PANELIS KUIS SIAPA DIA KALI INI SUDAH PENGALAMAN (KUIS SIAPA DIA, TVRI PROGRAMA 1 - JUMAT, 22 MEI 1992 Pkl: 21.30 WIB)
WISATA, PROFESI. Benar, kalau ada yang sempat bingung karena
panelis Kuis Siapa Dia (KSD/TVRI Programa 1) yang pernah muncul seringkali
ditampilkan kembali. Tapi itu memang tak ada maksud apa-apa. Sebab, para panelis
yang dihadirkan kembali memang pantas untuk tampil lagi. Namun, bisa jadi
lantaran mereka dinilai bisa menghidupkan suasana permainan. Dan memang
begitulah adanya.
Atau permainan tebak-tebakan yang diiming-imingi haiah menarik ini, malah mungkin mulai berencana untuk membuat semacam pertandingan yang lebih serius. Artinya, satu grup panelis yang pernah tampil dan dinilai punya kemampuan lebih, karena dapat menyelesaikan permainan ini dengan baik, patut ditampilkan kembali.
Seperti paket kali ini, yang lagi-lagi menampilkan grup Helmy Sungkar, Joice F Rusady, Enni D Satoto, dan Rano Karno. Tak seperti penampilan yang (waktu itu baru) lalu, kali ini Rano Karno kelihatan lebih serius. Setidaknya, ia mulai memanfaatkan mengorek keterangan dari tamu misterius.
Permainannya kali ini masih juga menarik. Pada babak pertama misalnya, para panelis yang sudah punya pengalaman tampil itu berhasil menebak profesi tamu misterius itu. Padahal, seperti kata Aom Kusman, pembawa acaranya, profesi ibu itu kerap kali membuat orang tak percaya dengan dunia yang digelutinya.
Dimulai dengan pertanyaan Helmy Sungkar yang menghasilkan jawaban bahwa ibu itu seorang pegawai negeri yang berada di bawah salah satu departemen. Lalu, Joice yang (waktu itu) masih penasaran dengan departemen tadi, (waktu itu) masih mencoba mengorek dan tak berhasil. Sampai akhirnya setelah memakan waktu cukup lama, ibu tadi ketahuan bekerja di bawah Departemen kehakiman. Artinya, pendidikan ibu itu minimal SMA dan punya pendidikan khusus.
Selain itu, ibu tadi juga memakai seragam dan menerima gaji di atas Rp 200 ribu. Tapi jangan salah, ibu itu bukan sebagai pembela dan bekerjanya pun tak di ruangan sidang. Pertanyaan-pertanyaan yang mengarah itu dilontarkan oleh Enni D Satoto. Dan memang itulah kuncinya. Maka, saat bel berdering, walau dengan sedikit ragu, panelis pun dapat menerka profesi tamu yang datang itu. Apa profesi ibu tadi? Baiknya memang (waktu itu) kita ikut juga menerkanya.
Sebelum para panelis dihibur oleh duet Alrizal dan Sundari Sukoco dalam Kaulah Segalanya, grup Helmy Sungkar, Joice, Enni, dan Rano berhak memilih deretan nomor-nomor yang kalau beruntung mendapat hadiah menarik. Helmy Sungkar yang memilih nomor sembilan mendapat pesawat televisi, yang saat itu juga disumbangkan untuk lembaga tempat tamu misterius itu bekerja.
Joice berhak untuk berwisata ke Borobudur setelah menyebutkan nomor tiga. Kalau angka 13 bagi kebanyakan orang dianggap sial, bagi Enni malah sebaliknya. Ia mendapat karaoke setelah memilih nomor itu. Angka tujuh bagi Rano Karno juga angka keberuntungan. Buktinya, ia juga mendapat televisi, yang sama seperti Helmy Sungkar turut disumbangkan juga.
Sayangnya, kalau di babak pertama panelis bisa menunjukkan
kemampuannya, di babak kedua malah sebaliknya. Grup yang sudah berpengalaman
itu tak mampu membedakan antara pelatih aerobik yang asli dengan yang palsu.
Padahal, yang mesti ditebak justru pelatih palsunya. Untuk itu, ganti para tamu
misteriuslah yang berhak memilih deretan nomor hadiahnya.
Kalau tamu kedua dapat berwisata ke Borobudur bareng Joice F Rusady, tamu pertama hanya mendapat setrikaan. Sialnya, tamu ketiga malah tak dapat apa-apa alias belum beruntung. Memang begitulah permainan.
Ditulis oleh: Turlukitaningdyah
HELMY SUNGKAR INGIN MENERUSKAN TRADISI SUMBANG-MENYUMBANG, TAPI DIPROTES ANAKNYA
SPONTAN, SPESIAL. Ini untuk yang kedua kali Helmy Sungkar
mengikuti Kuis Siapa Dia (TVRI Programa 1). Dan seperti yang pertama, kali ini
pun kelompoknya hanya berhasil menebak ‘mystery guest’ pada babak pertama.
Rupanya, Helmy Sungkar merasa kasihan dengan ibu yang menjadi ‘mystery guest’, yang setiap hari bekerja di lembaga pemasyarakatan Salemba. Hadiah TV berwarna yang didapatnya, setelah memilih nomor 9, diserahkan kepada ibu tersebut. Tapi anak laki-lakinya yang kebetulan ikut menyaksikan rekaman acara tersebut segera saja memprotensya.
“Ini hanya spontanitas dari anak saya saja. Ini adalah suatu permainan dan bukan untuk mencari sesuatu di sini. Apalagi saya terharu pada ibu itu yang menjaga lembaga pemasyarakatan. Mungkin TV itu akan jauh lebih bermanfaat di sana daripada kalau ditaruh di tempat saya. ‘It’s okey’,” jelasnya tanpa bermaksud pamer.
Persiapan yang dilakukan Helmy Sungkar cukup singkat dan mendadak. “Kemarin baru diberitahu bahwa hari ini akan ada rekaman kuis. Saya dan Rano Karno cuma latihan sebentar dan seadanya saja. Tapi ini bukan masalah. Ini khan ‘just fun’. Dalam hidup, orang butuh variasi. Dan acara kuis ini saya nilai bisa memberi sesuatu bagi orang-orang yang butuh variasi. Saya hanya ingin berpartisipasi saja. Ketika ibu Ani Sumadi mengajak saya, saya langsung mengiyakan. ‘Why not’?,” katanya.
ERNIE D. SATOTO INGIN MENAMBAH KAWAN DAN PENGALAMAN DI ACARA
KUIS SIAPA DIA (TVRI PROGRAMA 1)
“Yang jelas, selama mengikuti acara ini saya bisa bertambah kawan dan pengalaman. Acara ini, untuk pertunjukan gembira. Makanya kita jangan terlalu serius. Jangan pikir kita harus selalu menang. Yang penting, kita bisa menghibur penonton TV di rumah,” ujar ibu yang juga pengusaha anggrek ini.
Kegagalan kelompoknya menebak ‘mystery guest’ di babak kedua karena mereka terjebak dengan penampilan ketiga ‘mystery guest’ yang mengaku sebagai pelatih senam aerobik. “Kita seringkali dikelabui oleh ‘mystery guest’. Orang yang kelewat yakin itu kadang-kadang malah pura-pura. Orang yang super yakin itu kadang-kadang bukan yang asli. Tapi ternyata kita tetap saja salah,” keluhnya.
Tentu saja Ani Sumadi sangat senang melihat ada panelis yang merasa terjebak seperti Ennie ini. Keberhasilannya menebak ‘mystery guest’ pada babak pertama lantaran Ennie dan kawan-kawan menerapkan metode piramida terbalik. Pertanyaan dimulai dari hal-hal yang umum, kemudian difokuskan pada satu masalah yang spesifik. “Saya sangat senang bisa menghibur penonton di rumah. Itu yang terpenting kenapa saya ikut acara ini,” tuntasnya.
Ditulis oleh: Asep Sambodja
Dok. Bintang – No. 65/Th. II/minggu keempat Mei 1992, dengan sedikit perubahan



.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)




Komentar
Posting Komentar