OLAHRAGA - TIDAKLAH GAMPANG MENYABET EMAS DALAM TINJU PIALA PRESIDEN (SIARAN LANGSUNG, BABAK FINAL/TVRI PROGRAMA 1 - JUMAT, 11 FEBRUARI 1994 Pkl: 20.00 WIB)
MENYELENGGARAKAN suatu ‘event’ secara kontinyu itu tidak
mudah. Tapi, PB PERTINA dengan dana terbatas (waktu itu) masih bisa
menyelenggarakan ‘event’ internasional: Tinju Piala Presiden. Ini perlu
disambut gembira mengingat kita sendiri kekurangan petinju yang punya kelas.
Maka perlulah didukung petinju kita yang berlaga di arena Tinju Paila Presiden
(berlangsung 6-11 Februari 1994 di lapangan Tenis II Senayan).
PB PERTINA sendiri (waktu itu) akan menurunkan 3 tim. Yaitu tim Keris, Panah, dan Perisai untuk menghadapi petinju-petinju tangguh dari 21 negara. Nah, apakah petinju kita itu (waktu itu) akan mampu meraih emas esbanyaknya dan sekaligus menjadi juara umum seperti tahun 1992 lalu?
Perlu diketahui, petinju kita yang meraih emas tahun 1993 lalu: Albert Papilaya, Hendrik Simangunsong, dan Moch. Arsyad tidak turun. Albert Papilaya dan Arsyad (waktu itu) masih cedera. Jadi perjuangan untuk merebut medali emas memang berat. Tapi bukan berarti tidak bisa. Masih ada petinju berbakat Nemo Bahari dan Aswin Cabui yang (saat itu) baru saja merebut medali perak di kejuaraan Asia.
Selain itu, (saat itu) masih ada Nelson Oil, Herri Makawimbang, Pino Bahari, dan Ivan Byoh. “Saya harapkan dan menjadi tekad kita untuk mempertahankan gelar. Makanya, jauh-jauh hari mereka kita siapkan. Sekarang (1994-red) siap tempur,” kata ketua umum PB PERTINA, Mayjen Paul Toding Aslog Kasad.
Para petinju itu digodog di tiga kota Jakarta, Semarang, dan Denpasar sejak November tahun 1992 lalu. Awal Januari 1993, para petinju itu diseleksi, lalu diikutkan Pelatnas di Bogor dan Jakarta. Tentang tidak ikutnya penju Albert, Hendrik, dan Arsyad, Mayjen Paul Toding mengatkaan memang bukan masalah. “Kita siapkan petinju lain dan tak perlu menurunkan semangat. Justru itu saya harapkan petinju lain akan tampil lebih semagnat,” tambah Paul Toding.
Ketika ditanyakan tentang petinju yang (waktu itu) bakal meraih medali emas, ketua harian PB PERTINA Kolonel Imron ZS mengatakan, “Saya kira kalau dijelaskan di sini tidak etis. Soalnya, akan menurunkan semangat petinju lain. Saya kira kualitas ketiga tim ini sama. Semuanya punya peluang. Dan perlu ditambahkan bahwa keberhasilan tak hanya diukur dari hasil yang dicapai, tapi dilihat dari banyaknya negara peserta yang iktu.”
Kalau tim Indonesia menurunkan tiga tim, maka khusus Jepang menurunkan dua tim. Sebenarnya soal ini tidaklah boleh dalam peraturan. Ya karena Jepang meminta untuk uji coba. Sebab petinjunya (waktu itu) bakal terjun ke Asian Games.
“Saya kira itu wajar, soalnya Jepang sebagai tuan rumah Asian Games. Untuk itu kita minta pertimbangan presiden AIBA (presiden direktur-red), Anwar Chowdry. AIBA membolehkan. Jdai kita memperbolehkan Jepang menurunkan dua timnya,” jelas Imron ZS.
Ditulis oleh: Al Idi Pranoto
JIKA DUA TIM PAPAN ATAS TAK MENGENAL JEMU (SIARAN LANGSUNG COPA ITALIA, RCTI – RABU, 9 FEBRUARI 1994 Pk: 02.30 WIB)
RENCANANYA RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) – waktu itu – menayangkan langsung babka semifinal Copa Italia. Seperti diketahui Copa Italia (waktu itu) sudah menginjak babak semifinal dan meloloskan 4 tim yaitu Sampdoria, Parma, Ancoma dan Torino sebagai juara bertahan.
Dalam babak semifinal ini Sampdoria (waktu itu) akan berhadapan dengan Parma dan Ancona menantang Torino. Kalau pertandingan antara Parma melawan Sampdoria berlangusng hari Selasa, 8 Februari 1994 waktu Italia, maka pertandingan antara Ancona melawan Torino berlangsung hari Rabu, 9 Februari 1994.
Sebenarnya, RCTI (waktu itu) akan menayangkan dua partai itu, tapi berhubung, waktunya terlalu dekat maka terpaksa hanya partainya Sampdoria dan Parma yang (waktu itu) akan ditayangkan. Seperti diketahui babak semifinal menggunakan sistem ‘home and away’ dan Sampdoria (waktu itu) akan menjamu duluan Parma. Kalau dua tim papan atas Liga Italia ini bertemu, maka penonton tak akan jemu.
Betapa tidak, dua tim ini tentu akan menampilkan suatu permainan yang memikat. Jadi bukan hanya sekadar menyarangkan gol saja. Perlu diketahui baik Smapdoria maupun Parma punya materi pemain kelas dunia dan nama-namanya pasti sudah begitu akrab di telinga penggemar sepakbola tanah air. Parma sendiri punya pemain depan yang maju pesat, Faustino Asprilla.
Bukan tidak mungkin pemain asal Kolombia ini (waktu itu) akan merajalela di Piala Dunia AS 1994 nantinya. Dan ada juga pemain tengah Thomas Brolin, Massimo Crippa, dan Giancario Zola. Para pemain itulah yang menjadi tulang punggung Parma merebut Piala Winners 1993.
Dan hebatnya dalam perebutan Piala Super Eropa – yang mana mempertemukan jaura Piala Winners dan juara Piala Champions, yaitu AC Milan (yang menggantikan Marseille), Parma harus kalah 1-0 dalam pertandingan di kandang sendiri. Namun, mampu mengalahkan AC Milan di kandang lawan dengan skor 2-0 dan sekaligus Parma meraih Piala Super Eropa.
Sedangkan Sampdoria yang pernah juga juara Piala Winners ini, (belakangan itu) diperkuat Ruud Gullit yang dibuang dari AC Milan. Justru prestasi Ruud Gullit (belakangan itu) makin melejit dan menggigit. Gol demi gol lahir dari kakinya – yang selam adi AC Milan sering di bangkucadangkan.
Selain itu Sampdoria juga punya gelandang andal David Platt dan Roberto Mancini. Tiga sernagkai ini terbukti cukup ampuh untuk memporandakan pertahanan lawan. Apalagi mereka punya pemain lain, Atilio Lombardo, yang begitu agresif mendobrak lawan. Nah, siapakah yang (waktu itu) akan keluar sebagai pemenangnya? Kita (waktu itu) tonton bersama, yuk!
Ditulis oleh: Al Idi Pranoto
Dok. Citra – No. 202/IV/7-13 Februari 1994, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar