OPINI - SI DOEL DAN MAHALNYA IDOLA
JANGAN bikin janji Jumat malam. Kalimat ini bukanlah
‘copywriting’, ungkapan yang memancing orang untuk membaca, melihat, membeli,
dan kemudian menikmati sebuah produk. Kalimat tersebut hanya sebuah anjuran
agar janji ataupun acara yang dibuat Jumat malam (d/h malam Sabtu), tidak
berantakan, hanya karena orang yang ditunggu telat atau bahkan tidak datang.
Kenapa?
Karena Jumat malam, tepatnya pukul 20.00 WIB, adalah saat ditayangkannya Si Doel Anak Sekolahan (SDAS) di layar RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). Karena sinetron seri drama komedi produksi Karno’s Film ini, telah menjadi agenda tetap di daftar tunggu banyak pemirsa, yang salah satunya bisa saja relasi kita.
Posisi SDAS yang selalu berada di daerah puncak dalam peringkat yang dikeluarkan SRI (Survey Research Indonesia) dan RCTI sendiri, mungkin bisa memperjelas keperkasaan serial ini. Namun “anjuran” untuk tidak melakukan aktivitas setiap Jumat malam itu, sepertinya (perkiraan waktu itu) akan segera dicabut. Seiring berakhirnya tayangan si Doel, setelah menyelesaikan tugasnya selama sekitar 6 bulan, sebanyak 26 episode.
Pencabutan “jam malam” ini (waktu itu) masih tentatif, masih
bisa dibatalkan, seandainya pengganti SDAS nantinya lebih atau setidaknya
menyamai prestasi SDAS dalam rating-ratingan. Sekali lagi – ‘viewers is the
jury’ – pemirsalah yang (waktu itu) bakal menentukan nasibnya.
Keperkasaan SDAS adalah contoh sempruna, betapa masyarakat kita (baca: pemirsa) masih sangat haus akan idola. Idola yang punya keseharian mirip dengan sebagian besar penduduk negeri ini. Setidaknya, mereka (berharap) punya peluang untuk bisa seperti apa atau siapa yang mereka idolakan.
Lihat saja usaha babe Sabeni (Benyamin S.) yang menjual tanah warisan agar si Doel (Rano Karno) dapat menyelesaikan sekolahnya di fakultas teknik sebuah universitas. Cerita ini (sampai saat iut) masih merupakan “’true story’” di banyak keluarga kita.
Sedang untuk kalangan pemirsa yang lebih “bersih”, kehadiran si Doel mungkin memupus kerinduan mereka akan suasana bersahaja yang tidak (mungkin) mereka temui dalam fragmen rutin kehidupan mereka. Kerinduan akan sentuhan-sentuhan romantis keluarga sederhana. Kisah cinta segitiga Doel-Sarah-Zaenab, adalah nilai jual yang tak kalah pentingnya dalam serial SDAS. Percintaan model begini sepertinya sudah jadi barang mahal bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar.
Bagi mereka yang hampir setiap hari mendengar berita tentang orang yang mati terkena AIDS. Dan untuk peran model begini, Rano adalah “spesialis”. Jam terbang Rano sudah sangat banyak untuk peran sejenis. Beberapa yang legendaris adalah Romi dan Yuli, Gita Cinta Dari SMA, Puspa Indah Taman Hati, hingga Arini.
JIKA dirunut, idola yang terlahir dari dunia fiksi, (waktu itu) belum telalu banyak. Sebut saja nama Ali Topan, Lupus, si Boy, dr. Sartika, Jojo.
Ali Topan sukses, karena ia digambarkan sebagai sosok “preman” budiman, anak muda kreatif, yang biasanya bukan cuma foya-foya, ugal-ugalan, nongkrong, dan mabuk-mabukan mengganggu (anak gadis) tetangga. Dnegna tongkrongan yang berpotensi untuk disebut berandal, Ali memutarbalikkan anggapan banyak orang. Ia jadi Robin Hood untuk komunitasnya, Ali pun mendapat banyak simpati, bukan cuma dari gadis-gadis yang menaruh hati padanya.
Lupus adalah produk langsung dari generais baru kita yang ngocol, nyentrik dan sayang keluarga. Nilai-nilai moral yang dituturkan dalam gaya pop adalah kelebihan tokoh ciptaan Hilman Hariwijaya ini, di samping lingkungan meraih penuh canda.
Begitu juga si Boy, yang selalu membawa sajadah dalam mobilnya, kendati ciuman jalan terus. Dokter Sartika yang mau berbaur dengan masyarakat desa. Walau peluang mengais uang lebih besar di kota suaminya. Dan Jojo adalah sosok pemuda bungsu yang berkepribadian utuh, dan ‘concern’ pada masalah-masalah sosial, bahkan jauh di luar tempat ia tinggal.
Benang merah semua idola yang disebutkan tadi, adalah kebersahajaan tokoh-tokoh sentralnya. Kesederhanaan yang tidak dibuat-buat, walau mungkin mereka berasal dari golongan berpunya. Pendeknya mereka tampil beda. Pendeknya lagi, banyak orang yang bercita-cita melakukan seperti yang tokoh-tokoh tadi lakukan, setidaknya setelah menonton atau membaca bukunya.
Nah, dalam SDAS, kesederhanaan itu dijelaskan dengan lebih gamblang. Lebih dekat dengan keseharian. Sulitnya seorang insinyur (yang lulus bagus dengan susah payah) mencari kerja, adalah proyeksi dunia nyata tentang tidak mutlaknya ijazah sarjana sebagai jaminan memperoleh kerja.
Ketersinggungan si Doel saat dilecehkan oleh calon tunangannya, Sarah, bisa jadi mewakili ketersinggungan mereka yang pernah mengalami hal serupa dalam konteks lain, bukan cuma urusan cinta.
TENTUNYA, kita tidak bisa melihat sukses sinetron ini hanya dari perjuangan dan percintaan si Doel. Pemeran pendukung berikut romantikanya pun tak bisa diabaikan. Mandra misalnya. Tokoh ini harus mendapat catatan khusus dengan lagak dan cara bicaranya yang lucu. Celetukan Mandra adalah “penantian” tersendiri bagi pemirsa SDAS. Belum lagi ‘story’ Mandra dengan Munaroh yang berlanjut hingga ke luar televisi.
Walau sering terlihat agak berlebihan, Mandra (yang tidak perlu diganti namanya untuk ‘casting’) telah mampu menjalankan tugasnya sebagai penyegar tiap episode dengan baik. Begitu juga tokoh-tokoh seperti Atun (Suti Karno), mas Karyo (Basuki), Lela (Aminah Cendrakasih), Sabeni (Benyamin S), kong Ali (pak Tile), Zaenab (Maudy Kusnaedi), dan Sarah (Cornelia Agatha).
Kehausan pemirsa akan sosok idola ini, boleh jadi menisbikan kaidah-kaidah sinematografi yang baik dan benar. Pemirsa, jika ditanya, mungkin tak peduli dengan tata cahaya yang tidak tertata rapih. Mereka tidak akan protes, walau di hampir setiap awal adegan malam hari, selalu didahului dengan ‘long shot’ rumah dan bulan yang senantiasa purnama.
Sebagaimana mereka tidak menyoalkan umur Rano yang (waktu itu) tidak muda lagi untuk kuliah di jenjang S1, jika merujuk batasan usia yang dipakai perguruan tinggi negeri.
Peluang SDAS untuk dilanjutkan, (waktu itu) masih sangat besar. Apalagi kalau yang dijadikan indikasi adalah animo dan atensi pemirsa. Promo tur yang dilakukan RCTI, dengan memboyong pemain SDAS ke beberapa daerah, di akhir-akhir episode serial ini, semakin memperkuat kemungkinan ini. Tinggal kesiapan Rano dan kerabat kerja SDAS (waktu itu) untuk kembali menggarap tayangan berdurasi 60 menit, dikurangi banyak iklan ini.
Pencerahan sangat diperlukan untuk menggarap kembali SDAS, jika tak hendak terjebka ke dalam pemaksaan dan pengulangan yang bisa menjadi antiklimaks. Kejenuhan produksi marathon, (waktu itu) akan segera berbias ke kualitas sinetron. Terutama baut Rano yang menjadi produser sekaligus sutradara SDAS.
Andai SDAS tak berlanjut pun, (waktu itu) masih bisa dipahami. Mengingat, pensiun di puncak kejayaan jauh lebih “terhormat”, ketimbang diteruskan tapi tersaruk-tersaruk. Betapapun, si Doel (waktu itu) masih akan menjadi idola dalam hitungan tahun. Setidaknya, sebelum lahir tokoh (televisi) baru yang betul-betul melebihi si Doel, melebihi romantisme-romantisme bersahaja yang ditawarkan SDAS.
Ditulis oleh: Ferry Ferdinand
Dok. Citra – No. 262/V/3-9 April 1995, dengan sedikit perubahan
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar