OLAHRAGA: MEREKA JUGA BERJUANG DI BARCELONA

 Kiri ke kanan (atas): Herman, France, Damaidi, Budi, Max, Taufiq. (bawah): Marwan, Hennu, Lukman

KALAU nantinya Anda menyaksikan tayangan TVRI dalam pentas Olimpiade Barcelona 1992, orang-orang inilah para dalangnya. Mereka langsung terjun di lapangan dan melaporkan segala yang mereka peroleh ke layar kaca Anda. Berat tugas mereka, karena harus mempertanggungjawabkan liputan pada pemirsa. Bila jelek, pasti mereka diumpati habis oleh pemirsa.

Bila bagus, biasanya pemirsa lupa siapa para peliputnya. Karena itu, tak kalah dari para atlet, kru TVRI ini boleh dibilang juga berjuang di Barcelona, Spanyol. Bedanya, yang mereka hadapi adalah pemirsa, yang siap mencaci-maki, bila menyajikan liputan amburadul.

Ditulis oleh: Ferry “Pey” Ferdinand

LUKMAN PRAYEKTO

UNTUK Olimpiade Barcelona 1992, pria kelahiran Ngawi, Jawa Timur, 15 Desember 1940, ini bertindak sebagai ‘chef de mission’ alias komandan pasukan kru TVRI. Selain mengurusi program, mas Lulu, panggilan akrabnya, juga menangani faktor non-teknis yang sering terjadi di lapangan.

Di Jakarta, Lukman menjabat koordinator produksi siaran olahraga TVRI. Dengan segudang pengalaman internasional, penggemar nasi pecel ini berjanji memberi yang terbaik. Lukman juga sering mengikuti penataran program siaran olahraga televisi.

MAX SOPACUA

REPORTER yang lahir di Ambon, 2 Maret 1948 ini, terbilang cukup sering menghiasi paket-paket olahraga TVRI (waktu itu). Ia (saat itu) masih akan jadi reporter di Barcelona. Pengalaman Max, yang suka sayur asem, (perkiraan waktu itu) tampaknya juga akna banyak menolongnya dalam melaporkan pertandingan.

Liputan yang paling berkesan, menurut ayah tiga anak (ketika itu) ini, adalah saat Max meliput Asian Games Beijing, 1990. Jika tidak siaran, Max lebih sering menghabiskan waktu bersama keluarga, baik di tempat rekreasi atau sekadar bercengkerama di rumahnya di Bogor, Jawa Barat.

FRANCE DJASMAN

SELAIN Max, reporter yang berangkat ke Barcelona adalah pria kelahiran Jayapura, 21 Oktober 1956 ini. Makan sate kambing dan main tenis merupakan kegiatan si broer (begitu ia lebih suka dipanggil), di luar kesibukannya memandu paket olahraga di TVRI. Pernah mengenyam pendidikan ‘TV sport program’ dan terkesan sekali saat meliput kejuaraan dunia reli awal tahun 1992 ini di Selandia Baru. Semula, Broer agak ragu juga berangkat, karena ia mesti meninggalkan Poppy, putrinya yang (waktu itu) baru berusia 4 bulan.

BUDI UTARSO

DENGAN perangkat yang dibawa dari Jakarta dan yang tersedia di Barcelona, penggemar gado-gado ini bertugas menyunting materi rtayangan yang masuk. Sebelum dikirim melalui satelit, ke Jakarta. Budi sudah terbiasa menyunting materi dalam waktu yang mepet tanpa harus mengurangi kualitas materinya.

Paket pertama yang disunting ayah dua anak (kala itu) yang punya hobi fotografi ini adalah Manasuka Siaran Niaga “almarhum” (sebutan untuk ‘break’ iklan di TVRI ketika belum ada TV swasta-red), sebelum tayangan iklan digusur dari TVRI.

ACHMAD DAMADI

SEBAGAIMANA layaknya sebuah pertunjukan, liputan TVRI di Barcelona pun punya seorang “sutradara.” Jabatan yang di pertelevisian lebih dikenal dengan sebutan “pengarah acara” ini dipegang oleh Damai, ‘arek’ Suroboyo’ kelahiran 18 Maret 1954.

Menyiapkan Siaran Berita – langsung – adalah pengalaman pertama yang tak terlupakan bagi kutu buku ini. Dan bapak tiga anak (saat itu) yang pernah meraih Gatra Kencana bidang reportase berita beberapa tahun sebelum bacaan ini dimuat Citra ini, terkesan sekali saat sukses mengarhakan siaran langsung MTQ di Lampung.

HERMAN SUWOTO

MESKI perangkat keras dan lunak telah dipersiapkan sebelum keberangkatan, tim ini tetap harus menjaga segala kemungkinan. Untuk itulah, agaknya Herman disertakan dalam tim ini. Walau sebagian besar alat yang dibawa dalam (waktu itu) kondisi baru dan baik, petugas pemeliharaan alat yang juga menyertai kru TVRI saat mengikuti lawatan Presiden Suharto ke India, merasa harus tetap telaten dalam menjalankan tugasnya.

Herman, yang hari jadinya bertepatan dengan ulang tahun TVRI ini, pernah mengecap pendidikan di bidangnya, antara lain di Jerman dan Hongkong. Herman tak pernah bisa lupa – saat pertama bertugas – ia ditinggal begitu saja oleh seniornya untuk membetulkan kamera yang rusak.

MARWAN

DALAM tim, kepala seksi pengendalian operasional TVRI ini, bertindak sebagai pimpinan teknik. Lingkup kerjanya mulai dari mengurusi penyediaan sarana hingga pengiriman gambar. Di Barcelona, penggemar ikan bakar ini lebih banyak berhubungan dengan pengarah acara dan kru teknik lainnya.

Meski tidak menutup kemungkinan pria kelahiran Medan, 1 Mei, melapis pekerjaan rekannya, seperti yang sering ia alami selama bertugas baik di lingkup nasional maupun internasional. Marwan yang pernah mengikuti ‘training’ di Jerman, punya hobi yang tak jauh dari profesinya, elektronika.

TAUFIQ BADRANI SELAYAN

‘URANG awak’ kelahiran Bukittinggi, 28 November 1949, ini merupakan kru di balik layar dalam arti sesungguhnya. Sebagai kamerawan, ia merupakan orang yang paling dekat dengan obyek. Kamera yang dibawa penggemar bakso dan nasi Padang ini tidak ubahnya mata bagi pemirsa.

Pernah mengikuti kursus AIBD di Kuala Lumpur (1978), pengalaman tugas ke mancanegara pertama, ayah tiga anak – cewek semua – (waktu itu) ini adalah SEA Games XI Manila. Taufiq, yang hobi bulutangkis, menguasai semua jenis kamera yang dipunyai TVRI, terutama jenis ENG (‘electronic news gathering’).

HENNU PRADIPTA

SEPERTI juga Taufiq, ‘news cameraman’ ini adalah ujung tombak penyajian gambar yang jelas dan tentu saja informatif. Hennu memanfaatkan waktu luangnya dengan bepergian dan nonton bioskop.

Tugas pertama yang diemban ‘wong’ Semarang (8 November 1952) ini adalah liputan berita ke Palembang, 1979. Sedangkan yang paling berkesan di hati bapak tiga anak (kala itu) yang doyan sambal ini adalah saat meliput ‘festival of art’ se-Asia Pasifik. Sehubungan dengan pekerjaannya, Hennu acap mengikuti pelatihan dalam dan luar negeri.

Dok. Citra – No. 121/III/22-28 Juli 1992, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer