waktu itu).
Pemirsa TV pun bernafas lega dan terharu, ketika pada acara ulang tahun stasiun Indosiar pada Januari 1997 lalu, pria kelahiran Gombong, Jawa Tengah, 15 September 1950, yang lulus dari FISIP UI tahun 1977 ini muncul di layar kaca, dan masih mampu menebar tawa. Berikut ini penuturan Kasino pada Tavip Pancoro dan Heri Sugiyanto, mengenai dirinya dan tentu saja, Warkop-nya.
“SAYA bersyukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa, karen amasih
diberi kesempatan hidup. Sebab, menurut para dokter yang merawat, kondisi saya
sebenarnya sudah sangat kritis. Saya jadi banyak merenung. Sebelum koma, saya
sangat kesakitan. Menurut cerita orang-orang yang menyaksikan – sebab saya
hanya bisa mendengar cerita mereka – betapa saya berteriak-teriak kesakitan
seperti ayam yang akan dipotong.
Kata mereka dalam keadaan kesakitan itu saya sering memaki-maki. Mungkin dalam keadaan sadar saya tidak akan kuat menghadapi rasa sakit yang amat sangat itu. Sebab, obat penghilang rasa sakit sudah tidak mempan. Baru diberi beberapa jam rasa sakitnya datang lagi. Obat yang daya kerjanya 6 jam, misalnya hanya tahan hingga 2-3 jam saja. Setelah itu, saya tidak boleh diberi obat itu lagi. Alhamdulillah, saya bisa selamat.
Saya tidak tahu, apakah penyakit ini ada hubungannya dengan aktivitas saya. Soalnya, sekitar 10 tahun lalu (1987-red) ketika saya mulai merasa agak pusing-pusing, kepala saya pernah di-‘scan’ namun tidak ada apa-apa. Jadi saya merasa yakin bahwa saya tidak punya penyakit serius. Karena itu, bila saya mulai merasa pusing, saya mengatasinya dengan minum obat-obat ringan, dan sembuh. Tapi kalau kepala saya terkena panas matahari, rasanya berdenyut sekali.
Selama saya sakit, Indro-lah yang paling banyak diajak bicara oleh dokter. Jadi dia tahu, penyakit saya ini sembuhnya tidak secepat penyakit lain, dan saya harus selalu menjaga tingkat kelelahan saya, jangan sampai terlalu capek. Juga jangan sampai kepala saya kena bola, bisa bolong nih kepala, hahaha.
Karena aktivitas saya sering dilakukan bersama Indro, jadi dialah yang paling rajin dan aktif mengurus saya. Masak tiap satu jam dia ‘checking’ saya, teruuus, nanyain saya? Padahal waktu itu dia lagi sibuk di Jakarta buat persiapan syuting Warkop. Gara-gara bolak-balik Jakarta-Bandung, dia sampai sakit tuh.
Nah, kalau Dono, sejak awal saya sakit, dia menyarnakan agar saya berobat ke luar negeri saja. Mungkin dia merasa lebih mantap kalau saya dirawat di luar negeri. Kalau saya sih, tergantung apa kata dokter aja deh. Saya ikuti apa yang disuruh dokter. Istilahnya, kalaupun saya disuruh minum racun, saya nurut aja, hahaha.
Waktu itu, saya mohon pada Tuhan, agar jangan mencabut nyawa saya sebelum saya mengawinkan kedua anak saya (Hanna Sukmaningsih, saat itu 21 tahun, waktu itu – mashasiswi psikologi UI dan Larasati Widyaningsih, waktu itu – 7 tahun, red).
Permohonan itu saya ucapkan karena saya ingin membesarkan mereka sampai mereka menikah kelak. Itu khan tugas orangtua. Habis hidup di dunia ini, apa sih yang dijalani? Kalau saya populer sudah. Disanjung-sanjung juga sudah. Lantas apalagi? Tinggal bagaimana caranya, agar anak kita jadi “orang”. Mugnkin rasa cinta pada anak inilah yang mendorong saya tetap hidup.
Untuk melangkah ke depan, saya tidak mengatakan harus begini atau begitu. Tapi saya akan berusaha untuk hidup dengan menjauhi stres dan tidak terlalu ambisius. Yang lurus-lurus saja, begitu. Sebab begini ya, kalau saya punya keinginan, saya suka lupa tidur, lupa makan, lupa waktu. Sejak masih mahasiswa saya memang sudah begitu. Tapi dulu (jauh sebelum 90an-red), ngotot saya khan paling-paling cuma buat belajar, itu sih biasa.
Tapi yang namanya nyari uang, tanggung jawabnya khan lebih besar, kita mencari uang untuk istri dan anak, membiayai rumah tempat berlindung, kendaraan, dan lain-lain. Nah, itu semua khan mesti kita kejar. Seharusnya, pengejaran itu disesuaikan dengan kapasitas dan kemampuan kita. Tapi terkadang kita terengah-engah juga.
Dikaitkan dengan Warkop, sebetulnya dalam bekerja kami tidak terlalu keras. Dalam produksi film, misalnya, dalam satu tahun kami membatais hanya dua produksi. Saya tidak mau lebih dari itu. Memang, ketika kami mulai main di sinetron, agak lain. Sebab, sinetron khan dikejar ‘deadline’ waktu tayangan. Pada mulanya, kami memang belum terbiasa dengan pola kerja seperti ini.
Sekarang (1997-red) saya tidak memaksakan “mengejar setoran” lagi, secukupnya sajalah. Sebetulnya sih, kalau saya mengandalkan penghasilan dari Warkop saja, ya sudah cukup. Tapi yah, yang namanya manusia, kalau ada peluang, kenapa nggak dipakai?
Kalau saya bisa dan mampu melakukan serta memang dibutuhkan, mengapa tidak? Tapi karena saya ingin ‘back to basic’ – kembali ke “dapur” utama, warkop maksudnya – ya sudah, pekerjaan-pekerjaan lain saya tinggalkan. Warkop itu “dapur” saya yang pertama, istilahnya nggak boleh dimadu.
Tentang Dono dan Indro, terkadang kami memang mengalami korlset (konflik-red). Eh, korlset dengan Indro dan Dono bukan sampai ribut-ribut atau berantem, ya? Tapi diskusi, bed apendapat, begitu. Itu khan biasa. Klaau korlset dalam pengertian di luar urusan dengan Warkop, nggak pernah.
Misalnya, dalam menentukan sebuah konsep cerita. Saya lebih menekankan pada aspek bisnis, misalnya. Sedangkan Dono lebih mementingkan aspek seni. Nah, kami saling adu argumen. Kalau sudah begini, biasanya Indro jadi pihak yang netral. Menurut saya, korslet seperti ini malah bagus. Soalnya, kalau hanya ada satu konsep saja, syukur-syukur betul.
Lha, kalau salah, khan neysek juga. Makanya, mendingan dipertimbangkan dari 2 sisi. Walaupun terkadang hanya satu yang dipilih, misalnya dari sisi bisnisnya saja. Toh, pada akhirnya yang memutuskan pihak produser. Kita boleh saja berdebat 10 kali. Tapi kalau produser sudah membuat keputusan, kita mau apa?
Sudah 30 tahun (1967 hingga 1997-red) kami bertemna, sudah seperti saudara. Istilahnya, jauh dikangeni dekat berkelahi, hahaha. Saat saya sakit kemarin, barulah saya tahu trio Warkop DKI adalah satu! Bayangkan, selama saya sakit, semua mereka urus. Mulai dari biaya yang entah dapat dari mana – rumah sakit, bahkan Indro sudah menyiapkan, bila saya sewaktu-waktu harus dirawat di Singapura.
Transportasi dan imigrasi, sudah dia urus. Pokoknya, Indro dan Dono, serta teman-teman dari Mapala UI (Rudy Badil salah satunya, belakangan itu bekerja di Kompas Gramedia-red), semua mengurusi saya. Oh ya, bahkan istri Indro si Nita (Octorijanthy) ikut turun tangan. Dia dan Indro yang nge-‘booking’ RS Dharmais, menjemput saya pagi-pagi dari Bandung. Padahal, waktu itu Indro sedang sakit flu berat!
Itu semua bisa terjadi berkat hubungan kami yang sudah terjalin lama, hingga seperti famili. Yah, itulah arti dari grup yang sudah berdiri sekian lama. Kami jadi sepreti saudara. Kalau dekat bisa bau, kalau jauh malah bisa wangi, hahahaaa…
INDRO WARKOP: “NILAI-NILAI LUHUR MASIH ADA”
Boleh dibilang, pria bernama lengkap Indrodjojo Kusumonegoro
yang biasa disapa “Joy” ini adalah pihak yang bepreran menjembatani perbedaan
antara Kasino dan Dono. “Saya lebih dekat dengan Dono,” aku pria kelahiran
Jakarta, 8 Mei 1958, yang sangat fanatik pada segala hal berbau Harley Davidson
ini. Begitu pun, Kasino mengakui bahwa Indro termasuk yang paling rajin
mengurus di kala dia sakit. “Bagi saya, teman adalah segalanya,” katanya.
“GUE ngejagain dia terus. Jadi gue tahu, gimana dia – dalam keadaan kesakitan – memukul-mukul kepala, mulai lumpuh, dan organ kiri tubuhnya nggak bisa digerakkan. Hampir tiap hari gue bolak-balik Jakarta-Bandung (Kasino dioperasi di RS Advent, Bandung, kemudian dipindahkan ke RS Dharmais, Jakarta-red). Gue jarang nginap.
Gue dan Nita juga ikut memutuskan, apa yang harus dilakukan buat Kasino. Kami ingin memberikan yang terbaik buat dia. Sampai-sampai gue juga sudah siap kalau kami harus menghadapi kemungkinan terburuk (Kasino wafat-red). Tapi ini juga nggak terlepas dari dukungan teman-teman gue di Harley Davidson dan Mapala UI. Mereka bilang, “Jangan putus asa, ‘broer’,” kalau melihat gue mulai nangis.
Bagaimana gue nggak nangis? Kanker otak! Yang gue tahu, kalau kena penyakit ini, jarang yang bisa “lulus”. Kalaupun selamat, dokter bilang, kemungkinan akan lumpuh. Tapi ternyata Tuhan berkata lain. Waktu ikut ngurus Kasino bolak-balik ke Bandung sih, gue nggak merasa capek. Tpai begitu Kasino dipindahkan ke Jakarta, eh gue malah ambruk!
Ibaratnya, Dono dan Kasino itu ikut ngempanin (memberi-red) makan keluarga, istri, dan anak-anak gue. Jadi wajar saja kalau gue melakukan ini. Memang gue lebih dekat sama Dono. Tapi itu khan biasa. Ibaratnya gue jadi jembatan mereka. Tapi kalau sudah begini bukan soal teman jauh atau teman dekat. Istilah Jawa-nya, ‘tego lorone ora tego matine’ (betapapun dia menyebalkan, kita tak akan pernah tega melihat teman menderita-red).
Buat gue sendiri, peristiwa ini banyak hikmahnya. Gue jadi semakin percaya, di atas kepentingan yang serba materi, nilai-nilai luhur dalam kehidupan masih ada.”
Dok. Bintang – Edisi 310/Th. VI/minggu ketiga Februari 1997, dengan sedikit perubahan





Komentar
Posting Komentar