OPINI: MENGUJI STASIUN TELEVISI INDUSTRI
DI ruang studio sebesar kurang lebih 500 meter persegi, hampir sebesar studio 1 RCTI (Kebon Jeruk, Jakarta-red), atau lebih besar sedikit studio 7 TVRI (Senayan, Jakarta-red), dan sama besar dengan studio 7 Indosiar (Daan Mogot, Jakarta-red), empat produksi sinetron cerita (drama) tengah diproduksi berbarengan.
Kru produksi tak begitu terlalu mempermasalahkan apakah ada teknik lampu yang bocor atau kabel yang sempat tertangkap kamera. Bahkan mungkin kurang sempurnanya ‘make up’ artis. Mereka terus melakukan pengambilan gambar. Kadang dilakukan berulang kali (‘retake’), kadang sekali ambil langsung jadi.
Kerja atau set panggugn hanya dipisahkan bilik-bilik triplek dengan dekor yang memang sesuai dengan ‘setting’ certain. Kadang suara gedebag-gedebug bilik sebelah masih terdengar (waktu itu). Namun, pekerja sinetron ini terus saja mengambil gambar.
‘Cue’ demi ‘cue’ (aba-aba) berkali-kali terdengar. Begitulah yang penulis bacaan ini (Aris Muda Irawan, wartawan tabloid Citra) saksikan, saat meninjau staisun televisi Asian Television Entertainment (ATVE) atau yang di sini dikenal sebagai ATV Hongkong.
Kerja mereka seakan tak terputus. Menurut pemandu Citra, Felix Lai, setelah 8 jam syuting, satu set produksi yang tengah digunakan, (waktu itu) akan segera dibongkar dan (sudah disiapkan lagi ‘set’ panggung untuk judul sinetron lain. Sementara pemain maupun kru pendukugn sinetron yang siap mengisi, mulai dari sutradara, penata kamera, hingga kru lampu (waktu itu) sudah mempersiapkan diri. Mereka masuk begitu jam atau jadwal kerja mereka masuk.
Benar-benar mirip kinerja sebuah mesin. Itu sebabnya, stasiun televisi seperti ATVE ini tak pernah kekurangan produksi (sampai saat itu). Hebatnya lagi, seperti halnya produk industri, nyaris 100% semua produksi dikerjakan sendiri oleh stasiun yang dulunya (jauh sebelum 90an-red) milik negara ini.
Dengan jumlah pekerja sebanyak 3.000 personil, bukanlah hal yang sulit memutar kelangsungan produksi. Bandingkan dengan jumlah karyawan RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) yang (saat itu) berjumlah kurang lebih 700 orang, atau TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) yang (waktu itu) hampir 500 orang, atau ANteve (Andalas Televisi) yang (sampai saat itu) cuma 350-an orang. Sementara Indosiar (waktu itu) memiliki jumlah karyawan sebanyak 1.050-an karyawan.
Dengan jumlah karyawan yang berjumlah 3.000 orang tersebut, jangan dikira gerak ekspansi mereka lamban. Buktikan saja, berupa jumlah sinetron ATVE yang diputar di stasiun swasta di negeri ini? TPI saja memiliki Drunken Fist, Kungfu Master, dan Justice Bao yang (sampai saat itu) masih diputar, atau Judge Bao dan Taichi Master yang pernah diputar RCTI, atau Reincarnated II yang (waktu itu) tengah Anda nikmati di layar SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia). Kesemuanya itu merupakan produk ATV.
Judul-judul tersebut merupakan sebagian kecil judul yang diakuisisi oleh distributor atau pengelola stasiun di negeri ini. Daftar tersebut (waktu itu) akan bertambah panjang manakala judul-judul di ‘rental video’ juga dihitung. Memang sebagian besar merupakan sinetron laga atau silat.
MEMANG luar biasa sekali jumlah produksi yang telah mereka hasilkan. Kalaupun ada negara yang berhasil meniru pola produksi stasiun televisi Hongkong ini, bisa disebut beberapa negara penghasil telenovela. Meksiko, Brazil, dan Venezuela merupakan tiga besar produsen telenovela yang sukses dalam industri televisi.
Lalu, bagaimana dengan negeri ini? Apakah sudah layak produk televisi dijadikan komoditi industri? Tentunya produk-industri dalam arti luas? Dikatakan luas, karena “ia” mencakup kapasitas dan pola-pola yang mewarnai kerja industri.
Fenomena munculnya Indosiar Visual Mandiri (IVM) adalah wujud dari keinginan untuk melahirkan televisi industri tersebut. Keinginan untuk melakukan produksi secara ‘in-house’. Semua produksi, baik sinetron cerita maupun non-cerita, rencananya (waktu itu) hendak diproduksi sendiri. Mulai dari pekerja artistik, ‘wardrobe’ (urusan kostum), artis, hingga sutradara ada di stasiun ini.
Bahkan rencana-rencana untuk membentuk ‘pool-artist’ dengan menogntrak sejumlah artis selama 2 tahun. Juga adanya semacam bank naskah (‘scriptwriter’) yang siap memasok segala macam cerita sinetron dan segala bentuk tayangan televisi, merupakan keinginan untuk mewujudkan produk televisi industri tersebut.
Pola-pola produksi seperti yang dilakukan oleh ATVE Hongkong yang Citra saksikan telah dilakukan oleh Indosiar. Kinerja yang cukup tinggi dimaksudkan untuk menghindari pemborosan dan menunjang efisiensi. Dan dari beberapa judul sinetron yang (sampai saat itu) sudah ditayangkan Indosiar, seperti misalnya Pondok Pak Djon, juga beberapa paket-paket ‘variety show’-nya mengikuti pola kerja televisi industri ini.
Begitu juga menyangkut pola tayangan Indosiar. Tayangan serial (bersambung) ditayangkan setiap hari. Penonton tak perlu menunggu selama seminggu untuk menyaksikan episode selanjutnya. Bandingkan dengan tayangan telenovela yang juga nyaris disiarkan tiap hari.
Di Brazil, Meksiko maupun Venezuela, telenovela bisa disaksikan setiap hari. Perhatikan juga opera sabun ‘made-in’ Amerika, Another World (di Indonesia diputar RCTI-red) maupun The Bold and The Beautiful (di Indonesia diputar TVRI Programa 1-red) ditayangkan setiap hari. Sebagai produk industri, pengelola televisi seperti ATVE ini tak pernah takut akan kekurangan produksi. Pola kerja atau pola produksi televisi industri akan selalu siap menyajikan paket-paket tayangan terbaru.
Berapapun jumlah episode yang hendak diproduksi pun sudah
bisa disiapkan ‘dummy’ atau contoh tayangan bisa dalam berbagai versi dan
beberapa seri. Satu studio bia digunakan untuk beberapa judul sinetron dalam
produksi merupakan wujud konsistensi dari suatu produk industri.
Lalu, bagaimana dengan kualitas tayangan dari produk
televisi industri? Diakui atau tidak, secara kualitas memang tidak bisa
dibandingkan dengan tayangan yang sengaja diproduksi dengan sentuhan ‘art’. Itu
sebabnya, NARAS, pantap-nya Emmy Award, harus memisahkan kategori penjurian
untuk kelompok opera sabun dengan sinetron yang diproduksi dengan sentuhan
‘art’.
TAPI, pendapat yang menyatakan, nantinya penonton takkan peduli lagi dengan yang namanya teknis. Penonton (waktu itu) akan melihat tayangan sebagai produk yang lebih nikmat kalau melihatnya dari sisi cerita. Dengan kata lain, cerita suatu tayanganlah yang (waktu itu) akan dinikmati penontonnya. Ekstrimnya, mereka takkan peduli dengan yang namanya kesalahan teknis dari produksi sinetron.
Produk telenovela, opera sabun, maupun sinetron laga (kungfu) merupakan bukti yang memperkuat kecenderungan tersebut. Bila Anda berada di Hongkong, (waktu itu) cari saluran ATVE atau stasiun televisi yang lebih hebat lagi, TVB. Tayangan televisi sebagai produk industri (waktu itu) akan jelas sekali terasakan. Kultur masyarakat Hongkong yang sangat industrial merupakan pemberi “warna” dari produk televisi industri.
Lalu, bagaimana pula dengan stasiun televisi negeri ini? Pola produksi mana yang sebenarnya bisa diterima? Indosiar (IVM) merupakan contoh stasiun yang meraskan betapa alotnya untuk mengkondisikan televisi sebagai produk industri di negeri ini. Banyak kendala yang harus dihadapi.
Misalnya saja, soal kontrak terhadap artis, Indosiar (waktu itu) masih menghadapi berbagai dilema. Stasiun televisi dengan kinerja televisi industri ternyata tidak sanggup menghadapi pola kerja sumber daya yang dimiliki artis lokal. Itu sebabnya, benturan kepentingan sering terjadi di awal-awal persiapn berdirinya Indosiar.
Pada akhirnya, setelah lima bulan berjalan, Indosiar sedikit demi sedikit harus menyesuaikan dengan pola kerja sumber daya yang ada. Jumlah artis yang dikontrak oleh dua stasiun Hongkong, ATVE dan TVB sangatlah besar jumlahnya. Nyaris seperlima dari keseluruhan karyawan yang ada. Hitung saja bila karyawan ATVE Hongkong berjumlah 3.000 orang. TVB tentunya jauh lebih besar lagi.
Begitu juga menyangkut rencana ‘in house’, yaitu dengan memproduksi keseluruhan paket tayangan pun harus menyesuaikan. ‘Production-house’ (belakangan itu) banyak bermitra dengan Indosiar. Terbatasnya jumlah materi terpaksa harus lebih banyak dilakukan melalui akuisisi atau pembelian program dari luar. Sangat berbeda dengan kondisi ATVE atau TVB Hongkong.
Yang bisa dicatat sebagai kisah sukses sebagai televisi industri adalah pola tayangan Indosiar. Meski bukan yang pertama di sini, Indosiar menayangkan serialnya seminggu rata-rata lima kali. Dan terbukti sukses. Tokyo Love Story, Just The Way We Are untuk produk luar, dan Pondok Pak Djon untuk menyebut tayangan lokal, merupakan contoh keberhasilan pola tayangan tersebut.
Melihat kenyataan di atas, bukan berarti televisi industri tidak bisa berjalan di sini. Memang, secara keseluruhan (waktu itu) masih perlu penyesuaian. Indosiar yang sudah mengalami kenyataan tersebut di atas, tentunya (waktu itu) akan mencoba melakukan penetrasi yang lebih lunak untuk tetap mengkondisikan televisi industrinya.
Toh keberhasilan meraup iklan dalam jumlah besar di awal-awal siarannya hingga saat itu (April 1995-red) harus ditindaklanjuti. Kesempatan menuju televisi industri (kala itu) sudah terbuka. Nasihat agar Indosiar lebih membumi, mengikuti kultur masyarakatnya adalah pilihan terbaik? Bagaimana, Indosiar?
Dok. Citra – No. 262/V/3-9 April 1995, dengan sedikit perubahan

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar