PANGGUNG - MENGENANG BING SLAMET DARI PANGGUNG SILANG MONAS
KETIKA menyaksikan iring-irngan sepeda para peserta Bing
Slamet Funbike, Minggu, 15 Januari 1995 lalu di Silang Monas, Jakarta, maka
kita pun seperti diingatkan kembali pada sebuah nama besar di dunia kesenian
pop: Bing Slamet!
Iring-iringan itu barangkali tak sepadat waktu seniman ini meninggal 17 Desember 1974, yang digambarkan oleh Remy Sylado dalam Ensiklopedi Musik, “Jalan-jalan yang dilewati menuju pemakaman, macet oleh pelayat yang mengiringinya.” Namun, dari minat peserta, agaknya ‘funbike’ ini melebihi perkiraan Adi Bing Slamet, putra bungsu Bing, yang bertindak selaku ketua penyelenggara hajatan mengenang almarhum ayahandanya.
Diperkirakan, peserta yang turut ambil bagian dalam acara ini sekitar 5.000 orang. “Ini artinya, kita melebihi target. Bayangan kami, pesertanya tak lebih dari 3.000 orang. Maklum, pada hari yang sama juga ada acara ‘funbike’ di tempat lain,” ucap Nanang TSM, humas acara ini.
Besarnya minat para peserta ‘funbike’, boleh jadi berasal dari kekaguman para peserta pada almarhum Bing Slamet yang lahir di Banten, 27 September 1927. Di samping para peserta, hadir juga barisan artis pelawak seperti Tarzan, Ateng, Iskak, dan Yanto. Dari barisan artis isnteron dan bintang film: mang Udel, Rina Hasyim, Conny Suteja, Harry Capri, dan Pong Harjatmo.
Acara yang diawali dan diakhiri di Silang Monas ini, juga
diisi dengan panggung hiburan. Sayang, pas acara hiburan beberapa nama yang
dikenal dekat dengan Bing, seperti Titiek Puspa atau H. Benyamin, tidak nampak.
Dari pihak keluarga Bing, yang tak muncul hanyalah Uci Bing Slamet. Kata
Nanang, Putri Bing ini (waktu itu) tengah syuting di luar kota.
SEKADAR mengingatkan, Bing mulai terjun di dunia pertunjukan
pada usia 17 tahun. Semula ia bergabung dengan rombongan sandiwara Pantja
Warna. Setahun kemudian, ia pindah ke Jawa Timur. Mulailah Bing bergabung
dengan para pejuang, masuk dalam barisan divisi VI Brawijaya. Bing mulai sangat
dikenal ketika suaranya sering muncul di RRI Malang, sekitar tahun 1947.
Salah satu kelebihan Bing, adalah meniru-niru suara penyanyi terkenal Amerika, mulai dari Bing Crosby, sampai Louis Armstrong. Tahun 1953, Bing memenangkan lomba lawak. Orang pun mulai mengenal gaya lawak baru, yakni menyanyi, meniru suara orang, dan meniru logat suku-suku tertentu di Indonesia.
Tahun 1954, Bing memenangkan Bintang Radio. Tahun 1960, ia mendirikan kelompok lawak nyanyi bernama Los Gilos. Anggotanya terdiri dari Bing Slamet, mang Udel (Drs. Purnomo), dan mang Cepot (Hardjodipuro). Bersama Atmonadi dan Eddy Sud, Bing mendirikan kelompok baru (waktu itu) bernama SAE, tahun 1970.
Kelompok ini tak bertahan lama, untuk selanjutnya Bing mendirikan Kwartet Jaya bersama Eddy Sud, Ateng, dan Iskak. Di kelompok inilah, Bing meraih kejayaannya sebagai seorang ‘entertainment’. Ia bukan saja berjaya di panggung-panggung nyanyi atau lawak, tapi juga di layar bioskop.
Nah, 20 tahun (sampai saat itu) telah lewat. Apabila 1995, anak-anak Bing kepingin mengenang ayahnya kembali lewat acara ‘fubnike’, itu artinya mereka, anak-anak Bing, sebenarnya tengah mengingatkan kita semua, bahwa di negeri ini pernah lahir seorang seniman besar bernama Bing Slamet. Siapa tahu, lewat ‘event’ ini, kita mendapatkan ‘spirit’ dari apa yagn pernah diperbuta Bing Slamet dalam seni pop Indonesia.
Ditulis oleh: Jodhi Yudono
Dok. Citra – No. 252/V/23-29 Januari 1995, dengan sedikit perubahan





Komentar
Posting Komentar