PEMBAWA ACARA TEVE: PROFESI YANG KIAN DIBUTUHKAN PARA ARTIS YANG PALING SIAP?

Dede Yusuf, Nia Zulkarnaen, Harvey Malaiholo, Gusti Randa, Dian Nitami 


SAAT, SANTAI. Untuk menyebut siapa pembawa acara (teve) terbaik, barangkali tidak mudah. Tapi melihat penampilan Koes Hendratmo saat memandu kuis Berpacu Dalam Melodi (TVRI), rasanya sulit ditemukan kekurangan. ‘Performance’-nya mantap, antisipasinya tepat, ‘joke’-nya segar, vokal, kurang apalagi?

Dengan senyumnya yang ringan, Koes membuat ‘fresh’ dan santai lawan bicaranya. Dia tak pernah membuat lawan bicaranya (dalam kuis yang dia pandu) tersipu malu, apalagi tersinggung. Beda misalnya, dengan Kris Biantoro di kuis Berseri Mengukir Prestasi (RCTI/SCTV). Tendangan ‘joke’-nya sering nampak melukai wajah peserta. Meski Koes sebenarnya berguru pada Kris Biantoro, tapi tampaknya dia sudah menemukan jalannya sendiri (waktu itu).

Proses saat Koes Hendratmo berguru pada Kris Biantoro, ini sebuah cerita panjang tersendiri. Koes menggambarkan dirinya seorang murid kungfu yang terus mengejar gurunya. Kemampuannya menyanyi dijadikan modal. “Saya mengikuti ke mana saja dia pergi. Di setiap pentas saya perhatikan bagaimana mas Kris tampil membawakan acara,” kenang Koes, yang masa belajarnya untuk menjadi pembawa acara yang baik, cukup panjang.

 





















1993, Koes Hendratmo bisa dibilang duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan gurunya. Melihat bagaimana proses belajar yang harus ditempuh Koes, wajar kalau dia sering kecewa dengan murid-muridnya yang, “Ingin cepat jadi, tak menghargai proses.” Tapi meski begitu, Koes Hendratmo menyatakan terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar padanya.

POSISI, PENTAS. Bersamaan dengan perkembangnya acara teve dan munculnya banyak stasiun, profesi sebagai pembawa acara memang kian dibutuhkan. Selam itu, kita hanya mengnela beberapa nama pembawa acara seperti Koes Hendratmo dan Kris Biantoro yang memang profesinya itu. Tapi, 1993, di teve banyak bermunculan artis, penyanyi, pelawak, pemain film, peragawati, yang mungkin saja tak punya dasar sebagai pembawa acara, mengisi posisi itu.

 


















Ada Nia Zulkarnaen (Trend Musik, RCTI/SCTV), Dian Nitami (Video Musik Indonesia, TVRI Programa 1), Harvey Malaiholo (Pentas Musik, RCTI/SCTV), Trie Utami (Kharisma, RCTI/SCTV), Gusti Randa (Kuis Khas/TPI), Dede Yusuf (Kuis Tak Tik Boom, RCTI/SCTV), Ria Irawan (Album Kita, TVRI Programa 1), Edwin Libel’s (Mancagita, TVRI Programa 1), dan masih banyak lagi. Padahal, rata-rata artis kita KONON bukan ‘entertainer’ yang baik.

Padahal, lagi ini syarat mutlak bagi seorang pembawa acara. Harvey Malaihollo, misalnya. Sebagai penyanyi, dia tak tersangsikan lagi. Tapi dengan munculnya sebagai pembawa acara, apakah malah tak mendudukan dia sebagai ‘crooner’? Pentas Musik sudah cukup bagus hanya dipandu Andry Sentanu. Lagipula penampilan Harvey terasa ‘njomplang’ kalau dibandingkan dengan ke-‘singer’-annya.

Alasan produser acara memilih mereka gampang ditebak, apalagi kalau bukan karena mereka ‘public figure’, dengan maksud supaya lebih komersial. Tentu ada juga alasan-alasan khusus, seperti yang dialami Gusti Randa.

“Saya diminta karena acara ini (Kuis Khas) ingin dibuat santai, tidak formal, ada gurauan segar, tapi berwawasan. Dan ini kata Dina (Dina Mariana, produser Kuis Khas) cocok untuk saya. Alasan lainnya, mungkin karena sya dan Dina pernah sama-sama main dalam satu film,” kata Gusti Randa, yang posisinya sebagai pemandu acara Kuis Khas kemudian digantikan Didin Bagito.

Sebagai orang yang (sampai saat itu) baru pertama kali terjun ke bidang ini, Gusti Randa mengaku jalan sendiri, tanpa arahan dari siapapun. “Kita sama-sama mulai dari nol,” tambah pemeran Syamsul Bachri dalam miniseri Sitti Nurbaya ini. Kalau Gusti Rnada melakukan tanpa ada bimbingan, Dian Nitami mengaku sebulan lebih mendapat les privat dari kak Teddy (Teddy Resmisari-red, mantan pengasuh acara anak-anak di TVRI) sebelum siap tampil membawakan acara Video Musik Indonesia.

Tutor ini diberikan oleh produser acara, PT CUT (Citraceria Usaha Triputra). Sebulan di bawah bimbingan kak Teddy, Dian memperoleh teori vokal, artikulasi, dan mimik. “Memang lain dengan akting. Jadi pembawa acara Dian memreankan diri sendiri. Tapi dengan ‘training’ itu Dian bisa langsung mengadakan evaluasi, apakah mimik dan kecepatan vokal saya sudah baik, misalnya,” tutur Dian Nitami.














Tentang pentingnya pendidikan dasar untuk jadi pembawa acara yang baik, ini diakui oleh Nia Zulkarnaen, pembawa acara Trend Musik. Kalau Nia sendiri tak pernah menempuh pendidikan itu, dan dia tak mengalami kesulitan yang cukup berarti, barangkali karena, “Lingkungannya nggak jauh beda dengan profesi saya,” kata Nia yang pernah mewawancarai Debbie Gibson, Dani Minogue, dan beberapa penyanyi luar negeri yang pernah berkunjung ke Indonesia.

Selain karena dunia itu tak terlalu jauh dengan profesinya, sebelum jadi pemandu acara Trend Musik, Nia juga pernah jadi pembawa acara lepas di TV3 Malaysia. “Jadi, tak hanya mengandalkan nama. Saya juga harus mengikuti tes sebelum dinyatakan lulus dan bisa memandu acara itu,” tambah Nia, yang merasa mendapat banyak masukan dari profesinya sebagai pembawa acara.

Meskipun tidak terlalu prinsip, ada juga yang tidak menyenangkan dari profesi ini. Misalnya, jadwal syuting yang sering telat. “Dandanan sudah rusak dan ‘mood’ sudah hilang! Atau kadang-kadang diberi ‘scrift’ ketika mau syuting! Bayangin, khan saya harus mengubah bahasanya supaya lebih komunikatif. Padahal, ‘script’ itu semuanya ada 10 halaman. Kalau syuting untuk dua paket, berarti ada 20 halaman. Bayangin aja,” tutur Nia, tanpa bermaksud mengeluh.

Tapi belakangan (ketika itu) ini, karena kesibukan Nia yang makin padat, paket Trend Musik yang semula dilakukan berdua Nia dan Daniel Tumiwa, terpaksa bergantian memandu. Untuk menjadi pembawa acara yang baik, selain mengausai soal teknis, memang ada banyak hal yang harus diakui. Seperti yang dikatakan Ebet Kadarusman, pembawa acara Salam Canda (RCTI/SCTV).















“Perlu kepekaan ekstra agar tak menyinggung perasaan orang. Apalagi pejabat,” kata Ebet. Akibatnya, ‘joke’ atau ungkapan menarik terpaksa dibesut dir ruang ‘editing’. “Kalau di Australia kita tak terlalu repot dengan hal-hal seperti itu,” tambah Ebet yang sempat lama tinggal di Australia ini.

Yang kebetulan penyanyi lalu dimtinta jadi pembawa acara musik, tentu senang karena itu bidangnya. Selain senang, tentu tak terlalu sulit bagi mereka. Nia Zulkarnaen, misalnya, meski tanpa dasar pendidikan pembawa acara, dia tak tampak kerepotan ketika tampil memandu acara Trend Musik. Penguasaan materi, vokalnya sangat menunjang.”

 

















TANTANGAN, TEKNIS. Lain lagi kalau acara yang dipandu oleh para artis itu, agak jauh dengan profesinya. Penguasaan materi memang penting. Tapi kemampuan mempersembahkan juga hal lain yang tak kalah penting.

“Membawakan sebuah paket kuis, boleh dibilang gampang-gampang susah. Apalagi kuis Tak Tik Boom mengandalkan pada penguasaan ilmu pengetahuan. Mau nggak mau saya juga dituntut untuk terus belajar. Di sini ada dua tantangan yang harus saya hadapi, bagaimana membuat acara itu menjadi tontonan yang menarik tanpa kehilangan keseriuasnnya, sesuai dengan misinya,“ ini kata Dede Yusuf, yang dipercaya Ani Sumadi jadi pemandu acara kuis Tak Tik Boom.

Mungkin karena hubungan Dede dan Ani yang memang sudah seperti keluarga, soal honor pun tak lagi menjadi masalah penting. “Secara kekelaurgaanlah, dan secara pribadi saya suka acara ini,” kata Dede sambil tersenyum.

Mieke Wijaya, yang jadi pemandu ‘filler’ Sari Rasa, yang berisi petunjuk praktis masak dan cara membuat menu yang sehat, juga punya komentar yang hampir senada dengan Dede Yusuf. “Gampang, tapi sulit. Meski sudah ada ‘script’, tapi harus tepat waktu, “tutur Mieke yang tampak begitu fasih memberi petunjuk praktis pada penonton televisi ini.











Selain menempatkan artis sebagai pembawa acara, di teve juga banyak sekali acara-acara yang menghadirkan bintang tamu setiap kali tayangannya. Selera Nusantara-nya RCTI/SCTV, misalnya. Setiap kali tayangan, Rudi Choriuddin, pemadnunya, nyaris selalu didampingi artis sebagai bintang tamu. Nia Zulkarnaen pernah pula tampil sebagai bintang tamu Selera Nusantara.

“Selain saya senang masak, saya juga tak mau membatasi penggemar,” kata Nia Zulkarnaen. Acara masak di teve memang punya penggemar yang cukup besar, terutama ibu-ibu. Dan mendatangkan artis sebagai bintang tamu adalah salah satu cara untuk membuat acara itu semakin menarik.

Mungkin karena acara masak-memasak ini disukai, Titiek Puspa pun tak keberatan kalau ada yang meminta dia jadi pembawa acara. “Asal memadai, tak apa,” kata Titiek yang (waktu itu) punya usaha ‘catering’ ini.

Ditulis oleh: Gatot Sukoco/Adi Pamungkas

Dok. Bintang – No. 127/Th. III/minggu keempat Juli 1993, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer