PEKAN KESENIAN TRADISIONAL DAN PAGELARAN MUSIK EMAS '95 INDOSIAR
WAYANG, WARNA. Selama seminggu, mulai 12 Agustus 1995 hingga
20 Agustus 1995, Indosiar (waktu itu) akan mengudara selama 24 jam penuh. Dari
pukul 06.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB keesokan harinya. Para pecinta kesenian
tradisional (waktu itu) akan terpuaskan dengan akan ditayangkannya Pekan
Kesenian Tradisional. Selama pekan itu, Indosiar (waktu itu) akan menayangkan
acara-acara yang sarat dengan kesenian.
Dari Wayang Golek Sunda Asep Sunarya (12/8/95, 22.30 WIB), Wayang Banyumasan Peyang dan Penjol (13/8/95, 22.00 WIB), Wayang Orang Prambanan (14/8/95, 23.30 WIB), Ketoprak Siswobudoyo (15/8/95, 22.30 WIB), Ludruk RRI Surabaya (16/8/95, 23.30 WIB), Lenong Betawi Setia Warga (17/8/95, 21.30 WIB), Wayang Kulit Yogyakarta Ki Timbul Hadiprayitno (18/8/95, 21.30 WIB), Wayang Kulit Solo Ki Manteb Sudarsono dan Ki Anom Suroto (19/8/95, 22.30 WIB), sampai Wayang Bali (20/8/95, 22.30 WIB).
Untuk melengkapi sajian, Indosiar telah menyiapkan sebuah
paket musik yang dikemas agak spektakuler. Bekerjasmaa dengan Snadha Production
selaku koordinator artis pengisi acara, Indosiar (waktu itu) akan mengglear
sebuah pertunjukan musik yang diberi nama Parade Musik Emas ’95.
Acara ini (waktu itu) akan mempertemukan 5 kelompok band papan atas Indonesia dalam satu panggung. Yakni Dewa 19, Bayou, Java Jive, Gigi, dan KLA Project. Mereka (waktu itu) akan menggelar karya mereka di ex-Sirkuit Ancol pada 11 Agustus 1995 (yang saat itu akan) datang.
Pertunjukan musik tak akan berkesan tanpa tata cahaya. Mata Elang, penyelia tata cahaya sebesar 300.000 watt untuk paket musik ini, (waktu itu) akan menyuguhkan sebuah pertunjukan tata lampu yang meriah, dengan membuat ‘blocking’ warna heramh-putih, yang (waktu itu) akan menyorot penonton dengan intensi.
Kemeriahan itu juga (waktu itu) akan dilengkapi dengan pertunjukan kembang api (‘fireworks special effect’) yang disuguhkan ‘Jakarta Special Effect’. Di depan panggung setinggi 2,5 meter dan berukuran 21 X 18 meter, diletakkan tata suara berkekuatan 145.000 watt, yang (waktu itu) akan dijajar sepanjang 2 X 12 meter. 2 buah ‘superwide screen monitor’ masing-masing sebesar 4 X 6 meter (waktu itu) akan melengkapi kemegahan pertunjukan ini.
Meski hanya digelar di Jakarta, masyarakat Indonesia (waktu itu) akan dapat melihat kemegahan pagelaran ini melalui kemasan khusus Indosiar yang (waktu itu) akan menayang ulang dalam Pesta Parade Musik Emas, pada 20 Agustus 1995 (19.30 WIB). Harga karcis Rp 15.000,- untuk kelas festival, dan Rp 50.000,- untuk kelas VIP. Oleh Indosiar dan Snadha Production, hasil bersih perolehan penjualan tiket (waktu itu) akan disumbangkan untuk tujuan sosial.
Ditulis oleh: Heri Sugiyanto
Dok. Bintang – No. 233/Th. V/minggu kedua Agustus 1995, dengan sedikit perubahan

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar