OPINI: ANAK-ANAK, KARTUN, PIZZA
ANAK-ANAK (era itu) adalah primadona dalam dunia televisi. Setiap pembicaraan mengenai dampak (negatif) televisi tidak bisa melepaskan diri dari anak-anak (era itu). Sebagai aset masa depan, anak-anak (era itu) memang dipercaya oleh semua pihak untuk diperhatikan perkembangannya. Tidak terkontrolnya moral anak-anak masa 90an (televisi disinyalir punya kontribusi besar akan hal ini) adalah isyarat malapetaka di masa depan.
Tapi sialnya, anak-anak (era itu) adalah aset konsumen fanatik potensial ketika dipandang dari menara perekonomian. Siapa menguasai gaya hidup anak-anak (angkatan 90an) adalah keuntungan di masa depan (juga di masa 1995). Maka berbagai acara televisi pun dibuat untuk menarik perhatian mereka, tanpa mempedulikan (tak terpedulikan dalam bahasa bisnis) kebutuhan informasi yang sesuai dengan jiwa anak.
Dan televisi adalah media yang dapat menarik perhatian anak-anak (era itu) berjam-jam. (Menurut penelitian Barry, 1993, di Amerika, anak – era itu – usia – waktu itu – 2-11 tahun menonton TV rata-rata 28 jam per minggu). Di depan layar kaca itu, anak-anak (era itu) dapat mewujudkan “impiannya” dengan “tanpa menyisakan imajinasi”.
Dengan begitu, tentu pengaruh apa yang ditampilkan televisi
sangat dominan dalam kepal aanak-anak – era itu – (penontonnya). Berbaga
penelitian yang menguatkan kepercayaan akan adanya “dosa-doas” televisi,
mendorong berbagai diskusi, seminar, dan pembicaraan ilmiah lainnya, membahas
“intervensi acara televisi di kepala anak-anak (era itu)”.
Parahnya, berbagai acara televisi (gagasan, peran, suara, imajinasi), karena sifatnya yang satu arah, hanya dapat diterima, tanpa memberi kesempatan untuk melawan. Dan seperti teori ‘agenda setting’, apapun yang terus-menerus diterima, akan membentuk citra tersendiri.
Pada anak-anak (era itu), penerimaan informasi itu tanpa dibarengi dengan daya kritis untuk berpikir rasional seperti orang dewasa – era itu – (meski ada aliran yang menyatakan anak-anak – era itu – bukan “anak kecil” yang tidak punya opini, tapi sebagai “orang dewasa kecil” dengan selera dan opini sendiri).
Berkaitan dengan ini, Asti B. Larasati (seorang ibu rumah tangga) bercerita di sebuah taman kanak-kanak (TK) – era itu – ada anak-anak (masa itu) yang mencari “kura-kura ninja” (karakter dalam film seri tayangan TVRI Programa 1-red) di kolam TK tersebut, meski sudah diyakinkan oleh gurunya bahwa tokoh itu tidak ada pada kenyataannya.
Juga ada anak laki-laki (era itu) yang datang ke sebuah toko untuk membeli pembalut wanita merek “X” (Kompas, 20/3/1995). Ini menandakan bahwa sebagai “calon orang dewasa”, anak-anak (era itu) bisa dibentuk apapun, sesuai dengan cerita dan imajinasi yang diterima dan diimpikannya.
KEKERASAN dan seks adalah dua kata yang sering dikhawatirkan
para pengamat pertelevisian. Sepanjang hari, adegan kekerasan dan seks adalah
bumbu tersendiri di layar televisi. Tanpa itu, sepertinya televisi kehilangan
daya tariknya. Sialnya, adegan-adegan mendebarkan itu tidak hanya ditonton oleh
orang dewasa, tapi juga oleh berjuta-juta anak-anak (era itu) yang tidak
mendapat sensor orangtuanya (lingkungannya).
Khusus untuk adegan kekerasan, anak-anak (era itu) tidak
hanya mendapatkannya dari acara untuk orang dewasa, tapi juga dari acara yang
diperuntukkan baginya. Film kartun yang dibuat khusus untuk mereka disinyalir
“menddekatkan” anak-anak (era itu) dengan kekerasan. Ksatria Baja Hitam, Saint
Seiya, Power Ranger (ketiganya diputar RCTI-red), Astro Boy (SCTV), dan yang
lainnya, memberikan citra bahwa kekerasan mesti dilakukan untuk menumpas
“kejahatan”.
Cerita kejahatan harus kalah dan kebaikan harus menang
memang menjadi moral utama dalam setiap film kartun. Tapi itu hanya ada di alam
imajinasi. Ketika alam realitas membeberkan bahwa kejahatan dan kebaikan sulit
dibedakan, yang tinggal adalah kekerasannya. Kesalahan sekecil apapun, bisa
membawa anak-anak (era itu) untuk melakukan kekerasan seperti “pahlawan”nya.
Ron Slaby dari Universitas Harvard (1994) yang dikutip Asti,
menjelaskan adanya empat macam dampak kekerasan dalam televisi terhadap
kepribadian anak (era itu). Pertama, dampak agresor di mana sifat jahat dari
anak (era itu) semakin meningkat.
Kedua, dampak korban di mana anak (era itu) semakin penakut
dan semakin sulit mempercayai orang lain. Ketiga, dampak pemerhati di mana anak
(era itu) semakin kurang peduli terhadap kesulitan yang dialami orang lain.
Keempat, dampak nafsu di mana keinginan anak (era itu) untuk melihat dan
melakukan kekerasan semakin meningkat.
Dengan gaya khas, kita lalu menuding ketidakidealan dari film kartun sebagai media “pendidikan, penerangan, hiburan, dan informasi” bagi anak-anak (era itu) itu karena film kartun dibuat orang lain (luar negeri). Sebagian orangtua malah khawatir tokoh-tokohnya (seperti Gatotkaca, Arjuna, Sangkuriang, Malin Kundang, Ande-Ande Lumut, dsb.) kalah populer dibanding Doraemon, Candy-Candy (keduanya diputar RCTI-red), Casper (TPI), dsb.
Jadilah film kartun adalah tontonan yang banyak dihujat.
Mengapa tidak ada film kartun bikinan kita sendiri yang akan lebih ideal? Yang
punya moral dan dasar budaya tinggi nenek moyang? Maka film kartun bikinan
Indonesia pun dibuat. Ada Satria Indonesia yang ditayangkan TPI (Televisi
Pendidikan Indonesia) tiap hari Minggu pukul 08.00 WIB.
Juga ada film kartun wayang (dengan tokoh Burisrawa yang dibuat kocak) yang dibuat PT Potlot Nasional. Betulkah film kartun bikinan kita akan lebih ideal dibanding hasil impor?
BISA jadi, hujatan terhadap film kartun bukan persoalan moral. Sepengalaman kita, hujatan terhadap sesuatu yang “luar” selalu (hampir) tidak bisa diikuti dengan infiltrasi kualitas. Hujatan itu hanya sampai pada kebanggaan saja. Kita merasa menjadi bangsa yang kerdil bila tanpa tokoh populer pribumi yang hidup dalam pikiran. Selebihnya, kita sering mengabaikan kesempatan.
Sebenarnya, ada kerugian mendasar ketika hanya tokoh-tokoh “luar” saja yang dikenal anak-anak (era itu). Karena secara ekonomi, tokoh-tokoh itu membawa gaya hidup tersendiri. Tapi, terpikirkankah keuntungan dari gaya hidup yang dibawa tokoh idola itu?
Dalam buku Propaganda Baru, seperti yang dituturkan James E. Combs dan Dan Dimmo, propaganda tidak selalu bersifat langsung, tidak selalu jelas, tidak juga dibatasi oleh apa yang kita anggap propaganda. Akan tetapi, pesan bisa menyebar seperti spora yang berhamburan.
Ketika boneka Barbie menjadi mainan terlaris dalam pasar mainan anak-anak (era itu), yang dibawa boneka itu tidak hanya “sendiri”, tapi juga ada gaya hidup yang tercitra dari dirinya. Dalam Barbie, ungkap Combs dan Nimmo, ada ajakan untuk membanggakan tubuh yang langsing bagi seorang gadis, rambut mode terbaru, pakaian yang serba sensual, dsb.
Begitu juga yang dibawa film kartun yang digandrungi anak-anak (era itu) tidak hanya cerita heroik. Tapi bisakah kita memanfaatkan pesan-pesan yang (semula) tidak dituju itu? Film kartun pribumi memang (sampai saat itu) belum berumur panjang. Artinya, (waktu itu) belum bisa dilihat senyatanya. Tapi sepengalaman kita dari kasus yang hampir sama, kita selalu lupa akan dasar hujatan.
Ketika banyak membanjir film televisi “luar” di stasiun televisi kita (juga kasus telenovela dari Amerika Latin itu), sinetron kita yang (sampai saat itu) belum bisa menutup jam tayang televisi malah terperosok pada ‘tuturut munding’.
‘Setting’ mayoritas sinetron kita menampilkan gaya hidup yang menyerupai sinetron ‘import’. Lukisan tentang keluarga kaya (ayah-ibu yang selalu bermobil, anak-anak yang makan pizza, minum cola, ‘shopping’) menjadi sesuatu yang biasa, seolah-olah keluarga seperti itu prototipe mayoritas penduduk di negara kita.
Dengan menampilkan gaya hidup seperti itu, ya jelas (waktu itu) akan membina fanatik-fanatik baru terhadap gaya hidup hedonis seperti itu. Dan bahayanya, seperti kata Napoleon, “Tak ada tempat di kepala seorang fanatik yang bisa dimasuki pikiran sehat.” Artinya, dalam persaingan ekonomi, diam-diam kita malah ikut mempropagandakan berbagai produk impor.
Hal seperti ini juga yang ditakutkan terjadi pada film kartun pribumi itu. Sementara kita menghujat kekerasan dan moral, film kartun kita membawa cerita yang sama, gaya hidup yang sama, kekerasna yang sama. Yang berbeda hanya tokoh-tokohnya saja. Atau mungkin karena ingin mengoptimalkan peran “mendidik, menghibur, menerangkan, menginformasikan”, kasus si Unyil yang selalu penuh dengan pesan-pesan terulang kembali.
Membaca anak-anak memang tidak gampang. Meski semua orangtua pernah mengalaminya, tapi masa lalu itu sulit untuk diterka. Mungkin perlu juga didengarkan kata Rubben Endean (waktu itu – 12 tahun) dalam sidang KTT TV dan Anak di Melbourne (12-17 Maret 1995) yang menyatakan bahwa untuk mengerti anak-anak (era itu), para produser TV harus menjadi anak-anak kembali.
Ditulis oleh: Yus R. Ismail (penulis adalah – waktu itu – mahasiswa jurnalistik Universitas Islam Bandung dan pemimpin redaksi penerbitan Suara Mahasiswa yang juga penyair).
Dok. Citra – No. 265/VI/24-30 April 1995, dengan sedikit perubahan

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar