PANGGUNG - C+C MUSIC FACTORY: "BERISIK, WALAU PANGGUNG SEPI"
KAMIS (6/4/95) lalu, Jakarta kedatangan C+C Music Factory.
Kelompok yang banyak melantunkan lagu-lagu disko dari generasi ‘house music’
ini, main di Tennis Indoor Stadium, Senayan. Dan sejak lagu-lagu mereka banyak
menghiasi diskotek, penonton malam itu pun kebanyakan mereka yang suka disko.
Setidaknya jika ditilik dari “seragam” yang mereka kenakan malam itu.
Promo yang dihembuskan Rico Lago Productions, penyelenggaranya, sepertinya juga telah melihat peluang ini. Karena mereka menyebutkan hendak membuat lantai dansa terbesar yang pernah ada di Jakarta – kalau tidak salah, IT Wonderland yang digelar SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia), Tahun Baru 1995 lalu pun, pernah mengklaim diri sebagai tempat disko terbesar. Yang dimaksud adalah kelas festival, dengan harga tiket 30.000 rupiah.
Ternyata, lantai dansa sebesar “gajah” tersebut tidak termanfaatkan dengan baik. Pengunjung konser malah asyik menontoni panggung. Padahal, di panggung sendiri tidak ada apa-apa, kecuali ‘backdrop’ putih besar sarat tulisan sponsor, salah satunya tabloid Citra.
Dan meski tidak terorgansir seperti dalam sebuah diskotek betulan, banyak juga yang joget-joget di tempat. Sendiri atau sama pacar mereka. Alhasil, penonton lebih banyak memadati kelas festival, sementara kelas I di kiri kanan atas terlihat kosong.
Malam itu, pertunjukan dibuka dengan Everybody Dance Now, tembang yang begitu akrab di telinga pecintanya. Selanjutnya mengalir nomor-nomor (yang di kuping orang awam mungkin) sangat berisik dan sulit dijiwai seperti Bouce To The Beat, Do U Wanna Get Funky, I Found Love, Taking Over, Share The Beat, serta Gonna Love U Over yang kaya sentuhan reggaenya.
C+C (baca, ‘see and see’) merupakan Persekutuan du aorang yagn telah lama berkecimpung di jalur penulisan dan produksi lagu rock, David Cole dan Robert Clivilles. Mereka berangkat dari bawah sekali, dan terobsesi untuk membuat ‘music studio’ laku di pasar kaset dunia. Kerja bareng mereka berawal ketika di tahun 1987, David memainkan keyboard untuk sebuah lagu yang direkam Robert di New York Betterdays, sebuah klab malam.
Kolaborasi pertama mereka adalah ‘single’ Do It Properly, yang kemudian menjadi hits di klab-klab malam. Seiring meledaknya lagu tersebut, dua orang ini (waktu itu) mulai dipercaya untuk menggarap musik penyanyi-penyanyi seperti Aretha Franklin, Mariah Carey, Whitney Houston, Natalie Cole, Luther Vandross, hingga Taylor Dayne.
C+C MUSIC FACTORY, yang juga main di beberapa kota besar di
pulau Jawa, memulai debutnya di Columbia Records, lewat Gonna Make U Sweat, yang
terjual sekitar empat juta kopi di AS saja. Kelompok ini mendadak terkenal
karena ramuan musik yang idtawarkannya begitu beragam. Ada soul, bunyi-bunyian
elektrik, sentuhan etnis berbagai bangsa sampai ‘spirit’ musik tahun 70-an,
tersedia di album tersebut. Rasanya rame.
“Kami hanya mencoba keluar dari kejenuhan musik-musik yang ada selama ini. Kami mencoba memadukan semua jenis yang ada. Sampai kami menemukan ciri yang belum pernah ada sebelumnya,” tutur Robert yang seorang ‘disc jockey’ handal.
Di album kedua, David dan Robert tak lagi sendirian. Mereka merekrut Zelma Davis dan Martha Wash Trilogy (Duran Ramos, Angel De Leon, Joey Kidd). Bersama kelima orang ini C+C mencetak hits antara lain Here We Go, Let’s Rock ‘n Roll dan Thing That Make U Go. Hmmm.
Album ini pun mendulang sukses yang sama besar dengan album terdahulu. Multi platinum. Dengan lima penghargaan American Music Award dan lima Billboard Awards (di Grammy, cuma dapat nominasi untuk artis baru) terbaik, C+C tak berhenti. Mereka telah merencanakan sederet tur dunia (waktu itu), sebelum kembali masuk studio untuk album berikutnya.
Menurut pengamat, musik yang ditawarkan C+C sangat tidak konvensional. Karenanya, jangan kaget jika ada orangtua yang menegur anak gadisnya yang menyetel lagu semacam Everybody Dance Now dan berujar, “Lagu apa-apaan sih itu, mama pusing ngedengerinnya…” Tiap generasi punya musiknya sendiri. Mungkin ini musik generasi saat itu (90an-red).
Ditulis oleh: Ferry “Pey” Ferdinand
Dok. Citra – No. 263/VI/10-16 April 1995, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar