OLAHRAGA - PERTANDINGAN REGULER NBA, SUNS VS SONICS: "KESEMPATAN MENGUJI ROOKIE ANDALAN SUNS" (RCTI – MINGGU, 16 APRIL 1995 Pk: 13.00 WIB)
DARI data statistik persentase menang-kalah dua tim, Phoenix Suns dan Seattle Supersonics ini tak jauh beda. Untuk wilayah barat dua tim ini (waktu itu) berada di urutan 2 dan 3. Dengan demikian, sampai pertandingan ke-75 ini, dari wakil 8 tim wilayah barat, keduanya (saat itu) sudah bisa dipastikan maju ke babak ‘play-off’.
Dari lima pertandingan terakhir (belakangan itu), dua tim ini masih tetap tampil cemerlang. Semakin membaiknya kondisi pemain asal Kroasia, Sarunas Marciulionis dan Sam Perkins, membuat kubu Sonics sedikit bisa lebih berharap untuk memenangkan pertandingan yang (waktu itu) akan berlangsung di Tocomo Dome, kandang Sonics.
Ada satu kondisi yang kadang sulit diphaami dari ‘squad’ anak asuhan George kali ini. Di babak awal pertandingan Sonics selalu menggebu, ngotot untuk menang. Namun begitu pertandingan sudah berlangsung, kondisi mereka cepat turun. Ini juga mewarnai seluruh pertandingan yang dijalani Sonics selama satu musim kompetisi.
Buktinya, Dikembe Mutombo dan kawan-kawan (Denver Nuggets) dengan mudah menyingkirkan di babak pertama ‘play-off’, musim kompetisi tahun 1994/1995 lalu. Padahal, ‘squad’, Detlef Schrempf, Gary Payton, Shawn Kemp saat itu memiliki persentase menang kalah terbaik untuk wilayah barat. Jauh lebih baik dibanding Nuggets.
Meski kondisinya tak jauh beda dengan tahun 1994/1995 lalu, setidaknya Sonics (waktu itu) masih bisa berharap maju ke babak kedua ‘play-off’. Kalau posisi ketiga (waktu itu) masih terus bertahan, kemungkinan (perkiraan waktu itu) babak pertama ‘play-off’ Sonic (waktu itu) akan bertemu Houston Rockets.
Untuk urusan ‘blockshot’, Sonics dikenal tangguh. Begitu juga urusan ‘rebound’, baik ‘defensive’ maupun ‘offensive’. Pilihan ‘strating five’ andalna George Karl tentulah masih Detlef Schrempf dan Shawn kemp sebagai ‘forward’, Sam Perkins atau Bill Cartwright sebagai 'center’. Sarunas serta Gary Payton posisi ‘guard’.
Phoenix Suns, kalau posisinya tetap di posisi kedua, di babak ‘play-off’ (perkiraan waktu itu) kemungkinan besar bakal bertemu Portland Trailblazers. Meski (waktu itu) telah ditinggal Clyde Drexler, tetaplah sebagai tim tangguh. Blazers yang dikenal selalu telat panas, bisa jadi (perkiraan waktu itu) mampu menjegal ambisi Barkley dan kawan-kawan.
Yang menarik dari Suns saat itu adalah semakin bersinarnya ‘rookie’ tim ini, yaitu Wesley Person (‘guard’). Pemain yang dijuluki ‘Seet P’ ini (waktu itu) mulai menunjukkan kelasnya. Bahkan Danny Ainge, Barkley, Wayman Tisdale, maupun AC Green begitu banyak memberi kesempatan kepada adik Chuck Person (Spurs) ini. Penampilan Wesley Personcukup eksplosif. Dan gaya seperti inilah yang dibutuhkan Paul Westpahl untuk timnya.
Pertandingan ini sebenarnya berlangsung 12 April 1995 waktu Seattle. Kalau ingin mengamati gaya permainan Wesley Person, (waktu itu) amati pemain berkaos nomor 11.
Ditulis oleh: Aris Muda Irawan
PERANG BINTANG DAN TENDANGAN PENALTI TERMAHAL
Salah satu aksi di Liga Dunhill
BELUM lama (waktu itu) ini, NBA Mania telah dihibur aksi bintang-bintang NBA dalam NBA All Stars Game lewat layar RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). Belakangan itu, giliran penggemar sepakbola (saat itu) akan digoyang bintang-bintang Liga Dunhill dalam acara Perang Bintang di stadion utama Senayan, Minggu, 23 April 1995 jam 16.30.
Ada kemiripan antara NBA All Stars Game dengan Perang Bintang, yaitu dalam cara pemilihan pemainnya. Dalam Perang Bintang ini, masyarakat juga dilibatkan dengan cara memilih angket. Menurut ketua komisi pertandingan Liga Dunhill, Max Boboy, masyarakat bebas memilih pemain favoritnya dari grup barat dan timur di Liga Dunhill sebanyak 11 pemain, termasuk 4 pemain asing.
Pemain itu terdiri dari 1 penjaga gawang, 4 pemain belakang, 4 pemain tengah, dan 2 pemain depan. Selain itu, masyarakat juga diperbolehkan memilih 1 pelatih dari grup barat dan timur. “Pelatih tim mana saja bleh dipilih dari grup barat dan timur, minus Romano Matte dan Andi Teguh yang merupakan pelatih nasional,” jelas Max.
Masyarakat diminta menulis hasil pilihan pemain dan pelatih itu dalam sehelai kartu pos dan dikirimkan ke PO Box 2035 Jakarta 10023. Kartu pos paling lambat harus sudah diterima 15 April 1995 (cap pos). Satu kartu pos hanya berlaku untuk nama-nama pelatih dan pemain dari stau grup (grup barat saja atau grup timur saja). “Pelatih terpilih dari grup barat dan grup timur diberi hak untuk memilih 7 pemain tambahan sebagai cadangan,” tambah Max Boboy.
Uniknya, Perang Bintang ini dibanjiri hadiah uang dna mobil. Bagi 20 pemenang undian dari akrtu pos (waktu itu) akan mendapatkan hadiah hiburan Rp 500.000. Sebagai pemenang utamanya (waktu itu) akan mendapatkan kesempatan melakukan “tendangan penalti termahal di dunia”.
“Bagi pemenang utama yang bisa memasukkan gol ke gawang yang dijaga, kiper akan mendapat hadiah mobil Daihatsu Feroza. Sebaliknya bila gagal, maka penjaga gawang yang beruntung memperoleh uang tunai Rp 5 juta,” jelas Jeanette, promotor dari Cipta Citra Sports.
Eksekusi tendangan penalti tersebut (waktu itu) akan dilaksanakan menjelang pertandingan Perang Bintang yang (kala itu) akan ditayang langsung TVRI Programa 1/ANteve (Andalas Televisi).
Pemenang (waktu itu) akan dihubungi dan didatangkan ke suatu tempat rahasia di Jakarta untuk mendapatkan latihan khusus melakukan tendangan penalti dari mantan algojo penalti terbaik Indonesia. Sementara itu penjaga gawang terpilih (dari pilihan masy.) yang (waktu itu) akan berdiri di bawah mistar pada saat eksekusi dilakukan, (saat itu) baru akan ditentukan pada saat-saat terakhir melalui undian.
“Selama masa persiapan, nama dan keberadaan pemenang angket akan dirahasiakan sedemikian rupa, untuk menciptakan ‘suspense’ tersendiri. Hanya kru TV yang akan membuat dokumentasi untuk kebutuhan siaran langsung yang mendapat kesempatan mengikuti persiapan tersebut,” tambah Jeannette (waktu itu).
Sementara itu, bagi penonton Perang Bintang di stadion utama Senayan Jakarta juga (waktu itu) punya kesmepatan melakukan “tendangan penalti termahla di dunia”. Pada saat istirahat pertandingan, seluruh karcis masuk (waktu itu) akan diundi untuk memilih satu pemenang yang berhak melakukan tendangan penalti.
Penjaga gawang yang (waktu itu) akan dihadapi juga (ketika itu) akan dipilih dengan undian. Bila tendangan penalti berhasil, maka hadiah mobil Daihatsu Feroza jadi miliknya. Bila gagal, penjaga gawang (waktu itu) akan mendapat uang tunai Rp 5 juta. Hayo, siapa (waktu itu) berminat mengikutinya?
Ditulis oleh: Al Idi Pranoto
JADWAL SIARAN LANGSUNG
RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia):
Kamis, 13 April 1995 Pk: 02.00 WIB
Sepakbola Copa Italia
Minggu, 16 April 1995 Pk: 21.00 WIB
Sepakbola Liga Italia
SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia):
Sabtu, 15 April 1995 Pkl: 22.00 WIB
Sepakbola Liga Inggris (Leeds United vs Blackburn Rovers)
ANteve (Andalas Televisi):
Minggu, 16 April 1995 Pkl: 15.30 WIB
Sepakbola Liga Dunhill
Dok. Citra – No. 263/V/10-16 April 1995, dengan sedikit
perubahan





Komentar
Posting Komentar